📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
SANG PENULIS (Seri ke-56)
Sebelum Pesawat Lepas Landas
By. Arda Dinata
❤oOo❤
"Perjalanan yang paling bermakna tidak dimulai ketika kendaraannya bergerak. Ia dimulai jauh sebelum itu — ketika orang-orang yang tepat memutuskan untuk pergi bersama, membawa bukan hanya koper dan tiket, melainkan seluruh keberanian kecil yang sudah mereka kumpulkan dari hari-hari sebelumnya."
— Adra Atanid
❤oOo❤
Mereka berkumpul di terminal keberangkatan pukul lima pagi.
Langit masih gelap di luar dinding kaca bandara — gelap yang berbeda dari gelap malam biasa, lebih dingin, lebih sunyi, dengan sedikit garis jingga yang mulai tumbuh sangat pelan di horison timur seperti seseorang yang belum yakin apakah sudah waktunya untuk bangun.
Adra tiba lebih dulu dari semua orang, seperti biasanya ketika ia yang mengundang — ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa tenang kalau tiba belakangan di tempat yang ia sendiri yang mengajak orang ke sana. Ia mengambil kursi di sudut ruang tunggu, meletakkan tasnya, dan memperhatikan pintu masuk dengan cara yang terasa seperti menunggu sesuatu yang sudah lama disiapkan akhirnya tiba.
Hendra datang kedua, dengan Pak Rahmat di sebelahnya.
Pemandangan itu membuat Adra berdiri dari kursinya tanpa ia sadari.
Pak Rahmat — yang terakhir Adra lihat di malam pembacaan, duduk di kursi dengan tangan terlipat dan mata terpejam mendengarkan anaknya membaca — kini berdiri di terminal bandara dengan koper kecil berwarna hijau tua yang tampaknya sudah sangat lama tidak dipakai, rodanya sedikit berbunyi ketika diseret di lantai. Ia mengenakan baju batik yang berbeda dari yang di malam pembacaan — tapi tetap rapi, tetap disetrika dengan baik.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab buku: "Seri Sang Penulis Ke-2" ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir saya HANYA Rp. 45.000 untuk semua Bab terkunci buku ini sebanyak 45 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 1000 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Dan di wajahnya ada ekspresi yang tidak bisa Adra artikan dengan satu kata — campuran antara gugup, takjub, dan sesuatu yang menyerupai kebanggaan yang sedang berjuang untuk tidak memperlihatkan dirinya terlalu besar.
"Selamat pagi, Pak Rahmat," kata Adra, mengulurkan tangan.
Pak Rahmat menjabatnya dengan dua tangan. Cara yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. "Selamat pagi, Pak Adra." Ia menatap sekeliling terminal yang sudah mulai ramai meskipun masih gelap di luar. "Ini pertama kali saya naik pesawat."
❤oOo❤
Kalimat itu jatuh ke udara dengan cara yang pelan tapi penuh.
Adra menatap Pak Rahmat — lelaki tua dengan koper hijau tua, baju batik yang disetrika rapi, tangan yang keras oleh puluhan tahun kerja di sawah — dan merasakan sesuatu bergerak di dadanya.
"Pertama kali?" tanyanya pelan, memastikan.
Pak Rahmat mengangguk. Tidak dengan malu-malu — dengan cara yang tenang, cara seseorang yang sudah damai dengan fakta tentang dirinya sendiri. "Tujuh puluh dua tahun hidup, belum pernah naik pesawat. Ndra yang pertama kali ajak saya."
Hendra berdiri di sebelah ayahnya dengan ekspresi yang berusaha terlihat biasa tapi tidak terlalu berhasil. Di sudut matanya ada sesuatu yang basah yang ia coba sembunyikan dengan cara mengalihkan pandangan ke layar jadwal penerbangan.
"Bapak tidak takut?" tanya Adra.
Pak Rahmat berpikir sebentar — benar-benar berpikir, bukan basa-basi. "Takut iya. Tapi waktu Ndra bilang ini untuk cerita tentang tulisannya — saya bilang, kalau untuk itu, saya mau coba apapun yang belum pernah saya coba."
❤oOo❤
Mbak Sari tiba selanjutnya, dengan koper yang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk perjalanan dua hari — kebiasaan yang ia sendiri tertawakan: "Saya selalu packing untuk seminggu meskipun perginya cuma dua hari. Sudah dari dulu begini, tidak bisa diobati."
Di tangannya ada sebuah tas kain yang membawa aroma yang familiar.
"Mbak Sari," kata Adra, mencium aroma itu. "Itu bukan..."
