📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 74 – DILEMA HATI
Aku pulang dengan kepala yang terlalu penuh dan langkah yang terlalu cepat.
Bukan panik. Tapi sesuatu yang berdekatan dengan itu — energi yang tidak punya tempat keluar, pikiran yang berputar lebih cepat dari kemampuanku untuk memilahnya.
Laras.
Nama yang Dian sebutkan.
Laras yang memberiku data. Laras yang menyuruhku baca halaman terakhir map cokelat. Laras yang duduk di meja pojok kafe dan bercerita tentang dirinya dengan cara yang terasa seperti kepercayaan.
Laras yang rupanya — dua tahun lalu — membuka akses folder itu ke jalur sistemku.
Bukan Arka yang meletakkannya di sana.
Laras.
Tapi nama Arka ada di kolom persetujuan Proyek Senja.
Artinya — keduanya terlibat. Dengan cara yang berbeda. Dengan tujuan yang mungkin berbeda. Atau mungkin sama. Atau mungkin — yang paling rumit dari semua kemungkinan — keduanya adalah pion dari seseorang yang lebih jauh lagi di belakang.
Aku sampai di kamar.
Menutup pintu. Menguncinya. Berdiri di tengah ruangan kecil itu dengan tas masih di bahu dan sepatu masih di kaki.
Kipas angin berbunyi krek.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Aku meletakkan tas. Melepas sepatu. Duduk di tepi kasur.
Map biru dari Dian ada di dalam tas.
Aku mengeluarkannya.
Meletakkannya di atas kasur di sebelahku.
Tidak membukanya.
Hanya menatapnya.
Di dalam map itu ada log akses yang membuktikan Laras membuka folder tersebut ke jalur sistemku dua tahun lalu. Yang artinya Laras yang membuat aku — secara tidak sengaja — melihat data yang seharusnya tidak bisa kuakses.
Pertanyaannya: mengapa?
Laras bilang ia pernah ada di posisiku. Bahwa tidak ada yang duduk di seberangnya dan memberitahu apa yang perlu ia tahu.
Tapi bagaimana kalau itu bagian dari cerita yang lebih rumit?
Bagaimana kalau ia membukakan akses itu bukan untuk membantu — tapi untuk memastikan ada seseorang yang tahu sesuatu, sehingga kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, seseorang itu bisa digunakan?
Digunakan.
Kata yang aku kenal dengan terlalu baik.
Aku bangkit. Berjalan ke meja. Mengambil notebook — bukan yang berisi perasaan, tapi yang berisi peta.
Membuka halaman terakhir yang kuisi.
Menambahkan nama Laras di tengah — bukan di tepi seperti sebelumnya, bukan dengan tanda tanya. Dengan lingkaran merah yang kutarik dari semua arah.
Lalu aku duduk dan menatap gambar itu.
Semua garis mengarah ke Laras.
Semua garis juga mengarah ke Arka.
Dan namaku ada di tengah keduanya.
Ponselku menyala.
Pesan dari Arka. Ketiga kalinya dalam dua hari.
"Rina. Aku tahu kamu sibuk. Tapi ini penting. Tolong balas."
Aku menatap pesan itu.
Jari-jariku di atas layar.
Ada dua versi Arka yang sekarang hidup berdampingan di kepalaku dan tidak bisa dipisahkan dengan mudah.
Versi pertama: namanya ada di kolom persetujuan dokumen yang mengubah sistem Dian menjadi alat pemantauan. Namaku ada di daftar target pemantauan itu. Ia tahu — atau mungkin ia yang menyuruh — atau mungkin ia tidak punya pilihan — atau mungkin ia terlalu dalam untuk keluar.
Versi kedua: ia berdiri di lorong sempit kos-ku dengan wajah yang takut. Ia bilang aku tidak seharusnya membiarkanmu pergi dengan cara itu. Ia datang dengan terburu-buru tanpa jam tangan mahal. Ia meninggalkan kartu untuk nomor yang tidak terhubung ke kantornya.
Dua versi yang sama-sama nyata.
Dan aku tidak tahu yang mana yang lebih berbahaya — percaya terlalu banyak, atau tidak percaya sama sekali.
