📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 76 – KEJATUHAN KECIL
Sudut pandang berganti.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama — bukan Rina yang berdiri di tengah cerita ini.
Tapi Arka.
Arka Wisnuwardana tiba di kantornya pukul tujuh pagi.
Bukan karena rajin.
Tapi karena ia tidak tidur.
Kantornya ada di lantai delapan belas gedung Ardent — ruangan sudut dengan dua dinding kaca yang menghadap ke barat dan selatan. Pemandangan yang dulu ia banggakan. Bukti nyata dari dua belas tahun kerja keras yang dimulai dari meja paling pojok di divisi riset dengan gaji yang hampir tidak cukup untuk sewa kamar.
Sekarang ia berdiri di depan dinding kaca itu dan tidak melihat apapun.
Mejanya ada tiga tumpukan dokumen yang menunggu.
Ia tidak menyentuh satupun.
Duduk di kursi. Memutar ponsel di antara jari-jari. Membaca ulang percakapan terakhirnya dengan Rina.
Tolong.
Satu kata yang ia kirim dan langsung sesali — bukan karena salah, tapi karena terlalu terlambat. Karena kata itu harusnya pernah ia kirim dua tahun lalu, tiga tahun lalu, di semua momen ketika Rina berdiri di depannya dan menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Dan sekarang kata itu datang — tapi dalam konteks yang sama sekali berbeda.
Asisten masuk tanpa mengetuk.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
"Pak Arka." Nada yang sudah ia hafal — bukan kabar baik. "Pak Direktur Utama minta ketemu jam delapan."
"Agenda?"
Asisten meletakkan satu lembar kertas di meja tanpa menjelaskan lebih.
Arka mengambilnya.
Membacanya.
Meletakkannya kembali dengan cara yang sangat terkontrol — tangan yang belajar untuk tidak menunjukkan reaksi bahkan ketika isi kepalanya sedang terbakar.
Investigasi internal.
Kebocoran proposal Nakamura.
Nama Arka ada di daftar yang dipanggil untuk klarifikasi.
Ia sudah menduga ini akan datang.
Yang tidak ia duga adalah secepat ini.
Jam tujuh empat puluh lima, telepon mejanya berbunyi.
Bukan dari resepsionis. Dari nomor yang ia simpan tanpa nama di ponselnya — kebiasaan lama untuk hal-hal yang tidak boleh terlacak terlalu mudah.
Ia mengangkat.
"Kamu sudah lihat dokumennya?"
Suara Vera. Dingin dan efisien seperti biasa.
"Sudah."
"Nakamura bergerak lebih cepat dari yang aku perkirakan." Suara Vera tidak berubah nada meskipun kalimatnya menyiratkan sesuatu yang jauh dari santai. "Ada seseorang di dalam yang memberi mereka akses ke log sistem kita."
Arka tidak langsung menjawab.
"Siapa?" tanyanya akhirnya. Meskipun perutnya sudah tahu jawabannya.
"Masih dalam konfirmasi." Jeda singkat. "Tapi ada satu nama yang terus muncul."
Ia tidak perlu mendengar nama itu.
Tapi Vera mengucapkannya juga.
"Rina Amelia."
Arka menutup matanya satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Lalu membukanya. Melihat ke luar jendela. Langit pagi yang bersih — salah satu hari langka tanpa polusi tebal.
"Apa buktinya?"
"Cukup kuat untuk dibawa ke investigasi." Suara Vera. "Tapi belum cukup kuat untuk ditutup rapat."
"Artinya?"
"Artinya ada jendela waktu." Jeda. "Dan kamu tahu apa yang perlu dilakukan dengan jendela waktu, Arka."
Telepon mati.
Arka meletakkan gagang telepon.
Menatap mejanya.
Tiga tumpukan dokumen. Semua menunggu. Semua punya deadline. Semua bagian dari mesin yang sudah dua belas tahun ia jalankan tanpa berhenti.
Untuk pertama kalinya — mesin itu terasa seperti sesuatu yang menggilingnya dari dalam.
Jam delapan tepat.
Ruang rapat eksekutif di lantai dua puluh.
Pak Dharma — Direktur Utama Ardent, usia enam puluhan, tiga dekade di industri ini — duduk di ujung meja dengan cara yang tidak pernah berubah sejak pertama kali Arka masuk ke ruangan itu sebelas tahun lalu sebagai analis muda yang dipanggil untuk presentasi dadakan.