"Onde-onde," kata Mbak Sari tegas, menaruh tasnya di kursi dengan puas. "Untuk di pesawat. Untuk di Makassar. Untuk acara. Untuk perjalanan pulang. Cukup untuk semua."
"Mbak Sari tahu tidak boleh bawa makanan basah melewati pemeriksaan keamanan?"
Mbak Sari menatapnya dengan ekspresi perempuan yang tidak akan mengubah keputusannya meskipun langit runtuh. "Onde-onde saya kering. Tidak masalah."
Pak Rahmat yang duduk di sebelah Mbak Sari menoleh dan tertawa pelan — tawa pertamanya pagi itu, yang membuka wajahnya seperti cahaya yang tiba-tiba masuk ke ruangan yang sebelumnya hanya remang.
❤oOo❤
Nira datang tepat waktu, dengan ransel cokelat tua yang rapi dan buku catatan yang sudah terlihat menonjol dari kantong samping luar tasnya — siap diambil kapanpun. Ia sudah membawa daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan audiens, beberapa catatan tentang perjalanan buku Untuk Namamu, dan satu lembar kertas yang ia sebut sebagai peta pikiran untuk sesinya di festival.
"Nira," kata Adra ketika melihat tumpukan kertas yang ia keluarkan dari tasnya, "ini festival literasi, bukan ujian doktoral."
Nira menatapnya. "Saya tahu. Tapi saya merasa lebih nyaman kalau sudah siap."
"Kamu sudah lebih dari siap."
"Satu persiapan lagi tidak akan mengurangi kesiapan yang sudah ada, Pak."
Adra menyerah dengan senyum. Nira adalah Nira — tidak ada yang perlu diubah dari itu.
Farida tiba bersama suaminya yang mengantarkan sampai pintu terminal, mencium tangannya sebelum berbalik pergi dengan cara pasangan yang sudah lama menemukan ritme perpisahan kecil mereka. Rudi datang dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya — ia bercerita dalam perjalanan ke bandara kemarin ia sudah membacakan tulisannya untuk anaknya yang tujuh tahun, yang mendengarkan dengan serius lalu bertanya: "Yah, berarti Ayah nulis tentang aku?" dan ketika Rudi mengiyakan, anak itu berlari ke ibunya berteriak: "Mah, aku ada di buku Ayah!"
Dan yang terakhir — yang tiba dengan cara yang tidak ada di rencana siapapun — adalah Dafa.
Dengan Mbak Wati di sebelahnya.
❤oOo❤
Adra sudah menduga kemungkinan ini ketika pertama kali Dafa bertanya "Ibu boleh ikut?" di kafe kecil dekat komunitas. Ia sudah memastikan kepada Kezia bahwa rombongan mungkin membawa anggota keluarga. Tapi melihatnya secara langsung — melihat Mbak Wati berjalan di terminal bandara dengan langkah kecil yang pasti, mengenakan kebaya sederhana berwarna biru muda dengan batik yang dililitkan di pinggang, membawa tas tangan kecil yang tampak sudah cukup tua — ada sesuatu yang berbeda dari sekadar konfirmasi.
Mbak Wati masuk ke terminal dengan cara seseorang yang tidak pernah merasa kecil di tempat manapun — bukan karena ia terbiasa dengan tempat seperti ini, melainkan karena ia membawa dirinya sendiri dengan utuh ke manapun ia pergi.
Ketika ia melihat Adra, ia langsung tersenyum lebar itu. "Pak Adra! Maaf ya saya ikut. Dafa yang maksa."
"Dafa yang benar," kata Adra. "Justru bagus Ibu ikut."
Mbak Wati memegang tangan Adra sebentar. "Pak, nanti di Makassar — kalau ada yang tanya tentang tulisan Dafa, yang tentang saya itu, Ibu boleh tidak cerita sendiri? Dari sudut pandang Ibu?"
Adra tidak langsung menjawab — bukan karena ragu, melainkan karena pertanyaan itu datang dari arah yang tidak ia sangka dan ia butuh sedetik untuk memproses betapa sempurnanya ide itu.
"Ibu mau bicara di panggung?"
Mbak Wati menggeleng cepat. "Bukan di panggung. Saya tidak berani di panggung. Tapi kalau ada yang mau dengarkan Ibu cerita sambil duduk, Ibu mau." Ia tersenyum lagi. "Ibu mau cerita bagaimana rasanya punya anak yang menulis tentang malam kita di dapur. Supaya orang tahu — dari pihak yang ditulis."
❤oOo❤
Adra berdiri di antara semua orang itu.
