📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 73 – INFORMASI BERBAHAYA
Aku tidak membalas pesan Arka hari itu.
Tidak hari berikutnya juga.
Bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Tapi karena ada hal yang lebih penting untuk diselesaikan dulu — dan aku sudah belajar bahwa keputusan terbaik tidak pernah dibuat dalam keadaan terburu-buru.
Amplop cokelat kubuka malam itu di kamar.
Satu lembar kertas. Seperti yang Laras bilang — nama dan alamat.
Dian Kusuma Pertiwi.
Alamat di distrik selatan kota. Bukan area perkantoran — area perumahan padat yang kamu tidak akan lewati kalau tidak punya alasan untuk ke sana.
Di bawah alamat, satu baris tambahan dengan tulisan tangan yang berbeda dari nama dan alamat di atasnya — lebih kecil, lebih rapat, seperti ditambahkan belakangan.
Selasa. Setelah jam lima. Ia sudah tahu kamu akan datang.
Hari Senin aku habiskan untuk bekerja dan mengamati.
Mengamati dengan cara yang tidak mencolok — kebiasaan baru yang berkembang organik dalam dua minggu terakhir. Siapa yang datang lebih awal. Siapa yang pulang lebih malam dari yang perlu. Siapa yang berhenti sebentar di dekat mejaku terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Ada seorang pria dari tim keuangan yang tiga kali melewati mejaku tanpa keperluan yang jelas. Wajahnya familiar dari rapat-rapat rutin, namanya ada di daftar internal, tidak ada yang mencurigakan dari caranya berpakaian atau bekerja.
Tapi tiga kali dalam satu hari.
Aku catat.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Selasa pukul lima lewat dua puluh, aku berdiri di depan alamat yang tertera di amplop.
Rumah sederhana di gang sempit. Cat dinding putih yang sudah agak kusam. Tanaman dalam pot kecil di depan pintu — dirawat dengan baik, warnanya hijau segar. Satu-satunya tanda bahwa seseorang yang peduli tinggal di dalam.
Aku mengetuk.
Pintu dibuka bahkan sebelum ketukanku selesai.
Perempuan itu mungkin seusia denganku — awal tiga puluhan. Rambut hitam sebahu yang tidak disisir dengan rapi tapi entah kenapa terlihat disengaja. Kacamata berbingkai bulat. Kaos polos dan celana bahan yang kebesaran.
Wajahnya tidak menyambut, tidak menolak.
Hanya menilai.
"Rina," katanya. Bukan pertanyaan.
"Dian," balasku.
Ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Rumahnya kecil tapi tidak sesak.
Yang pertama kuperhatikan adalah rak buku yang menutupi hampir seluruh dinding ruang tamu — bukan rak dekorasi, tapi rak kerja. Buku-buku yang punggungnya sudah lusuh karena sering dibuka. Map-map dengan label yang ditulis tangan. Tumpukan kertas yang terorganisir dengan sistem yang tidak langsung aku mengerti tapi jelas punya logika.
Meja kerja di sudut dengan dua monitor. Satu menyala — layarnya berisi baris-baris kode atau data, aku tidak sempat membaca dari jauh.
"Duduk," kata Dian sambil berjalan ke arah dapur kecil. "Mau minum sesuatu?"
"Tidak perlu."
"Aku bikin teh untuk diriku sendiri. Kamu mau atau tidak itu pilihan kamu, tapi aku tetap bikin dua cangkir."
Aku duduk di sofa yang kainnya sudah sedikit pudar tapi bersih.
Mengamati ruangan.
Di dinding sebelah monitor, ada satu papan gabus yang penuh dengan kertas-kertas yang ditempel dengan pin warna merah. Dari sini aku tidak bisa membaca tulisannya — tapi polanya. Pola koneksi antar kertas-kertas itu, garis-garis yang ditarik dengan spidol merah.
Sangat mirip dengan peta yang kugambar di notebook dua hari lalu.
Hanya jauh lebih lengkap.
Dian kembali dengan dua cangkir teh. Meletakkan satu di depanku tanpa bertanya lagi.
Duduk di kursi berhadapan. Menyesap tehnya. Menatapku.
"Laras bilang kamu cerdas," katanya akhirnya. "Tapi juga bilang kamu masih terlalu mengandalkan yang sudah kamu ketahui dan kurang cepat mengakui yang belum kamu tahu."
