📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
SANG PENULIS (Seri ke-57)
Kertas Lipat dari Ratna dan Kota yang Belum Dikenal
By. Arda Dinata
❤oOo❤
"Sebelum kamu berdiri di hadapan dunia, pastikan kamu sudah berdiri kokoh di hadapan dirimu sendiri. Dan cara terbaik untuk berdiri kokoh bukan dengan menghafalkan semua yang akan kamu katakan — melainkan dengan tahu persis mengapa kamu perlu mengatakannya, dan siapa yang berdiri di belakangmu ketika kamu mengatakannya."
— Adra Atanid
❤oOo❤
Kamar hotel itu terletak di lantai sebelas.
Jendela besarnya menghadap ke arah yang Adra belum bisa namakan dengan tepat — bukan laut, meskipun ada kilatan biru di kejauhan yang mungkin laut, bukan gunung, meskipun ada garis gelap di horison yang mungkin perbukitan. Kota yang asing selalu seperti itu di awal — semua yang terlihat masih belum punya nama, belum punya cerita yang ia kenal, belum punya konteks yang bisa ia pegang.
Adra meletakkan kopernya di rak bagasi tanpa membukanya.
Duduk di tepi ranjang yang kerasnya berbeda dari ranjang di rumah — lebih keras, lebih rapi, lebih dingin, dengan aroma sabun laundri yang tidak familiar di sprei putihnya. Ia menatap kamar itu sebentar — televisi yang belum menyala, meja kecil di sudut dengan kursi yang sedikit terlalu tegak untuk nyaman, dan jendela besar itu yang menawarkan kota asing dalam cahaya sore yang sudah mulai keemasan.
Tasnya ada di atas kasur di sebelahnya.
Di dalam tas itu, di kantong samping yang ritsleting kecilnya selalu agak susah dibuka, ada selembar kertas lipat.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab buku: "Seri Sang Penulis Ke-2" ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir saya HANYA Rp. 45.000 untuk semua Bab terkunci buku ini sebanyak 45 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 1000 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Adra tidak langsung mengambilnya.
Ia duduk diam beberapa menit — merasakan capai perjalanan yang belum sepenuhnya ia izinkan untuk hinggap tadi karena masih terlalu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, merasakan udara kamar yang berbeda dari udara rumah, merasakan jarak antara di sini dan di sana yang lebih dari sekadar kilometer.
Kemudian ia membuka ritsleting kantong samping itu.
Dan mengambil kertas lipat dari Ratna.
❤oOo❤
Kertasnya kecil — tidak lebih besar dari telapak tangannya.
Dilipat dua, rapi, dengan cara yang khas Ratna: presisi tanpa berlebihan, seperti segala sesuatu yang ia lakukan. Di permukaan lipatannya tidak ada tulisan apapun. Hanya kertas putih biasa yang bisa ditemukan di laci meja manapun.
Adra membukanya pelan.
Tulisan tangan Ratna mengisi sisi dalamnya — huruf-huruf tegak yang agak condong ke kanan, tinta biru, dengan tekanan yang konsisten dari awal sampai akhir seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ingin ia tulis sebelum penanya menyentuh kertas:
Adra,
Kamu tidak perlu menjadi siapapun di atas panggung itu selain dirimu sendiri. Bukan penulis yang inspiratif. Bukan pemimpin komunitas yang bijaksana. Bukan siapapun yang kamu pikir orang-orang di sana ingin lihat.
Cukup jadilah orang yang kemarin pagi berdiri di depan kompor terlalu lama karena lupa air sudah mendidih. Yang selalu menaruh kacamatanya di atas kepala lalu panik mencarinya. Yang tertawa sendiri di ruang kerja ketika menemukan kalimat yang pas, dengan suara yang cukup keras sampai kadang aku dengar dari kamar sebelah.
Orang itu — orang itu lebih dari cukup untuk panggung manapun.
Aku di sini. Selalu.
— R
❤oOo❤
Adra membaca surat itu sekali.
Kemudian duduk diam di tepi ranjang dengan kertas itu masih di tangannya.
