📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
SANG PENULIS (Seri ke-59)
Percakapan di Atas Awan
By. Arda Dinata
❤oOo❤
"Kadang pelajaran terbesar dalam hidup tidak datang dari buku yang paling tebal, panggung yang paling besar, atau perjalanan yang paling jauh. Ia datang dari percakapan singkat di tempat yang tidak terduga — dengan seseorang yang tidak tahu bahwa ia sedang mengajar, kepada seseorang yang tidak tahu bahwa ia sedang belajar."
— Adra Atanid
❤oOo❤
Pesawat lepas landas pukul delapan malam.
Mereka naik dengan tubuh yang lelah tapi dengan cara lelah yang menyenangkan — lelah yang datang bukan dari sesuatu yang menguras, melainkan dari sesuatu yang memberi terlalu banyak sampai tubuh tidak tahu lagi bagaimana cara menyimpan semuanya. Lelah yang terasa seperti penuh.
Kezia mengantar mereka sampai pintu keberangkatan, berjabat tangan satu per satu, dan ketika sampai di Pak Rahmat, ia memegang tangan lelaki tua itu sebentar lebih lama dari yang lain.
"Terima kasih, Pak," katanya. "Bapak adalah pembicara terbaik yang pernah ada di festival kami."
Pak Rahmat tertawa — tertawa kecil yang tidak dibuat-buat. "Saya tidak bicara apa-apa tadi. Cuma jujur."
"Itu yang saya maksud," kata Kezia.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab buku: "Seri Sang Penulis Ke-2" ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir saya HANYA Rp. 45.000 untuk semua Bab terkunci buku ini sebanyak 45 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 1000 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
❤oOo❤
Di dalam pesawat, mereka tersebar di kursi-kursi yang tidak semuanya berdekatan.
Adra duduk di kursi lorong baris dua belas. Di sebelah jendela, Pak Rahmat sudah duduk lebih dulu — ia memilih kursi jendela dengan alasan yang tidak perlu dijelaskan, dan Hendra yang duduk di baris sebelahnya tidak keberatan sama sekali.
Ketika pesawat mulai bergerak di landasan, Adra melihat Pak Rahmat menekan wajahnya sedikit ke arah jendela kecil itu. Menyaksikan lampu-lampu Makassar yang masih terlihat di bawah. Tangannya — tangan yang keras oleh sawah dan ladang dan puluhan tahun kerja — menyentuh tepi jendela dengan cara yang pelan dan hati-hati.
Pesawat mendongak.
Dan di wajah Pak Rahmat, dalam cahaya kabin yang redup, Adra melihat sesuatu yang tidak bisa ia namakan dengan satu kata — campuran antara takjub dan kedamaian dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang hanya ada di wajah orang-orang yang sudah cukup lama hidup untuk tidak lagi terkejut dengan hal-hal besar, tapi masih bisa tersentuh oleh hal-hal kecil.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Adra pelan.
Pak Rahmat tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke luar jendela — ke gelap yang sekarang hanya sesekali diselingi cahaya dari bawah, semakin lama semakin jauh, semakin lama semakin kecil.
"Baik," katanya akhirnya. Satu kata. Tapi dengan berat yang menyenangkan.
❤oOo❤
Satu jam ke dalam penerbangan, hampir semua orang sudah tertidur.
Mbak Sari yang paling cepat — kepalanya sudah miring ke bahu sebelum sabuk pengaman diizinkan dilepas, dengan cara seseorang yang sudah sangat terlatih tidur di perjalanan apapun. Dafa tertidur dengan kepala di bahu Mbak Wati, dan Mbak Wati tertidur dengan kepala menyandar ke kaca jendela. Nira masih membaca catatannya selama beberapa puluh menit sebelum akhirnya penanya jatuh ke lantai dan ia tidak memungutnya — tanda yang paling meyakinkan bahwa ia sudah tertidur. Hendra berbaring dengan earphone di telinga, matanya tertutup tapi napasnya belum cukup dalam untuk disebut tidur.