Aku meletakkan ponsel tanpa membalas.
Mengambil buku catatan yang satunya lagi — yang berisi janji dan perasaan.
Membuka halaman baru.
Menulis pertanyaan yang sudah berputar di kepala sejak aku keluar dari rumah Dian:
Apa yang kamu inginkan, Rina?
Bukan pertanyaan strategis. Bukan tentang peta atau nama atau log akses.
Pertanyaan yang lebih mendasar dari itu.
Yang ingin aku lakukan dengan semua informasi ini — apakah itu tentang kebenaran? Tentang keadilan? Tentang melindungi diri sendiri?
Atau — dan ini bagian yang paling susah untuk ditulis — apakah ada sebagian kecil dari semua ini yang masih tentang Arka?
Aku menatap kalimat yang baru kutulis.
Apakah ada sebagian kecil dari semua ini yang masih tentang Arka?
Lama.
Terlalu lama.
Bohong kalau aku bilang tidak.
Bohong yang terlalu jelas bahkan untuk diriku sendiri.
Ada sesuatu yang masih ada — bukan cinta yang sama, bukan kerinduan yang sama. Tapi sesuatu yang lebih tua dari itu. Sesuatu yang terbentuk dari tiga tahun berbagi waktu dan cerita dan momen-momen kecil yang tidak bisa dihapus hanya karena semuanya akhirnya salah.
Kamu tidak bisa mencintai seseorang selama tiga tahun dan kemudian berpura-pura bahwa mereka hanya strangers.
Tubuhmu tidak bekerja seperti itu.
Memorimu tidak bekerja seperti itu.
Tapi ada perbedaan antara masih merasakan sesuatu dan membiarkan sesuatu itu mengambil alih keputusanmu.
Aku sudah belajar perbedaan itu dengan cara yang mahal.
Aku menulis lagi.
Dua pilihan.
Satu: gunakan semua yang kamu tahu. Bersama Dian. Bersama Nakamura. Bongkar Proyek Senja. Biarkan nama-nama yang ada di kolom persetujuan itu menghadapi konsekuensinya — termasuk nama Arka.
Dua: temui Arka dulu. Dengarkan apa yang belum ia ceritakan. Cari tahu seberapa dalam — dan putuskan apakah ia korban atau pelaku sebelum menarik pelatuk.
Pilihan satu terasa lebih bersih.
Lebih tegas. Lebih sesuai dengan janji-janji yang sudah kutuliskan di halaman-halaman sebelumnya. Tidak akan kembali lemah. Tidak akan memohon. Tidak akan menyesuaikan diri demi orang yang tidak memilihmu.
Melindungi Arka — atau bahkan sekadar menundanya — terasa seperti langkah mundur ke versi diriku yang sudah kurobekkan fotonya.
Tapi pilihan dua terasa lebih — manusiawi.
Dan aku tidak yakin apakah manusiawi di sini adalah kebijaksanaan atau kelemahan.
Aku bangkit.
Berjalan ke jendela.
Gang di bawah sudah sepi. Lampu yang satu masih mati. Gerimis tipis yang mulai turun lagi.
Selalu hujan.
Ada satu hal yang tidak masuk ke dalam dua pilihan yang kutuliskan itu.
Sesuatu yang Dian katakan sebelum aku pergi — bukan dengan kata-kata, tapi dengan caranya diam setelah aku tanya apakah Arka tahu namaku ada di daftar target.
Keheningan itu punya artinya sendiri.
Tapi ada satu interpretasi yang belum aku berani tulis:
Bagaimana kalau Arka tahu namaku ada di daftar itu — dan itu justru kenapa ia meletakkan folder tersebut di jalur aksesqu?
Bukan untuk menggunakanku.
Bukan untuk menjadikanku kambing hitam.
Tapi untuk memastikan aku tahu. Untuk memberiku sesuatu yang bisa kugunakan untuk melindungi diriku sendiri — tanpa ia harus bicara langsung dan mempertaruhkan posisinya.