Tidak ada yang bergerak di kamar itu kecuali tirai tipis yang sedikit melambai karena AC yang berhembus pelan dari atas. Di luar jendela, kota Makassar terus bergerak dengan cara kota-kota yang tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang sedang duduk di lantai sebelas menatapnya sambil memegang secarik kertas kecil yang baru saja mengubah sesuatu di dalam dadanya.
Orang yang berdiri di depan kompor terlalu lama karena lupa air sudah mendidih.
Adra tersenyum tanpa ia rencanakan — senyum yang keluar sendiri, tanpa bisa ia tahan atau ia dramatisasi.
Karena Ratna benar. Ia sering berdiri terlalu lama di depan kompor karena sedang memikirkan sesuatu dan lupa bahwa ia sebenarnya sedang memanaskan air. Sudah ratusan kali dalam dua puluh tahun terakhir. Dan setiap kali itu terjadi, Ratna yang selalu mengingatkan dari ruangan lain: "Adra, airnya sudah mendidih dari tadi."
Detail yang tidak heroik. Detail yang tidak akan pernah masuk ke dalam profil penulis manapun. Detail yang terlalu kecil dan terlalu biasa untuk disebut dalam pidato penghargaan.
Tapi itulah yang Ratna pilih untuk dituliskan.
Bukan pencapaiannya. Bukan kiprahnya. Bukan kata-katanya yang sudah menggerakkan ribuan orang.
Melainkan cara ia berdiri terlalu lama di depan kompor.
Dan itulah, pikir Adra, yang membuat surat kecil itu lebih kuat dari semua kata-kata persiapan yang pernah ia baca atau dengar sebelum naik ke panggung manapun.
❤oOo❤
Ia berdiri dari ranjang.
Berjalan ke jendela besar itu. Meletakkan satu tangan di kacanya yang dingin dan menatap kota yang belum ia kenal dari ketinggian lantai sebelas.
Makassar di sore hari memiliki wajah yang berbeda dari kota-kota yang ia kenal. Lebih ramai di tingkat tertentu — ada kepadatan di jalanannya yang terasa organik, tidak terencana, seperti kota yang tumbuh mengikuti nalurinya sendiri daripada mengikuti rencana tata kota yang rapi. Warna-warnanya lebih hangat di bawah cahaya sore Sulawesi yang berbeda dari cahaya sore Bandung — lebih kuning, lebih langsung, tanpa lapisan dingin yang biasanya ikut bersama sinar matahari di kota pegunungan.
Di suatu tempat di kota ini, ada sebuah perpustakaan sekolah dengan rak bertulisan tangan: BUKU YANG MEMBUAT KAMU INGAT SESEORANG.
Di suatu tempat di kota ini, ada Sinta yang mungkin sedang menutup perpustakaan itu untuk hari ini, tidak tahu bahwa orang yang menulis buku di raknya sudah ada di lantai sebelas sebuah hotel, menatap kota yang sama dari atas.
Di suatu tempat di kota ini, ada audiens yang besok akan duduk di ruangan yang sama dengan Adra dan orang-orang yang ia bawa — orang-orang yang tidak ia kenal wajahnya, tidak ia tahu ceritanya, tidak ia ketahui nama-namanya.
Tapi yang mungkin — sama seperti anak kelas sebelas itu — sedang membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak tahu ke mana harus dibawa, atau kerinduannya pada seseorang yang sudah lama tidak ia ucapkan rindunya, atau keberanian kecil yang sedang mencari alasan untuk tumbuh sedikit lebih besar.
Orang-orang itu, pikir Adra, adalah alasan mengapa saya harus berdiri di panggung itu besok dengan cara yang benar.
Bukan dengan persiapan yang sempurna. Bukan dengan kata-kata yang sudah dihitung efeknya. Melainkan dengan cara yang Ratna tuliskan dalam tiga baris sederhana di secarik kertas kecil — dengan menjadi dirinya sendiri, yang berdiri terlalu lama di depan kompor, yang tertawa sendiri ketika menemukan kalimat yang pas.