"Itu penilaian yang cukup akurat."
"Bagus. Jadi kita tidak perlu buang waktu untuk basa-basi." Ia meletakkan cangkirnya. "Apa yang kamu ingat dari folder yang salah itu?"
Langsung.
Aku menghargai itu.
Kuambil cangkir teh — lebih untuk memberi diriku satu detik untuk memutuskan seberapa banyak yang akan kubagi di pertemuan pertama ini.
Lalu aku bicara.
Aku menceritakan apa yang kulihat tiga tahun lalu.
Bukan semuanya — ada bagian yang masih aku tahan, bukan karena tidak percaya, tapi karena kepercayaan perlu dibangun bertahap dan siapapun yang mengerti cara kerja informasi akan memahami itu.
Dian mendengarkan tanpa memotong. Tidak mencatat — tapi matanya bergerak dengan cara yang bilang bahwa ia merekam semuanya di kepalanya.
Ketika aku selesai, ia diam beberapa detik.
"Angka yang kamu lihat di kolom keempat," katanya. "Masih ingat formatnya?"
"Dua desimal. Diawali dengan kode tiga huruf."
Dian mengangguk pelan. Seperti seseorang yang baru mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sudah lama ia duga.
"Itu bukan format akuntansi standar," katanya. "Itu sistem kode yang aku buat sendiri waktu masih di Ardent. Untuk proyek yang seharusnya tidak pernah dibawa keluar dari lab."
"Proyek Senja," kataku.
Sesuatu bergerak di wajah Dian — cepat, tapi aku melihatnya. Bukan terkejut. Lebih seperti seseorang yang mendengar nama yang sudah lama tidak disebut dan merasakan efek dari itu.
"Di mana kamu dengar nama itu?"
"Dari Laras."
"Laras tahu nama itu dari mana?"
Aku mengingat percakapan di kafe. Caramu bereaksi tadi ketika aku menyebut folder yang salah.
"Dari reaksiku," jawabku jujur.
Dian menatapku. Lalu mengangguk satu kali — perlahan, seperti mengkonfirmasi sesuatu dalam benaknya sendiri.
"Duduk di sini sebentar."
Ia bangkit. Berjalan ke meja kerja. Membuka laci bawah yang terkunci — kunci yang digantung di dalam kaosnya, bukan di meja. Mengeluarkan sebuah folder tebal yang sudah lecek di sudut-sudutnya.
Membawa folder itu ke meja kopi di antara kami.
Meletakkannya.
Tidak membukanya.
"Sebelum aku tunjukkan ini," katanya, duduk kembali, "aku perlu kamu tahu satu hal dulu."
Aku menunggu.
"Informasi yang ada di dalam folder ini — kalau tersebar ke orang yang salah — bisa menghancurkan beberapa karir sekaligus. Bisa membuat beberapa orang masuk penjara." Matanya tidak berpindah dari mataku. "Dan bisa membuat beberapa orang lain melakukan hal yang tidak menyenangkan untuk memastikan itu tidak terjadi."
"Aku mengerti risikonya."
"Belum tentu." Ia meluruskan punggungnya. "Karena salah satu nama yang ada di dalam folder ini — aku yakin kamu tidak siap untuk melihatnya."
Sesuatu di perutku bergerak.
"Nama siapa?"
Dian tidak langsung menjawab.
Ia membuka folder itu — perlahan, seperti seseorang yang membuka sesuatu yang sudah lama disimpan dan tahu bahwa sekali dibuka tidak bisa kembali tertutup dengan cara yang sama.
Halaman demi halaman. Data. Laporan. Korespondensi internal yang formatnya aku kenali dari tiga tahun di Ardent.
Ia berhenti di satu halaman.
Memutarnya menghadapku.
Aku membacanya.
Laporan internal. Tanggal dua tahun lalu. Subjek: Otorisasi Akses Level 3 — Proyek Senja.
Di bagian bawah — kolom persetujuan dengan tanda tangan digital.
Tiga nama.
Dua nama pertama aku tidak kenal.
Nama ketiga — aku membacanya dua kali. Tiga kali. Memastikan mataku tidak membuat kesalahan.
Arka Wisnuwardana. Direktur Strategi. Ardent Consulting.
Aku meletakkan halaman itu kembali ke meja.