Pak Rahmat yang pertama kali naik pesawat di usia tujuh puluh dua tahun. Mbak Sari dengan onde-onde yang tidak mau ditinggal. Nira dengan peta pikirannya. Rudi dengan cerita tentang anaknya yang berlari ke ibunya. Hendra yang matanya basah di sudut tapi tidak mau diakui. Farida yang baru saja diciumi tangannya oleh suaminya. Dafa dengan hoodie abu-abunya dan tali sepatu yang — ya, masih longgar di sebelah kanan. Dan Mbak Wati dalam kebaya biru mudanya yang ingin bercerita dari sudut pandang yang ditulis.
Delapan orang. Plus Ratna — yang tidak hadir di terminal pagi itu karena ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, tapi yang sebelum Adra berangkat sudah menyisipkan sesuatu di dalam tas koper kecilnya: selembar kertas lipat yang tidak ia izinkan Adra buka sebelum sampai di Makassar.
"Buka waktu kamu sudah di hotel," katanya. "Sebelum kamu naik ke panggung."
Adra melihat semua wajah itu satu per satu — wajah-wajah yang membawa nama-nama, yang membawa cerita-cerita, yang membawa keberanian masing-masing dalam ukuran yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain karena setiap ukurannya adalah ukuran yang tepat untuk orangnya.
Ini bukan rombongan festival literasi, pikirnya.
Ini kehidupan yang sedang bergerak bersama. Dengan koper hijau tua dan onde-onde dan peta pikiran dan kebaya biru muda dan tali sepatu yang longgar.
❤oOo❤
Kejadian itu terjadi di antrian pemeriksaan keamanan.
Mereka sudah masuk antrean, satu per satu menaruh tas di belt berjalan, melepas sepatu, melewati mesin pemindai. Sampai giliran Pak Rahmat.
Pak Rahmat menaruh kopernya. Menaruh sepatunya. Melangkah masuk ke mesin pemindai dengan cara seseorang yang tidak tahu persis apa yang akan terjadi tapi sudah memutuskan untuk tidak takut menghadapinya.
Bunyi alarm berbunyi.
Petugas meminta Pak Rahmat mundur. Memeriksa ulang. Pak Rahmat mengeluarkan dompetnya — ada koin di sana. Menaruhnya di nampan. Masuk lagi.
Bunyi alarm lagi.
Petugas memeriksa lebih teliti. Pak Rahmat dengan tenang mengikuti setiap instruksi. Melepas ikat pinggang. Masuk lagi.
Alarm lagi.
Di belakang antrean, Hendra sudah menutup mulutnya dengan tangan. Mbak Sari menunduk ke lantai dengan bahu yang bergerak-gerak. Dafa menggigit bibirnya. Nira menutupi wajahnya dengan buku catatannya.
Petugas akhirnya menggunakan detektor tangan. Memindainya dari atas ke bawah. Dan menemukan sumbernya — sebuah jimat kecil dari logam yang tergantung di leher Pak Rahmat, di bawah bajunya. Sesuatu yang rupanya tidak pernah ia lepaskan sejak puluhan tahun yang lalu, pemberian mendiang istrinya.
Petugas menjelaskan bahwa Pak Rahmat perlu melepasnya sementara dan menaruhnya di nampan.
Pak Rahmat menatap petugas itu. Kemudian menatap jimat kecil yang sudah ada di lehernya lebih dari tiga puluh tahun itu. Kemudian, dengan ekspresi yang sepenuhnya serius, ia berkata kepada Hendra yang sudah berdiri di sebelahnya:
"Ndra, ibumu ikut ke Makassar juga rupanya."
❤oOo❤
Tertawa dan menangis dalam waktu yang hampir bersamaan.
Itulah yang terjadi pada semua orang yang mendengar kalimat itu — termasuk petugas keamanan yang akhirnya tidak bisa mempertahankan wajah profesionalnya dan tersenyum lebar, termasuk beberapa orang dalam antrean di belakang mereka yang tidak tahu konteksnya tapi ikut terinfeksi oleh sesuatu yang mengalir di udara terminal pagi itu.
Hendra memalingkan wajahnya ke dinding.
Satu detik. Dua detik.
Kemudian berbalik dengan mata yang merah tapi senyum yang tidak bisa ia tutup-tutupi.
"Iya, Pak," katanya, suaranya sedikit serak. "Ibu ikut."
Pak Rahmat mengangguk dengan puas — seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah persamaan matematika yang sederhana tapi penyelesaiannya sangat memuaskan. Ia melepas jimat itu dengan hati-hati, menaruhnya di nampan, melewati pemindai dengan lancar, kemudian mengambilnya kembali dan mengenakannya lagi dengan gerakan yang sudah sangat terlatih oleh puluhan tahun.
Mbak Sari masih mengelap sudut matanya ketika mereka akhirnya berkumpul di sisi lain pemeriksaan.