❤oOo❤
Ketokan di pintu kamarnya membuatnya berpaling dari jendela.
Hendra berdiri di luar ketika Adra membuka pintu — sudah mandi, sudah berganti baju, dengan ekspresi seseorang yang menyimpan sesuatu tapi tidak yakin apakah saatnya menceritakannya.
"Pak Adra, maaf mengganggu. Bapak sedang sibuk?"
"Tidak. Masuk."
Hendra masuk tapi tidak duduk. Ia berdiri di tengah kamar dengan cara yang mengingatkan Adra pada cara ia berdiri di pertemuan komunitas ketika hendak mengucapkan sesuatu yang penting — kaki sedikit terbuka, tangan sedikit mengatup.
"Pak Rahmat tadi menangis di kamarnya," kata Hendra pelan.
Adra menunggu.
"Bukan menangis yang sedih. Saya masuk ke kamarnya setelah check-in, dan Bapak sedang duduk di tepi ranjang, menatap jendela, dan — menangis pelan." Hendra menelan ludah. "Saya tanya kenapa. Bapak bilang, 'Ibu dulu pernah bilang ingin melihat dari atas awan. Tidak kesampaian. Sekarang Ndra yang bawa Bapak ke sini.'"
Kamar itu sunyi.
AC berhembus pelan. Dari jauh, suara kota Makassar naik samar sampai lantai sebelas.
"Bapak tidak perlu khawatir," lanjut Hendra, suaranya lebih stabil dari yang ia mungkin rasakan. "Bapak sekarang sudah tertidur. Saya mau bilang ke Pak Adra supaya — supaya Pak Adra tahu bahwa besok, apa yang Pak Adra dan kami semua akan ceritakan di panggung itu, bukan hanya tentang komunitas kami. Bagi Bapak saya, ini tentang Ibu juga."
Adra menatap Hendra.
Kemudian melakukan sesuatu yang tidak sering ia lakukan — ia meletakkan tangannya di bahu Hendra, sebentar saja, dengan tekanan yang cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
"Kita bawa Ibu besok juga," kata Adra. "Seperti Wahyu yang membawa Laras. Seperti Pak Rahmat yang membawa jimat di lehernya."
Hendra mengangguk. Satu kali. Dengan cara yang cukup.
❤oOo❤
Malam itu mereka makan bersama di restoran kecil yang direkomendasikan Kezia — seafood Makassar yang datang dalam porsi yang membuat Mbak Sari berseru kegirangan dan langsung melupakan onde-ondenya untuk sementara.
Coto. Konro. Ikan bakar dengan sambal dabu-dabu yang membuat Nira mengeluarkan air mata karena kepedasan tapi tidak mau berhenti makan karena terlalu enak. Pak Rahmat makan dengan cara seseorang yang tidak mau ada yang terlewat — pelan, teliti, menikmati setiap suapan dengan kesadaran penuh.
"Di kampung saya tidak ada makanan seperti ini," katanya di tengah makan, kepada tidak ada yang spesifik, hanya kepada udara malam Makassar yang hangat di sekeliling mereka. "Enak sekali."
Kalimat itu sederhana. Tapi membuat meja makan itu terasa lebih hidup dari biasanya.
Adra menatap semua wajah di meja itu — Mbak Sari yang sudah berencana membawa oleh-oleh sambal dabu-dabu pulang ke Bandung, Dafa yang sedang mendokumentasikan setiap makanan untuk dikirimkan kepada ibunya yang tidak sempat ikut makan malam ini karena sudah lelah dan memilih istirahat lebih awal, Nira yang masih sesekali menyeka mata tapi tetap meminta tambah sambal, Rudi dan Farida yang sedang berbincang pelan di ujung meja.
Dan Hendra, yang duduk di sebelah Pak Rahmat, yang sesekali memotongkan tulang ikan dari piring ayahnya tanpa diminta — gestur kecil yang sudah pasti sudah berlangsung sejak Hendra cukup besar untuk melakukannya, gestur yang tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh siapapun kecuali oleh orang yang tahu harus memperhatikan ke mana.
