📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 75 – SERANGAN PERTAMA
Aku tidak jadi menemui Arka jam enam sore itu.
Bukan karena takut.
Bukan karena berubah pikiran.
Tapi karena jam dua siang — empat jam sebelum pertemuan yang sudah kusetujui — sesuatu terjadi yang mengubah semua kalkulasi dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Pak Hendra memanggil seluruh tim divisi strategi ke ruang rapat besar.
Bukan rapat rutin. Wajah-wajah yang masuk ke ruangan itu membawa ekspresi yang sama — tidak tahu apa yang akan disampaikan, tapi cukup sensitif untuk merasakan bahwa ini bukan hal kecil.
Aku mengambil kursi di sisi kanan meja. Laras duduk di ujung kiri. Kami tidak saling menatap.
Pak Hendra menutup pintu sendiri.
"Ada kebocoran," katanya langsung.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada pembukaan.
Ruangan yang sudah hampir sunyi menjadi lebih sunyi.
"Proposal ekspansi kota ketiga yang selesai dua minggu lalu — versi lengkapnya sudah ada di tangan kompetitor." Pak Hendra meletakkan ponselnya di meja. Di layarnya ada screenshot dokumen — format yang aku kenali karena aku yang menyusunnya. "Ardent Consulting presentasi ke investor yang sama dengan kita pagi tadi. Dengan data yang hampir identik."
Suara kursi bergeser.
Seseorang menghela napas pelan.
Aku tidak bergerak.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Di dalam kepala, sesuatu mulai bergerak dengan cepat — bukan panik, tapi kalkulasi. Siapa yang punya akses ke dokumen final itu. Siapa yang bisa mengirimkannya keluar. Berapa orang yang ada di dalam rantai distribusi file itu sebelum sampai ke server.
"Investigasi internal sudah dimulai," lanjut Pak Hendra. "Semua orang di ruangan ini adalah prioritas pertama yang akan diwawancara tim keamanan." Matanya menyapu ruangan — profesional, tidak menuduh, tapi tidak juga mengecualikan siapapun. "Bukan tuduhan. Tapi prosedur."
Rapat selesai dalam dua puluh menit.
Orang-orang keluar dengan berbagai kecepatan — ada yang langsung menelepon, ada yang berbisik ke rekan sebelahnya, ada yang hanya berjalan cepat kembali ke meja dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Aku berjalan keluar dengan langkah normal.
Tapi di kepala, peta itu sudah berputar.
Dokumen itu ada di tanganku pertama kali sebelum ke siapapun.
Artinya kalau ada yang mau menjebak seseorang — namaku adalah yang paling mudah.
Analis baru. Latar belakang Ardent. Mantan kekasih direktur strategi Ardent.
Narratif yang terlalu rapi untuk kebetulan.
Aku kembali ke meja.
Membuka laptop.
Bukan untuk bekerja.
Untuk memeriksa sesuatu yang sudah lama ingin kuperiksa tapi selalu kutunda karena belum waktunya.
Sekarang waktunya.
Sistem internal Nakamura menggunakan protokol log akses yang mirip dengan Ardent — aku mengenali arsitekturnya dari hari pertama masuk, tapi tidak berkomentar karena tidak relevan waktu itu.
Sekarang sangat relevan.
Setiap kali file dibuka, dimodifikasi, dikirim — ada jejaknya. Bukan di tempat yang mudah ditemukan oleh pengguna biasa. Tapi bagi seseorang yang tiga tahun bekerja di sistem serupa dan pernah — secara tidak sengaja — masuk ke folder yang salah dan melihat cara log itu bekerja dari dalam.
Aku mulai mengetik.
Dua belas menit.
Bukan waktu yang singkat. Bukan waktu yang terlalu lama.
Cukup untuk menemukan apa yang kucari.
Log akses dokumen ekspansi kota ketiga. Dibuka terakhir kali oleh tiga akun berbeda dalam dua hari terakhir sebelum kebocoran.
Akun pertama: aku sendiri. Wajar.
Akun kedua: Pak Hendra. Wajar.
Akun ketiga—
Nomor akun yang tidak terdaftar dalam direktori internal Nakamura.
Akun hantu.
Yang masuk dari IP address eksternal menggunakan kredensial yang seharusnya sudah tidak aktif sejak tiga bulan lalu.
Tiga bulan lalu — satu bulan sebelum aku mulai bekerja di sini.
Aku menyimpan data itu.
Bukan di server kantor. Di drive eksternal kecil yang selalu ada di dalam tasku — kebiasaan lama yang dulu terasa paranoid, sekarang terasa seperti kebijaksanaan.
Menutup semua tab.
Berdiri.
Jam tiga sore.
Tiga jam sebelum pertemuan dengan Arka yang mungkin tidak akan jadi.
Aku berjalan ke pantri. Menuang air. Berdiri di depan jendela yang menghadap ke selatan.