Rudi dan Farida sudah tidak terdengar sejak lama.
Kabin pesawat itu sunyi dengan cara yang khas penerbangan malam — suara mesin yang konstan menjadi semacam white noise yang menenangkan, lampu-lampu kabin yang sudah diredupkan, pramugari yang berjalan pelan dengan sepatu yang tidak berbunyi.
Adra tidak mengantuk.
Ia tidak mencoba memaksanya — sudah lama ia belajar bahwa memaksa tidur hanya membuat tidur semakin tidak mau datang. Ia membiarkan matanya terbuka, menatap sandaran kursi di depannya, membiarkan pikirannya bergerak dengan caranya sendiri tanpa diarahkan ke manapun.
Di sebelahnya, Pak Rahmat juga tidak tidur.
Ia masih menatap ke luar jendela — meskipun sekarang yang terlihat hanya gelap dan sesekali kilatan lampu pesawat di sayap yang berulang-ulang teratur. Tangannya ada di atas lutut, jari-jarinya sesekali bergerak pelan, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu atau mengingat sesuatu atau keduanya.
❤oOo❤
Pak Rahmat yang memulai percakapan itu.
Bukan dengan pertanyaan yang besar. Bukan dengan kalimat yang terasa seperti pembuka percakapan yang penting. Ia hanya berpaling dari jendela, menatap Adra dengan cara yang santai — cara dua orang yang berbagi perjalanan dan sudah cukup nyaman untuk bicara tanpa perlu alasan khusus.
"Pak Adra masih terjaga?" tanyanya pelan, menjaga suaranya agar tidak membangunkan Hendra di baris sebelah.
"Masih," kata Adra, sama pelannya.
"Tidak mengantuk?"
"Kepala masih terlalu penuh."
Pak Rahmat mengangguk — anggukan orang yang mengerti. "Saya juga." Ia menatap ke depan sebentar. "Tadi di acara itu, waktu saya bicara — saya tidak tahu mau bilang apa sebenarnya. Kezia tanya mendadak. Saya panik."
Adra tersenyum. "Tidak terlihat panik, Pak."
"Di dalam panik." Pak Rahmat menunjuk dadanya. "Di luar — ya saya tidak tahu juga. Mungkin sudah terbiasa menghadapi hal yang tidak terduga. Di sawah banyak hal tidak terduga. Kamu belajar untuk tidak beku."
❤oOo❤
Mereka diam sebentar.
Suara mesin pesawat mengisi keheningan dengan cara yang tidak mengganggu — seperti suara hujan yang jatuh di luar jendela, yang kehadirannya justru membuat keheningan di dalam terasa lebih nyata, bukan lebih kosong.
"Pak Adra," kata Pak Rahmat kemudian.
"Ya, Pak?"
"Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin pertanyaan bodoh?"
"Tidak ada pertanyaan bodoh dari Bapak."
Pak Rahmat sedikit tersenyum — mengakui pujian itu tanpa menolaknya, tapi juga tanpa membesar-besarkannya. "Kenapa orang menulis? Maksud saya —" Ia berhenti, mencari kata yang tepat dengan cara seseorang yang tidak terbiasa berbicara tentang hal abstrak tapi ingin melakukannya dengan benar. "Kalau mau cerita sesuatu, kenapa tidak langsung cerita saja? Kenapa harus ditulis?"
Adra menatap Pak Rahmat.
Pertanyaan itu bukan pertanyaan baru baginya — ia sudah mendengar variasi dari pertanyaan ini ratusan kali, dari berbagai orang, di berbagai konteks. Tapi ada sesuatu dalam cara Pak Rahmat mengucapkannya — dengan nada yang tulus, tidak retoris, benar-benar ingin tahu — yang membuat pertanyaan yang sudah ratusan kali ia dengar itu terasa seperti baru.
Seperti pertama kali.