Tangan yang meletakkannya terasa bukan milikku.
"Ia tahu," kataku. Suaraku keluar lebih datar dari yang kurasa di dalam.
"Lebih dari tahu." Dian membalik ke halaman berikutnya. "Ia yang mengajukan perluasan akses ke sistem yang tidak harusnya ada di divisinya. Dua bulan sebelum kamu secara tidak sengaja masuk ke folder yang salah itu."
Aku diam.
"Artinya—"
"Artinya," Dian memotong dengan pelan, "folder itu muncul di jalur aksesmu bukan karena error sistem biasa."
Hening.
Jam dinding Dian berdetak. Suara motor dari gang di luar. Cangkir tehku yang sudah mendingin di depanku.
Folder itu muncul di jalur aksesmu bukan karena error sistem biasa.
Aku mengurai kalimat itu.
Lapis demi lapis.
Sampai ke intinya yang paling keras dan paling tidak ingin aku sentuh.
"Seseorang sengaja menaruhnya di sana," kataku akhirnya.
"Ya."
"Dan orang yang punya level akses untuk melakukan itu—"
"Sangat terbatas." Dian menutup folder itu. "Tiga orang. Dua dari mereka sudah tidak lagi relevan." Ia menatapku. "Yang ketiga — kamu sudah tahu namanya."
Arka.
Arka yang dua minggu lalu berdiri di parkiran basement dan bilang ia khawatir tentang keselamatanku.
Arka yang datang ke depan pintu kamarku malam itu dengan wajah yang takut.
Arka yang bilang ada yang belum aku bilang semalam.
Berapa banyak yang belum ia bilang?
Dan berapa banyak dari yang sudah ia bilang yang bisa dipercaya?
"Kenapa?" tanyaku. Suaraku lebih kecil dari yang kurencanakan. "Kenapa ia menaruh folder itu di jalur aksesmu?"
Dian diam sebentar.
"Itu pertanyaan yang jawabannya aku tidak punya secara pasti." Ia menyesap tehnya yang sudah hampir habis. "Tapi ada dua kemungkinan. Satu — ia membutuhkan seseorang di luar lingkarannya untuk tahu tentang proyek itu. Semacam asuransi." Jeda. "Dua — ada yang menyuruhnya melakukannya. Dan kamu dipilih karena kamu dekat dengannya, jadi kalau ada yang perlu disalahkan kemudian—"
"Mudah diarahkan ke aku." Aku menyelesaikan kalimatnya.
Dian mengangguk.
Kemungkinan pertama — Arka menggunakanku sebagai asuransi.
Kemungkinan kedua — Arka menggunakanku sebagai kambing hitam.
Keduanya sama-sama menyakitkan dengan cara yang berbeda.
Dan keduanya sama-sama menjelaskan kenapa tiga tahun bersamanya terasa seperti berdiri di atas fondasi yang tidak pernah sepenuhnya padat.
"Ada satu hal lagi," kata Dian.
Aku mendongak.
Ia membuka folder sekali lagi. Halaman yang berbeda — lebih dalam. Kertas yang lebih kusut, seperti halaman yang paling sering dibuka.
Ia tidak memutarnya ke arahku langsung.
"Proyek Senja bukan hanya tentang data kompetitor," katanya. "Di intinya, proyek itu adalah sistem yang aku bangun untuk pemetaan risiko — seharusnya digunakan untuk analisis pasar yang lebih etis, lebih transparan." Suaranya berubah satu nada — lebih dalam, lebih keras di pinggirannya. "Tapi mereka mengubahnya. Memodifikasi arsitekturnya. Menjadikannya alat untuk sesuatu yang sama sekali bukan itu."
"Alat untuk apa?"
Dian memutar halaman itu ke arahku.
Aku membacanya.
Satu paragraf. Singkat. Tapi setiap kata di dalamnya terasa seperti menampar.
Proyek Senja dalam versi yang dimodifikasi — bukan lagi sistem pemetaan risiko.
Sistem pemantauan. Pengumpulan data personal tanpa izin. Target: individu-individu tertentu yang dianggap mengancam kepentingan klien-klien Ardent.
Di bawah paragraf itu, daftar target.
Nama pertama di daftar itu — seseorang yang tidak aku kenal.
Nama kedua — seseorang yang tidak aku kenal.
Nama ketiga.
Rina Amelia.