Caranya yang tidak langsung. Caranya yang tidak pernah bisa bilang sesuatu dengan jelas. Caranya yang membuat semua orang — termasuk aku — tidak pernah yakin apa yang sebenarnya ia maksudkan.
Tiga tahun penuh frustrasi karena cara itu.
Dan sekarang cara yang sama mungkin — mungkin — adalah bukti bahwa tidak semua yang ia lakukan sesedingin yang terlihat.
Atau aku sedang mencari-cari alasan.
Aku menulis kalimat itu.
Menggarisbawahi dua kali.
Jam sepuluh malam.
Aku sudah duduk dengan buku catatan ini selama dua jam dan masih belum punya jawaban yang lebih baik dari ketika aku mulai.
Tapi ada satu hal yang berubah dalam dua jam itu.
Bukan keputusan. Belum.
Tapi kejernihan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diriku — bahwa ini bukan pilihan antara strategi dan strategi lain. Ini pilihan antara siapa aku sekarang dan siapa aku ingin menjadi.
Perempuan di foto yang sudah kurobekkan itu akan mengambil pilihan dua. Akan menemui Arka. Akan mendengarkan. Akan berharap ada penjelasan yang membuat segalanya masuk akal. Akan membuka ruang untuk kemungkinan bahwa ia tidak sesalah yang terlihat.
Bukan karena logis.
Tapi karena tidak kuat untuk tidak melakukannya.
Perempuan yang sedang kususun sekarang — yang buku catatannya penuh dengan janji dan peta dan nama-nama di lingkaran merah — juga akan mengambil pilihan dua.
Tapi dengan alasan yang berbeda.
Bukan karena berharap.
Tapi karena informasi yang lengkap selalu lebih baik dari yang setengah. Karena sebelum bergerak, kamu perlu tahu posisi semua bidak di papan — termasuk bidak yang pernah kamu anggap milikmu.
Aku mengambil ponsel.
Mengetik.
Singkat. Tanpa penjelasan. Tanpa emosi yang terlihat.
"Besok. Jam enam sore. Tempat yang kamu pilih. Kirim alamatnya."
Send.
Ponsel diletakkan.
Aku menutup buku catatan. Meletakkannya di laci bersama map biru dari Dian dan kartu putih polos dari Arka.
Tiga benda yang sekarang menjadi bagian dari sesuatu yang belum selesai.
Tapi sebelum aku mematikan lampu — satu hal terakhir yang kulakukan.
Aku membuka halaman paling pertama buku catatan ini. Halaman yang sudah ada jauh sebelum peta dan nama dan rencana.
HAL YANG TIDAK AKAN PERNAH KULAKUKAN LAGI.
Nomor tiga.
Menjadi kecil supaya seseorang merasa besar.
Aku membacanya.
Lalu menambahkan satu baris di bawahnya — bukan larangan baru, tapi pengingat untuk besok:
Kamu bisa mendengarkan tanpa menjadi lemah. Kamu bisa memahami tanpa memaafkan. Kamu bisa tahu segalanya tentang seseorang dan tetap memilih dirimu sendiri.
Lampu dimatikan.
Gelap.
Kipas angin berbunyi krek.
Dua puluh menit kemudian ponselku menyala.
Pesan dari Arka.
Alamat. Nama restoran di distrik barat yang tidak aku kenal.
Dan satu kalimat di bawahnya yang membuat mataku tidak langsung tertutup:
"Rina. Yang akan aku ceritakan besok — aku minta kamu dengarkan sampai selesai sebelum memutuskan apapun."
Jeda sebentar.
Lalu pesan kedua masuk.
"Karena yang aku ceritakan menyangkut keselamatanmu. Dan juga menyangkut seseorang yang sekarang kamu percaya — yang tidak seharusnya kamu percaya."
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tiga kali.
Lalu meletakkan ponsel menghadap bawah di atas kasur.
Dan menatap langit-langit dalam gelap.
Sambil bertanya-tanya apakah Arka sedang bicara tentang Laras.
Atau tentang Dian.
Atau tentang seseorang yang ketiga yang belum masuk dalam petaku sama sekali.

Tulis Komentar di Bawah ini!