❤oOo❤
Adra berpikir sebentar.
Tidak untuk mencari jawaban — jawaban itu sudah ada, sudah lama ada. Tapi untuk menemukan cara menyampaikannya kepada lelaki tujuh puluh dua tahun yang di sepanjang hidupnya lebih akrab dengan tanah dan benih daripada dengan buku dan pena, yang malam ini duduk di sebelahnya di atas awan, bertanya tentang sesuatu yang ingin ia mengerti.
"Bapak pernah tanam padi?" tanya Adra.
"Ya ampun, Pak Adra. Sudah tanam padi dari sebelum Pak Adra lahir."
"Setelah panen — padi disimpan di mana?"
"Di lumbung. Atau digiling dulu, disimpan jadi beras."
"Kenapa disimpan? Kenapa tidak langsung dimakan semua?"
Pak Rahmat menatapnya dengan cara seseorang yang melihat ke mana arah pertanyaan ini pergi, tapi membiarkannya sampai dulu sebelum berkomentar. "Supaya ada yang bisa dimakan nanti. Supaya kalau musim susah datang, masih ada cadangan. Supaya bisa dibagi ke yang butuh."
Adra mengangguk. "Menulis itu seperti lumbung, Pak. Cerita yang diucapkan — ia hidup selama ada yang ingat. Tapi cerita yang ditulis — ia bisa disimpan. Bisa dibagikan kepada yang tidak hadir waktu cerita itu pertama kali ada. Bisa ditemukan oleh orang yang belum lahir sekarang, yang suatu hari akan membutuhkannya."
Pak Rahmat diam.
Menatap ke depan dengan ekspresi seseorang yang sedang meletakkan sesuatu baru di tempat yang sudah lama ada tapi belum pernah diisi.
"Seperti lumbung," ulangnya pelan. Bukan pertanyaan. Konfirmasi.
"Seperti lumbung," kata Adra.
❤oOo❤
Hening lagi. Lebih panjang dari sebelumnya.
Di luar jendela, tidak ada lagi lampu-lampu kota. Hanya gelap yang sesekali tertikam bintang — jauh, kecil, tapi ada.
"Pak Adra," kata Pak Rahmat lagi.
"Ya?"
"Berarti waktu Ndra nulis tentang saya —" Ia berhenti sebentar. "Ia sedang memasukkan saya ke dalam lumbungnya?"
Adra menatap lelaki tua itu.
Dan merasakan sesuatu bergerak di dadanya dengan cara yang sudah tidak sering ia rasakan — bukan karena ia tidak peka, tapi karena sesuatu sebersih ini jarang hadir dengan cara sejernih ini.
"Ya, Pak," katanya. "Hendra memasukkan Bapak ke dalam lumbungnya. Supaya Bapak bisa ada di sana selamanya. Supaya orang-orang yang tidak pernah bertemu Bapak pun bisa tahu bahwa ada seseorang yang belajar bercerita dari teras rumah, dari seorang ayah yang mengira dirinya hanya sedang ngobrol."
Pak Rahmat tidak menjawab langsung.
Tangannya — yang sejak tadi ada di atas lutut — bergerak perlahan ke arah jimat logam di lehernya. Menyentuhnya sebentar. Gestur yang tidak ia rencanakan, yang keluar sendiri dari tempat yang lebih dalam dari keputusan.
"Bu," bisiknya. Pelan sekali. Kepada jimat itu. Kepada udara kabin yang redup. Kepada seseorang yang tidak ada di sini tapi selalu ada. "Dengar tidak. Ndra masukkan kita berdua ke dalam lumbungnya."
❤oOo❤
Adra memalingkan wajahnya ke arah depan.
Bukan karena tidak ingin melihat — tapi karena ada momen-momen yang terlalu penuh untuk ditatap langsung, yang justru lebih bisa dirasakan kalau diberi sedikit ruang samping.
Ia menutup matanya sebentar.