Ruangan tidak berputar.
Aku tidak pingsan, tidak gemetar, tidak melakukan hal-hal dramatis yang terjadi di cerita-cerita.
Aku hanya duduk sangat diam dan membiarkan kenyataan itu masuk dengan cara yang pelan dan menyeluruh seperti air yang mengisi ruang.
Namaku sudah ada di daftar itu.
Sudah lama.
Bahkan sebelum aku pergi dari Ardent. Bahkan sebelum aku pindah ke kota ini. Bahkan mungkin — sebelum aku sadar bahwa ada sesuatu yang perlu aku khawatirkan.
"Sejak kapan?" tanyaku.
"Namamu masuk daftar delapan belas bulan lalu."
Delapan belas bulan.
Setengah tahun sebelum aku akhirnya pergi.
Satu tahun sebelum aku berdiri di depan cermin kecil di balik pintu kamar kos dan memutuskan untuk menjadi seseorang yang berbeda.
"Arka tahu namaku ada di sana?"
Dian menatapku.
Tidak langsung menjawab.
Dan keheningan itu lebih keras dari jawaban apapun yang bisa ia ucapkan.
"Berapa lama kamu simpan semua ini?" tanyaku akhirnya.
"Dua tahun." Ia menutup folder. Mengembalikannya ke tempat asalnya — tidak di laci terkunci, kali ini di atas meja. Seperti sesuatu yang sudah berpindah status. "Aku tunggu sampai ada seseorang yang bisa membantuku melakukan sesuatu dengan ini. Bukan hanya menyimpannya."
"Dan kamu pikir aku orang itu?"
"Aku pikir kamu salah satu dari beberapa yang perlu bekerja sama." Ia menatapku langsung. "Karena sendirian — aku hanya peneliti tanpa akses. Laras hanya analis tanpa bukti. Dan kamu—" Ia berhenti sebentar. "Kamu adalah satu-satunya yang punya nama di daftar itu sekaligus bekerja di dalam sistem yang bisa kita gunakan untuk membongkarnya."
Aku berdiri.
Berjalan ke jendela kecil yang menghadap gang.
Di luar — malam yang biasa. Lampu rumah-rumah. Suara televisi dari tetangga. Kucing yang berjalan santai di atas tembok.
Dunia yang tidak tahu apa-apa tentang Proyek Senja. Tentang folder yang salah. Tentang namaku di daftar yang tidak seharusnya ada.
"Arka mengirim pesan," kataku tanpa menoleh. "Bilang ada yang belum ia ceritakan."
"Kamu mau menemuinya?"
Aku diam sebentar.
"Aku perlu tahu seberapa dalam ia terlibat." Aku berbalik. "Sebelum aku memutuskan apakah ia masuk dalam rencana ini — atau menjadi bagian dari yang perlu dihadapi."
Dian mengangguk.
Sekali. Pelan. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu seseorang lain sampai pada kesimpulan yang tepat.
"Ada satu hal yang perlu kamu bawa," katanya.
Ia berjalan ke rak buku. Mencari di antara map-map berlabel. Menemukan yang ia cari — map tipis, warna biru pudar.
Menyerahkannya padaku.
"Apa ini?"
"Log akses sistem Ardent dari dua tahun lalu." Matanya langsung. "Termasuk log dari malam folder itu dibuka di jalur aksesmu."
Aku menatap map itu.
"Dan nama siapa yang tercatat membuka aksesnya?"
Dian menjawab.
Satu nama.
Bukan nama yang ada di kolom persetujuan tadi.
Nama yang lebih tidak terduga dari itu.
Nama yang membuat semua yang aku pikir sudah kupahami tentang situasi ini — runtuh dan menyusun ulang dirinya sendiri dalam formasi yang sama sekali berbeda.
Aku keluar dari rumah Dian dengan map biru di dalam tas.
Berjalan di gang sempit menuju jalan besar.
Peta di kepalaku sudah tidak sama dengan peta yang kugambar di notebook.
Semua garisnya masih ada.
Tapi arahnya berbeda.
Dan satu nama yang baru saja Dian sebutkan —
Berdiri di tengah semua garis itu.
Bukan di tepi.
Bukan sebagai catatan kecil.
Tepat di pusat.
Nama yang tidak pernah kusangka.
Laras.

Tulis Komentar di Bawah ini!