Dari sini, kalau cuaca cerah, kamu bisa melihat distrik keuangan di kejauhan — gedung-gedung yang namanya semua orang tahu, tempat keputusan-keputusan yang menggerakkan banyak hal dibuat setiap hari oleh orang-orang yang tidak pernah kelihatan.
Ardent Consulting punya kantor di salah satu gedung itu.
Aku minum airnya pelan.
Berpikir.
Ada dua hal yang sekarang ada di tanganku.
Pertama: log akses dengan akun hantu yang membuktikan dokumen itu diambil dari luar — bukan oleh orang dalam Nakamura.
Kedua: map biru dari Dian yang berisi bukti modifikasi Proyek Senja beserta nama-nama yang memberikan persetujuan.
Masing-masing, sendiri-sendiri, cukup untuk membuat kerusakan.
Tapi digabungkan — dan disebarkan dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, kepada orang yang tepat — keduanya bisa menjadi sesuatu yang tidak bisa diredam.
Pertanyaannya bukan lagi apakah aku akan bergerak.
Pertanyaannya adalah bagaimana dan kapan dan dari sudut mana.
Aku kembali ke meja.
Mengirim pesan ke Arka.
Singkat. Dingin. Profesional.
"Tidak bisa hari ini. Ada situasi di kantor."
Kirim.
Lalu menutup aplikasi pesan sebelum ia sempat membalas.
Jam empat sore, tim keamanan internal mulai memanggil orang satu per satu ke ruang kecil di lantai tiga belas.
Namaku dipanggil pukul empat empat puluh lima.
Ruang kecil itu tidak menyeramkan — meja, dua kursi, satu kamera di sudut atas yang menyala dengan lampu merah kecil. Seorang pria berusia empat puluhan yang memperkenalkan dirinya sebagai Reza dari tim keamanan korporat.
Matanya profesional. Tidak bersahabat, tidak bermusuhan.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Mbak Rina."
"Tentu."
"Saya akan langsung ke poinnya." Ia membuka tablet di depannya. "Mbak adalah analis yang menyusun dokumen ekspansi yang bocor. Mbak juga punya latar belakang dari Ardent Consulting — perusahaan yang hari ini menggunakan data serupa dalam presentasi mereka."
Aku mengangguk. Tidak mengisi keheningan yang ia tinggalkan setelah kalimat itu.
Ia menunggu.
Aku menunggu lebih lama.
"Ada yang ingin Mbak jelaskan?"
"Ada," kataku. "Tapi saya rasa akan lebih efisien kalau saya tunjukkan langsung."
Aku mengeluarkan drive eksternal kecil dari dalam tas.
Meletakkannya di meja.
Reza menatap drive itu. Lalu menatapku.
"Apa ini?"
"Log akses dokumen yang bocor itu," jawabku tenang. "Termasuk akun eksternal yang mengaksesnya dua hari sebelum Ardent presentasi. Dengan IP address dan timestamp yang bisa diverifikasi."
Hening.
Reza mengambil drive itu. Melihatnya sebentar.
"Dari mana Mbak dapat ini?"
"Dari sistem yang sama dengan yang digunakan tim keamanan di sini. Saya hanya tahu cara melihat ke tempat yang tepat." Aku bertemu matanya. "Saya tidak mencuri dokumen itu, Pak Reza. Tapi saya bisa membantu menemukan siapa yang melakukannya — kalau Bapak dan tim memang ingin tahu."
Reza mempelajari wajahku selama beberapa detik.
Kemudian ia membuat satu keputusan kecil yang terlihat dari cara tubuhnya sedikit berubah posisi — dari interogator menjadi seseorang yang mendengarkan.
"Lanjutkan," katanya.
Aku bicara selama dua puluh menit.
Tidak semuanya. Belum.
Aku tidak menyebut Proyek Senja. Tidak menyebut Dian. Tidak menyebut map biru.
Hanya yang perlu ia tahu sekarang: ada akun eksternal yang masuk ke sistem, ada pola yang konsisten dengan cara kerja yang bukan kebetulan, dan ada alasan struktural kenapa Ardent bisa punya akses ke sistem Nakamura yang seharusnya tertutup.
Cukup untuk membuat ia serius.
Tidak cukup untuk membuat aku kehilangan kendali atas informasi yang lebih besar.
Reza menutup tabletnya ketika aku selesai.
"Saya perlu bawa ini ke Pak Hendra."
"Silakan." Aku berdiri. "Tapi satu hal, Pak."
Ia mendongak.
"Ini masih awal dari gambaran yang lebih besar." Aku menjaga suaraku tetap datar. "Kalau Nakamura ingin menangani ini dengan benar — bukan hanya menutup kebocoran ini tapi benar-benar memutus akses yang tidak seharusnya ada — saya bisa membantu lebih jauh."
"Itu tawaran?"
"Itu informasi tentang apa yang saya bisa kontribusikan." Aku tersenyum tipis — bukan senyum yang ramah, tapi senyum seseorang yang tahu persis nilainya. "Keputusannya ada di Bapak dan Pak Hendra."