Ini, pikir Adra, ini yang harus ada di panggung besok.
Bukan kata-kata yang sudah disiapkan. Bukan struktur yang sudah dirancang. Bukan pelajaran kepenulisan yang dikemas dengan rapi.
Melainkan ini — meja makan dengan seafood Makassar, Pak Rahmat yang menikmati setiap suapan dengan kesadaran penuh, Hendra yang memotongkan tulang ikan, Nira yang menangis karena sambal tapi tidak mau berhenti, dan semua orang yang membawa nama-nama orang yang mereka cintai jauh di dalam dada mereka ke kota yang belum mereka kenal.
❤oOo❤
Adra kembali ke kamarnya malam itu dengan langkah yang berbeda dari ketika ia pertama masuk siang tadi.
Lebih ringan. Bukan karena bebannya berkurang. Melainkan karena ia sudah tahu cara memikulnya dengan lebih baik.
Ia duduk di meja kecil di sudut kamar, membuka buku catatannya, dan menuliskan satu hal — bukan untuk dibacakan besok, bukan untuk dipublikasikan, hanya untuk dirinya sendiri:
Aku siap bukan karena kata-kataku sudah sempurna.
Aku siap karena: Pak Rahmat menangis untuk ibunya di tepi ranjang lantai sebelas. Hendra memotongkan tulang ikan dari piring ayahnya tanpa diminta. Nira menangis karena sambal tapi tidak mau berhenti makan. Dafa mendokumentasikan makanan untuk dikirim ke ibunya. Dan Ratna menulis tentang cara aku berdiri terlalu lama di depan kompor.
Aku siap karena semua orang ini hadir bersamaku — yang hadir fisik maupun yang hadir dalam jimat, dalam kertas lipat, dalam kursi kosong, dalam nama-nama yang ditulis dengan cinta.
Itu lebih kuat dari kata-kata apapun yang bisa aku siapkan.
Ia menutup buku catatannya.
Menaruh kertas lipat dari Ratna di atas meja, di sebelah buku catatan, supaya bisa ia lihat pertama kali ketika bangun esok pagi.
Kemudian ia membaringkan dirinya di ranjang yang terlalu keras itu, di bawah sprei yang berbau sabun laundri yang tidak familiar, di kamar yang menghadap kota yang masih belum sepenuhnya ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya sejak email Kezia datang beberapa minggu lalu, Adra Atanid tidak memikirkan panggung.
Ia hanya merasakan kehadiran — kehadiran semua orang yang membawanya ke sini, yang berjalan bersamanya, yang menunggunya baik dari Makassar maupun dari Bandung.
Kehadiran yang jauh lebih kuat dari kata-kata apapun.
Dan dengan kehadiran itu, ia tidur.
Pada bab selanjutnya, Sang Penulis, Adra Atanid akan berbagi cerita tentang hari H di panggung Festival Literasi Makassar — dan satu momen yang tidak ada dalam rundown acara, yang terjadi ketika Pak Rahmat diminta berbicara tanpa persiapan, yang membuat seluruh ruangan terdiam dalam cara yang tidak pernah dihasilkan oleh pembicara paling terlatih sekalipun — membuktikan sekali lagi bahwa suara yang paling kuat bukan yang paling terlatih, melainkan yang paling jujur...
…. BERSAMBUNG!
💬 Pernahkah seseorang menuliskan atau mengucapkan sesuatu tentang dirimu — sesuatu yang kecil dan sederhana — yang justru menjadi penguat terbesar dalam momen yang paling kamu butuhkan? Ceritakan di kolom komentar. 🔔 Follow sekarang — momen paling menggetarkan di panggung Makassar akan hadir di seri berikutnya! 📤 Bagikan episode ini kepada seseorang yang besok akan berdiri di hadapan sesuatu yang besar — dan yang perlu diingatkan bahwa ia tidak perlu menjadi sempurna, ia hanya perlu hadir sebagai dirinya sendiri yang paling jujur.

Tulis Komentar di Bawah ini!