"Pak Rahmat," katanya, "bapak ini terlalu."
Pak Rahmat hanya tersenyum. Senyum yang tidak banyak berubah dari senyum yang pertama kali Adra lihat di malam pembacaan — tenang, dalam, milik seseorang yang sudah cukup lama di dunia untuk tahu bahwa hal-hal kecil seringkali menyimpan hal-hal yang paling besar.
❤oOo❤
Adra duduk di kursi ruang tunggu keberangkatan, sementara yang lain menyebar — Mbak Sari membagikan onde-onde untuk sarapan, Dafa membantu Pak Rahmat mencari kursi yang nyaman, Nira kembali memeriksa catatannya, Rudi mengirim foto suasana bandara kepada anaknya yang di rumah.
Adra mengeluarkan buku catatannya.
Bukan untuk menulis panjang. Hanya satu paragraf — tangkapan dari apa yang baru saja terjadi, sebelum pagi berlanjut dan momen itu kabur di antara semua yang akan terjadi selanjutnya:
Jimat kecil di leher Pak Rahmat. Tiga puluh tahun tidak pernah dilepas. Dan kalimat yang ia ucapkan ketika terpaksa melepasnya untuk sepuluh detik: "Ibumu ikut ke Makassar juga rupanya."
Itulah cara orang-orang yang benar-benar mencintai berbicara tentang kehilangan — bukan dengan duka yang ditampilkan, melainkan dengan kehadiran yang terus ia percayai. Orang yang dicintai tidak pergi dari cara mereka memandang dunia. Mereka hanya pindah ke tempat yang tidak semua orang bisa melihatnya — tapi yang selalu bisa dirasakan oleh yang tahu ke mana harus merasakan.
Wahyu perlu membaca ini.
Adra menutup buku catatannya.
Di pengeras suara terminal, suara pengumuman boarding mulai terdengar — pelan, dalam bahasa yang formal dan datar, mengundang para penumpang untuk bersiap.
Di sebelahnya, Pak Rahmat berdiri dengan koper hijau tuanya, menatap jendela besar yang memperlihatkan landasan pacu dan pesawat-pesawat yang diam menunggu. Matanya tidak gugup lagi — atau mungkin gugupnya sudah berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari gugup.
"Siap, Pak Rahmat?" tanya Adra.
Pak Rahmat menarik napas panjang. Perlahan.
Kemudian tersenyum dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya dan masih bisa berdiri dengan utuh di ujung semuanya.
"Siap," katanya. Satu kata. Sederhana.
Tapi dalam satu kata itu, Adra mendengar tujuh puluh dua tahun yang panjang, satu koper hijau tua, satu jimat logam dari mendiang istri, satu anak yang menulis tentangnya dengan cinta yang tidak perlu belajar cara menjadi cinta, dan satu pagi di terminal bandara yang gelap di luar tapi hangat di dalamnya.
Mereka berjalan bersama menuju gate.
Delapan orang dengan keberanian masing-masing dalam ukuran yang tidak bisa dibandingkan.
Menuju kota yang sudah lebih dulu menyimpan cerita mereka di rak perpustakaan kecil dengan tulisan tangan: BUKU YANG MEMBUAT KAMU INGAT SESEORANG.
Dan pesawat itu belum lepas landas.
Tapi perjalanannya sudah jauh.
Pada bab selanjutnya, Sang Penulis, Adra Atanid akan berbagi cerita tentang momen ketika ia membuka kertas lipat dari Ratna di kamar hotel Makassar — dan apa yang tertulis di sana membuat ia duduk diam di tepi ranjang cukup lama, kemudian berjalan ke jendela menatap kota yang tidak ia kenal, dan menyadari bahwa ia sudah siap naik ke panggung bukan karena ia sudah menyiapkan kata-kata yang tepat, melainkan karena ia membawa sesuatu yang jauh lebih kuat dari kata-kata apapun...
…. BERSAMBUNG!
💬 Adakah "jimat" dalam hidupmu — sesuatu kecil yang selalu kamu bawa kemana-mana karena ia menyimpan seseorang atau sesuatu yang paling berarti? Ceritakan di kolom komentar — karena kadang benda terkecil menyimpan cerita terbesar. 🔔 Follow sekarang — momen paling intim Adra di kamar hotel Makassar akan hadir di seri berikutnya! 📤 Bagikan episode ini kepada seseorang yang perlu diingatkan bahwa perjalanan yang paling bermakna tidak dimulai ketika kendaraannya bergerak — ia dimulai ketika orang-orang yang tepat memutuskan untuk pergi bersama.

Tulis Komentar di Bawah ini!