š» Allah ancam keras orang yang suka mencela dan menggunjing. Karena itu menghancurkan, bukan memperbaiki.
Dalam QS. Al-Humazah ayat 1-9, Allah berfirman:
"Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Tahukah kamu apakah Hutamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang."
(QS. Al-Humazah: 1-9)
Lihat.
"Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela..."
Al-Humazah = pencela dengan lisan.
Al-Lumazah = pengumpat dengan isyarat/sikap.
Allah ancam dengan keras.
"Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah..."
Hutamah = api yang menghancurkan.
Yang membakar sampai ke hati.
Artinya?
Mencela dan menggunjing...
Bukan hal sepele.
Bukan sekadar candaan.
Tapi dosa besar yang diancam dengan azab yang berat.
š» Kamu sibuk mencela orang lain, sampai lupa bahwa kamu juga punya kesalahan yang lebih banyak.
Coba renungkan...
Berapa kali kamu menggunjing kesalahan orang lain hari ini?
Berapa kali kamu mencela keburukan mereka?
Berapa kali kamu merasa paling benar dengan menghakimi?
Dan berapa kali...
Kamu introspeksi diri sendiri?
Kamu perbaiki kesalahanmu sendiri?
Kamu melihat keburukanmu sendiri?
Rasulullah ļ·ŗ bersabda:
"Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?" Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda: "Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka." Ditanyakan: "Bagaimana jika yang aku sebutkan itu memang ada pada saudaraku?" Beliau menjawab: "Jika yang engkau sebutkan itu memang ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya. Dan jika yang engkau sebutkan itu tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya."
(HR. Muslim)
Artinya?
Menyebutkan keburukan orang lain...
Meski itu benar...
Tetap ghibah.
Tetap dosa.
Jadi berhenti merasa benar.
š» Jangan ukur kebaikanmu dari seberapa buruk orang lain. Tapi dari seberapa baik kamu memperbaiki diri.
Aku paham...
Kadang yang paling sulit bukan tidak mencela.
Tapi menahan diri saat melihat kesalahan orang lain.
Kadang yang paling berat bukan tidak menggunjing.
Tapi diam saat orang lain sedang membicarakan keburukan seseorang.
Tapi dengar baik-baik...
Kebaikanmu bukan diukur dari seberapa buruk orang lain.
Tapi dari seberapa baik kamu menjaga lisanmu.
Seberapa bersih hatimu.
Seberapa tulus niatmu.
Dalam QS. Al-Humazah ayat 2-3, Allah sebutkan ciri lain:
"Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."
Artinya?
Orang yang suka mencela...
Biasanya juga sombong dengan apa yang dia punya.
Merasa lebih baik karena lebih kaya.
Merasa lebih tinggi karena lebih sukses.
Padahal semua itu...
Tidak ada yang kekal.
š» Kembalilah pada kesadaran. Setiap kata yang kamu ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Pernahkah kamu berpikir...
Apa yang terjadi dengan kata-kata yang kamu ucapkan?
Apakah hilang begitu saja?
Tidak.
Semuanya dicatat.
Rasulullah ļ·ŗ bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya?
Kalau kamu tidak bisa berkata baik...
Diam lah.
Kalau kamu tidak bisa memberi manfaat dengan lisanmu...
Tutup lah mulutmu.
Karena setiap kata...
Akan dimintai pertanggungjawaban.
š» Jangan sia-siakan lisanmu untuk mencela. Gunakan untuk hal yang membangun.
Hari ini...
Aku ingin kamu tahu satu hal penting:
Lisanmu adalah amanah.
Bukan untuk menghancurkan.
Tapi untuk membangun.
Bukan untuk mencela.
Tapi untuk memberi nasihat dengan bijak.
Bukan untuk menggunjing.
Tapi untuk mendoakan.
Jadi mulai dari sekarang...
Jaga lisanmu.
Gunakan untuk hal yang baik.
š» Kembalilah pada empati. Kamu tidak tahu apa yang orang lain sedang lalui.
Mungkin hari ini kamu masih suka mencela.
Masih suka menggunjing.
Masih merasa paling benar.
Tapi dengar...
Kamu tidak tahu apa yang orang lain sedang lalui.
Kamu tidak tahu ujian apa yang mereka hadapi.
Kamu tidak tahu perjuangan apa yang mereka lakukan.
Jadi berhenti menghakimi.
Mulai berempati.
Kalau kamu tidak bisa menolong...
Setidaknya jangan menyakiti dengan lisanmu.
š» Jangan lelah untuk terus memperbaiki. Karena lisan adalah cerminan hati.
Hari ini, Allah tidak memintamu sempurna.
Dia tidak memintamu tidak pernah salah bicara.
Dia hanya memintamu... sadar.
Sadar bahwa setiap kata akan dicatat.
Sadar bahwa mencela adalah dosa besar.
Sadar bahwa kamu harus jaga lisanmu.
Dan mulai dari sekarang...
Perbaiki.
Sedikit demi sedikit.
š» Jangan sia-siakan hidupmu dengan mencela. Karena kamu akan ditanya tentang itu.
Hari ini...
Ambil napas dalam-dalam.
Peluk dirimu yang sering salah bicara.
Bisikkan pelan:
"Ya Allah, ampuni lisanku yang sering mencela. Ampuni hatiku yang sering menghakimi. Bersihkan jiwaku dari sifat sombong. Dan jadikan lisanku untuk hal yang baik."
Lalu bangkit.
Mulai dari sekarang.
Berhenti mencela keburukan orang lain.
Mulai perbaiki kesalahanmu sendiri.
Berhenti menggunjing.
Mulai mendoakan.
Berhenti menghakimi.
Mulai berempati.
Karena Allah ancam keras...
Bagi yang suka mencela dan menggunjing.
Bukan main-main.
Hutamah.
Api yang menghancurkan.
Yang membakar sampai ke hati.
Jadi jaga lisanmu.
Jaga hatimu.
Jaga sikapmu.
Gunakan untuk hal yang baik.
Untuk hal yang membangun.
Untuk hal yang memberi manfaat.
Bukan untuk menghancurkan.
Bukan untuk menyakiti.
Bukan untuk merendahkan.
Dan ingatlah...
Bahwa kebaikanmu...
Bukan diukur dari seberapa buruk orang lain.
Tapi dari seberapa bersih hatimu.
Seberapa terjaga lisanmu.
Seberapa baik akhlakmu.
Jadi mulai dari sekarang...
Jadilah orang yang baik.
Yang menjaga lisan.
Yang tidak mencela.
Yang tidak menggunjing.
Yang tidak menghakimi.
Tapi yang memberi manfaat.
Yang mendoakan.
Yang berempati.
Karena itulah...
Yang Allah cintai.
"Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati."
(QS. Al-Humazah: 1, 4-6)
š "Jaga lisanmu. Jangan mencela. Jangan menggunjing. Karena Allah ancam keras mereka yang suka merendahkan orang lain. Gunakan lisanmu untuk hal yang baik. Untuk memberi manfaat. Bukan untuk menghancurkan."
Komentar
Posting Komentar