📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
SINOPSIS
Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berakhir dalam sebuah perjanjian dingin. Demi menyelamatkan ibuku yang terbaring sakit dan membutuhkan biaya besar, aku menerima tawaran seorang pria asing yang datang dengan satu syarat: menikah dengannya.
Dia dingin. Berkuasa. Penuh rahasia.
Dan yang paling menakutkan… dia tidak pernah benar-benar menjelaskan siapa dirinya.
Pernikahan itu bukan tentang cinta.
Itu tentang kesepakatan.
Namun semakin lama aku berada di sisinya, semakin aku menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar transaksi. Ada rahasia yang disembunyikan. Ada musuh yang mengintai. Dan ada perasaan yang perlahan tumbuh—di tempat yang seharusnya kosong.
Ketika masa lalu mulai terungkap, aku harus memilih:
bertahan dalam pernikahan penuh kebohongan…
atau pergi, meski hatiku telah terlanjur terikat.
BAB 1 – TAWARAN TAK TERDUGA
Pria itu menatapku seperti sedang membeli sesuatu.
Bukan memandang. Bukan melirik.
Menilai.
Aku berdiri di lorong rumah sakit dengan amplop tagihan di tangan—angka yang tertera di sana sudah cukup untuk membuatku tidak bisa tidur tiga malam berturut-turut. Seratus empat puluh juta. Untuk operasi yang tidak bisa ditunda.
Untuk ibu yang tidak punya waktu menunggu.
"Kamu Rina?"
Suaranya datang dari belakang. Dalam. Berat. Tidak ada basa-basi.
Aku berbalik.
Dia tinggi. Setelan gelap. Rambut rapi seperti tidak pernah berantakan seumur hidupnya. Wajahnya... terlalu tampan untuk seseorang yang berdiri di lorong rumah sakit negeri jam sepuluh malam.
"Siapa kamu?"
"Arka." Dia menyebut namanya tanpa embel-embel. Tanpa jabat tangan. "Kita perlu bicara."
Aku tidak kenal dia.
Tapi anehnya, dia seperti kenal aku.
"Saya tidak punya waktu untuk—"
"Ibumu butuh operasi." Dia memotong kalimatku tanpa ekspresi. "Seratus empat puluh juta. Kamu sudah telepon dua belas orang hari ini. Semuanya menolak."
Dadaku seperti dihantam batu.
"Kamu... ngintip saya?"
"Saya mengamati." Koreksinya datar. "Ada bedanya."
Aku menggenggam amplop lebih erat. Jantungku berdegup tidak karuan. Siapa orang ini? Apa yang dia mau?
"Kalau kamu mau mendengarkan," katanya, "saya punya solusi."
"Solusi macam apa?" Aku tidak bisa menyembunyikan nada curigaku.
Dia melirik ke kanan dan kiri lorong. Sepi. Hanya suara mesin monitor dari balik pintu kamar.
"Bukan di sini."
Ruang tunggu VIP di lantai tiga berbeda seratus delapan puluh derajat dari lorong tadi. Dingin. Bersih. Wangi kayu mahal. Seperti ruang tamu hotel bintang lima yang nyasar masuk rumah sakit.
Arka duduk di sofa dengan cara orang yang terbiasa memerintah ruangan.
Aku duduk di ujung kursi seberang. Punggungku tegak. Tanganku tidak berhenti meremas tas.
"Saya dengarkan," kataku akhirnya.
Dia membuka map tipis di atas meja. Mendorongnya ke arahku.
Di dalamnya: satu lembar dokumen. Satu angka.
Seratus lima puluh juta rupiah.
"Itu lebih dari yang kamu butuhkan," katanya. "Sisanya bisa untuk biaya pemulihan ibumu. Tiga bulan ke depan, tidak usah khawatir apa-apa."
Aku menatap angka itu. Tenggorokanku tiba-tiba kering.
"Dengan syarat apa?"
Dia tidak langsung menjawab. Menatapku sebentar, seperti mengukur sesuatu.
"Nikah dengan saya."
Hening.
Bukan hening biasa. Hening yang terasa seperti lantai tiba-tiba amblas di bawah kakiku.
"Apa?" Suaraku keluar lebih kecil dari yang aku inginkan.
"Pernikahan." Dia mengulang kata itu setenang orang memesan kopi. "Kontrak. Satu tahun. Setelah itu, kita berpisah dengan baik-baik. Tanpa masalah."