Dan dalam gelap di balik kelopak matanya, ia melihat — bukan dengan mata tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari mata — seluruh perjalanan Season 3 ini bergerak seperti slide yang diputar pelan. Nira dan kertas kecilnya yang terjatuh. Wahyu dan tulisan untuk Laras. Malam tanpa naskah bersama Ratna. Dafa dan ibunya di dapur jam dua malam. Bu Endang dan tulisan di dinding dapurnya. Kabar dari Makassar. Sinta dan rak perpustakaan dengan tulisan tangan. Malam pembacaan tanpa kamera. Panggung yang tidak terlalu besar. Pak Rahmat berdiri di barisan pertama dengan suara yang tidak pernah berlatih.
Dan sekarang ini — percakapan di atas awan, tentang lumbung dan benih dan cerita yang perlu disimpan supaya bisa dibagikan kepada yang belum ada.
Semuanya terhubung.
Satu benang yang tidak terputus meskipun bentuknya berubah-ubah di setiap seri.
❤oOo❤
Adra membuka matanya.
Mengambil buku catatannya dari tas yang ada di bawah kursi depannya. Membukanya dalam cahaya kabin yang redup — cukup terang untuk menulis, tidak cukup terang untuk mengganggu orang yang tidur.
Dan menuliskan sesuatu yang ia tahu sudah lama menunggu untuk dituliskan — yang baru bisa lahir malam ini, di atas awan, setelah semua yang ia lalui di Season 3 ini akhirnya cukup untuk mengizinkannya hadir:
Prinsip terakhir yang melengkapi semuanya:
Menulis adalah cara manusia membuat lumbung dari hidupnya — menyimpan cerita, kebenaran, cinta, dan pelajaran yang tidak boleh hilang hanya karena waktu berjalan atau orang-orangnya pergi. Lumbung itu bukan untuk penulisnya sendiri. Ia untuk semua yang akan datang setelah ia, yang mungkin sedang kelaparan akan sesuatu yang tepat, yang mungkin tidak tahu bahwa ia lapar sampai ia membuka lumbung itu dan menemukan di dalamnya persis apa yang ia butuhkan.
Pak Rahmat mengajarkan ini. Malam ini. Di atas awan. Dengan pertanyaan yang ia pikir bodoh tapi yang ternyata adalah pertanyaan paling dalam yang pernah ia ajukan tentang menulis — tanpa pernah menuliskan satu kalimat pun dalam hidupnya.
Maka siapapun yang bertanya mengapa kita menulis — jawabnya adalah ini: Kita menulis karena kita ingin meninggalkan lumbung. Supaya ada cadangan untuk musim-musim yang belum datang. Supaya ada yang bisa dibagi kepada yang belum kita kenal. Supaya orang-orang yang kita cintai bisa tinggal di dalam lumbung itu selamanya — tidak dimakan waktu, tidak hilang ketika ingatan memudar.
Itulah mengapa kita menulis. Itulah selalu mengapa.
❤oOo❤
Adra menutup buku catatannya.
Di sebelahnya, Pak Rahmat sudah tertidur — dengan cara yang tenang, kepala bersandar ke headrest, tangannya masih di atas lutut, mulutnya sedikit terbuka dengan napas yang teratur dan dalam.
Di lehernya, jimat logam kecil itu masih ada.
Tiga puluh tahun lebih tidak pernah dilepas. Melewati pemindai bandara dua kali — sekali berangkat, sekali pulang. Dibawa naik ke atas awan untuk pertama kali, ke kota yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya, untuk sebuah panggung yang tidak pernah direncanakan, untuk berbicara dengan suara yang tidak pernah berlatih tentang kebenaran yang tidak pernah perlu dilatih.
Adra menatap lelaki tua itu sebentar.
Kemudian menatap ke depan.