Aku keluar dari ruang kecil itu pukul lima lewat dua puluh.
Lift ke lantai sebelas.
Kembali ke meja.
Laras melirikku ketika aku duduk.
Cepat. Terukur. Seperti biasa.
Aku membuka laptop tanpa menoleh ke arahnya.
Tiga puluh detik kemudian, notifikasi kecil muncul di pojok kiri layar — pesan internal dari akun Laras.
Satu baris.
"Apa yang kamu lakukan tadi di lantai tiga belas?"
Aku mengetik balasan.
Dua kata.
"Pekerjaan saya."
Menutup notifikasi.
Kembali ke dokumen.
Jam enam sore.
Jam yang harusnya aku duduk di restoran di distrik barat dan mendengarkan Arka bicara tentang seseorang yang tidak seharusnya kupercaya.
Tapi aku masih di sini. Di depan layar. Di tengah sesuatu yang sudah mulai bergerak.
Ponsel bergetar.
Arka.
"Kamu tidak datang."
Aku tidak membalas.
Dua menit kemudian, pesan kedua.
"Rina. Vera tahu kamu ke tempat Dian kemarin."
Aku berhenti mengetik.
Menatap layar.
"Kamu punya waktu dua puluh empat jam sebelum ia bergerak. Saya tidak bisa tahan lebih dari itu."
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Vera tahu kamu ke tempat Dian.
Vera — direktur operasional Ardent yang baru. Yang ada di restoran itu. Yang berblazer krem. Yang menunggunya Arka dengan tatapan seseorang yang sudah tahu namaku jauh sebelum hari itu.
Pesan ketiga masuk.
"Tolong."
Satu kata.
Dari seseorang yang tiga tahun tidak pernah mengucapkannya.
Aku meletakkan ponsel menghadap bawah di meja.
Menarik napas.
Mengeluarkannya perlahan.
Di luar jendela, langit sudah gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu. Dunia yang tidak berhenti bergerak meskipun kamu butuh satu menit untuk diam.
Dua puluh empat jam.
Aku menghitung mundur di kepala.
Apa yang sudah ada di tanganku: log akses dengan akun hantu, sudah di tangan tim keamanan Nakamura. Map biru dari Dian dengan bukti persetujuan Proyek Senja, masih di laciku. Nama Laras di log akses folder dua tahun lalu, belum digunakan.
Apa yang belum: koneksi antara semua itu. Bukti yang cukup kuat untuk tidak bisa diredam. Seseorang dengan posisi dan kepentingan yang tepat untuk menggerakkan semua ini ke arah yang tidak bisa diputar balik.
Dua puluh empat jam.
Cukup — kalau aku bergerak sekarang.
Aku mengambil ponsel.
Bukan untuk membalas Arka.
Untuk mengirim pesan ke nomor lain.
Nomor yang belum pernah kuinisiasi — selalu mereka yang menghubungiku duluan.
Kali ini aku yang memulai.
"Dian. Kita perlu percepat timeline. Besok pagi. Bawa semua yang kamu punya."
Send.
Lalu aku membuka kontak lain.
Pak Hendra.
"Pak, ada informasi tambahan yang perlu Bapak ketahui malam ini. Bukan lewat sistem kantor. Bisa telepon?"
Send.
Dua pesan keluar.
Aku meletakkan ponsel di atas meja — menghadap atas kali ini.
Menunggu.
Ponsel Pak Hendra berdering dalam tiga puluh detik.
Aku mengangkat.
"Rina." Suaranya lebih serius dari rapat siang tadi. "Ada apa?"
"Pak Hendra." Aku memilih kata-kata dengan hati-hati. "Yang bocor tadi bukan insiden tunggal. Itu bagian dari sesuatu yang sudah berjalan lebih lama dari yang kita kira." Jeda satu detik. "Dan saya punya buktinya."
Hening di ujung sana.
Lalu:
"Besok pagi. Jam tujuh. Kantor saya. Sebelum orang lain datang."
Telepon mati.
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
Ruangan sudah hampir kosong — orang-orang pulang satu per satu. Hanya beberapa yang masih di meja, tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.
Laras sudah tidak ada.
Entah kapan ia pergi.
Aku menyimpan semua dokumen. Menutup laptop. Memasukkan drive eksternal ke dalam tas bersama map biru.
Berdiri.
Mengambil tas.
Tapi baru dua langkah dari meja, seseorang berdiri di ujung lorong.
Bukan Laras. Bukan Wulan.
Perempuan yang belum pernah kulihat di kantor ini sebelumnya.
Blazer krem.
Rambut tersisir sempurna.
Menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa disebut ramah — tapi juga terlalu terukur untuk disebut ancaman terbuka.
Vera.
Di sini.
Di lantai sebelas gedung Nakamura.
"Rina Amelia," katanya.
Suaranya lebih dingin dari AC ruangan.
"Kita perlu bicara sebelum kamu melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki."

Tulis Komentar di Bawah ini!