Aku berdiri.
"Kamu gila."
"Saya serius."
"Itu sama saja!" Suaraku naik. "Kamu siapa? Kenapa harus saya? Kamu tidak kenal saya—"
"Saya kenal cukup." Nada suaranya tidak berubah sedikit pun. Itu yang membuatku makin tidak nyaman. "Kamu anak pertama. Kerja dua tempat sekaligus. Tidak punya tabungan. Tidak punya siapa-siapa yang bisa dimintai tolong. Dan ibumu..." dia berhenti sedetik, "tidak punya banyak waktu."
Aku menelan ludah.
Kalimat terakhirnya menghantam bagian yang paling lunak.
"Ini ilegal," kataku, tapi suaraku sudah tidak sekuat tadi.
"Pernikahan kontrak tidak ilegal selama kedua pihak setuju." Dia meletakkan pulpen di atas dokumen. "Tidak ada yang dirugikan. Kamu dapat uang. Saya dapat... apa yang saya butuhkan."
"Apa yang kamu butuhkan?"
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergeser di wajahnya. Bukan senyum. Tapi nyaris.
"Itu urusan saya."
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.
Aku tidak mau dengar lebih lanjut.
Aku tidak mau.
Tapi kakiku berhenti di depan kamar 317.
Di balik kaca kecil di pintu itu, aku bisa melihat ibu. Terbaring. Selang di tangannya. Wajahnya yang biasanya kuat sekarang kelihatan begitu... kecil.
Ibu yang tidak pernah mengeluh walau kami tidak punya apa-apa.
Ibu yang menjual gelang emas satu-satunya untuk bayar uang sekolahku dulu.
Ibu yang sekarang tidak tahu bahwa putrinya berdiri di luar pintu ini, mencoba tidak menangis.
Aku menekan punggungku ke dinding.
Menutup mata.
Seratus empat puluh juta.
Tidak ada jalan lain.
Aku sudah coba semua jalan.
Ruangan VIP itu masih sama ketika aku kembali.
Arka masih duduk di tempat yang sama. Map itu masih terbuka. Pulpennya masih di posisi yang sama, seolah dia tahu aku akan kembali.
Aku benci itu.
"Satu syarat." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Keras. Tapi gemetar di bagian dalam. "Ibu tidak boleh tahu ini perjanjian. Dia harus pikir ini... nyata."
Sesuatu bergerak di matanya. Terlalu cepat untuk aku baca.
"Beres."
"Dan kamu tidak boleh—" Aku berhenti. Menarik napas. "Kamu tidak boleh menyentuh saya."
Dia menatapku beberapa detik.
"Baik."
Terlalu cepat. Terlalu mudah. Seharusnya itu membuatku lega.
Tapi justru membuat perutku tidak enak.
Aku duduk. Menarik dokumen itu ke arahku. Membacanya baris per baris meski mataku sudah kabur separuh jalan.
Satu tahun.
Hanya satu tahun.
Demi ibu.
Aku mengambil pulpen.
Tanganku tidak gemetar—aku paksa supaya tidak gemetar.
Lalu aku tanda tangani kontrak yang mengubah hidupku.
"Satu hal lagi."
Suaranya menghentikan gerakanku.
Aku mendongak.
Ekspresinya masih sama. Datar. Terkontrol. Tapi matanya—untuk sepersekian detik—ada sesuatu di sana yang tidak bisa aku nama.
"Mulai besok," katanya pelan, "kamu pindah ke rumah saya."
Aku mengangguk kaku.
Dia berdiri. Mengambil map itu. Berbalik pergi.
"Arka."
Dia berhenti. Tidak berbalik.
"Kenapa saya?" Aku tidak tahu kenapa aku bertanya. "Dari semua orang, kenapa harus saya?"
Hening sejenak.
Lalu dia menjawab—tiga kata yang membuatku tidak bisa tidur malam itu:
"Karena kamu aman."
Pintu ruangan menutup.
Dan aku masih duduk di sana, menatap tanda tanganku sendiri di atas kertas—bertanya-tanya...
Aman untuk siapa?
Bersambung ke Bab 2 – Syarat Pernikahan
Token salah. Silakan coba lagi.
Isi konten terkunci di sini...























Tulis Komentar di Bawah ini!