Di pikirannya, ia sudah melihat seperti apa seri selanjutnya — dan sesungguhnya, seri yang sesungguhnya. Karena Season 3 ini tidak bisa ditutup di sini, di atas pesawat yang sedang membawa mereka pulang. Season 3 membutuhkan satu seri lagi — seri yang tidak menceritakan peristiwa baru, melainkan yang mengikat semua benang yang sudah ada dan mengizinkan perjalanan ini beristirahat dengan cara yang layak.
Satu seri untuk Ratna yang menunggu di rumah dengan pintu teras yang menyala.
Satu seri untuk Wahyu yang sedang menemani pertanyaan-pertanyaannya sendiri di kota yang sama.
Satu seri untuk Bu Endang dan tempelan di dinding dapurnya.
Satu seri untuk semua nama yang kini sudah ada di dalam lumbung.
❤oOo❤
Pesawat terbang terus ke barat.
Meninggalkan Makassar yang kini ada di balik horison yang tidak bisa terlihat — kota yang sekarang menyimpan jejak mereka di rak perpustakaan kecil, di ingatan dua ratus orang yang pulang membawa nama-nama yang belum selesai mereka tuliskan, di benak Kezia yang malam ini mungkin sudah tidur dengan kepuasan seseorang yang tahu bahwa festivalnya berhasil menjadi apa yang ia rancang untuk menjadi.
Di dalam pesawat yang redup itu, Adra Atanid duduk di antara orang-orang yang sudah tertidur — di antara semua nama dan cerita dan pelajaran yang mereka bawa pulang bersama — dan merasakan sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan di akhir sebuah perjalanan besar:
Rasa cukup yang bukan berarti selesai.
Melainkan rasa cukup yang artinya: ini nyata, ini bermakna, ini adalah lumbung yang akan terus ada bahkan setelah kita tidak lagi ada untuk menjaganya.
Dan di dalam rasa cukup itu, tanpa ia rencanakan, Adra Atanid akhirnya tertidur juga.
Di atas awan.
Di antara bintang-bintang yang jauh tapi nyata.
Dengan buku catatan di atas pangkuannya dan prinsip terakhir yang baru saja selesai dituliskan — prinsip yang tidak lahir dari meja kerja atau sesi brainstorming atau bacaan panjang, melainkan dari pertanyaan seorang petani tua di pesawat pertamanya, yang tidak tahu bahwa ia sedang memberikan hadiah terbesar yang pernah ada kepada seorang penulis yang sudah bertahun-tahun mencari kalimat untuk menjawab pertanyaan paling mendasar tentang pekerjaannya.
Kenapa orang menulis?
Supaya ada lumbung.
Sesederhana itu. Sedalam itu.
Pada bab selanjutnya — seri penutup Season 3 — Sang Penulis, Adra Atanid akan berbagi cerita tentang kepulangan yang membawa semua pelajaran ini ke tempat asalnya: ke rumah, ke meja makan yang tergores, ke Ratna yang menunggu, ke komunitas yang akan terus berjalan, dan ke satu kalimat terakhir yang ia tulis di halaman paling akhir buku catatan birunya — kalimat yang menjadi jembatan antara Season 3 yang hampir selesai dan Season 4 yang belum dimulai, yang di dalamnya semesta sudah menyiapkan kejutan berikutnya dengan cara yang — seperti selalu — lebih indah dari yang bisa direncanakan oleh siapapun...
…. BERSAMBUNG!
💬 Setelah membaca perjalanan panjang Season 3 ini, apa satu hal yang paling kamu bawa pulang? Dan siapa nama yang ada di pikiranmu sekarang — nama yang mungkin sudah menunggu untuk kamu masukkan ke dalam lumbungmu? Ceritakan di kolom komentar. 🔔 Follow sekarang — seri penutup Season 3 yang mengharukan sekaligus penuh harapan akan hadir segera! 📤 Bagikan episode ini kepada seseorang yang penting dalam hidupmu — karena mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu mereka bahwa kamu ingin memasukkan mereka ke dalam lumbungmu.

Tulis Komentar di Bawah ini!