Bedanya — dulu tatapan itu netral.
Sekarang tidak.
"Duduk, Arka."
Ia duduk.
Di sisi kanan meja ada Vera. Di sisi kiri ada kepala divisi hukum — kehadiran yang tidak pernah pertanda baik.
"Kita langsung ke poinnya," kata Pak Dharma. "Proposal Nakamura bocor. Investigasi mengarah ke akses sistem kita yang tidak sah selama tiga bulan terakhir." Ia meletakkan tablet di tengah meja — layar menghadap Arka. "Dan jalur akses itu melewati kredensial yang terhubung dengan divisimu."
Arka menatap layar itu.
Data yang ada di sana — ia mengenali formatnya.
Seseorang sudah bekerja dengan sangat cepat semalam.
"Penjelasan?" tanya Pak Dharma.
"Aku tidak otorisasi akses itu," jawab Arka. Langsung. Tanpa kualifikasi.
"Tapi akses itu menggunakan kredensial dari divisimu."
"Bisa digunakan oleh siapapun yang punya akses ke sistem manajemen kredensial." Arka memindahkan matanya dari tablet ke Pak Dharma. "Yang bukan hanya aku."
Sedetik keheningan.
Kepala divisi hukum mencatat sesuatu.
"Ada nama lain yang kami pertimbangkan," kata Vera dari sisi kanannya. Suaranya terukur — terlalu terukur untuk percakapan yang seharusnya spontan. "Rina Amelia. Mantan karyawan divisimu. Sekarang di Nakamura."
Arka tidak menoleh ke Vera.
Matanya tetap di Pak Dharma.
"Rina keluar dari Ardent empat bulan lalu dengan prosedur yang bersih. Semua aksesnya dicabut di hari terakhir kerjanya." Satu detik. "Itu standar prosedur yang bisa diverifikasi."
"Akses formal, ya." Vera tidak berhenti. "Tapi ada jalur lain yang tidak selalu masuk dalam checklist standar."
"Vera." Pak Dharma mengangkat satu tangan.
Vera berhenti.
Pak Dharma menatap Arka dengan cara yang berbeda dari awal rapat — lebih personal, lebih berat.
"Arka. Aku tahu kamu dan perempuan itu punya sejarah." Ia tidak menggunakan nama Rina — caranya mengatakan perempuan itu terasa seperti distansiasi yang disengaja. "Tapi situasinya sudah di luar urusan pribadi. Kalau ada yang perlu kamu tahu tentang posisimu di sini — sekarang waktunya bicara."
Arka diam selama lima detik.
Dalam lima detik itu, sesuatu bergulir di kepalanya — bukan satu pikiran, tapi banyak sekaligus, bergerak seperti kartu-kartu yang dikocok terlalu cepat.
Vera yang ada di sini. Vera yang menyebut nama Rina terlalu cepat, terlalu siap.
Log akses yang sudah ada di meja Pak Dharma — berasal dari mana? Tim investigasi baru bekerja sejak kemarin. Terlalu cepat untuk hasil yang sudah serapih itu kecuali seseorang sudah menyiapkannya lebih dulu.
Dan Rina — yang kemarin tidak membalas pesannya. Yang tidak datang ke pertemuan yang sudah disepakati. Yang terakhir kali ia ketahui keberadaannya justru dari Vera.
Vera tahu kamu ke tempat Dian.
Ia yang mengirim pesan itu ke Rina tadi malam.
Sekarang ia duduk di sisi kanan meja rapat ini dan menyebut nama Rina seperti bidak yang sudah siap dimainkan.
"Aku tidak punya informasi yang bisa kuberikan sekarang," kata Arka akhirnya.
Pak Dharma mengangguk pelan. Menerima jawaban itu — untuk sekarang.
"Kita lanjutkan investigasi." Ia berdiri — tanda rapat selesai. "Arka, sampai ada kejelasan — aksesmu ke proyek-proyek level satu ditangguhkan sementara."
Tiga kata terakhir itu jatuh ke meja seperti sesuatu yang berat.
Ditangguhkan sementara.
Bukan dipecat. Bukan dituduh secara resmi. Tapi dalam dunia seperti ini — suspensi akses itu sudah berbicara sangat keras meskipun tidak ada yang mengucapkannya dengan suara tinggi.
Arka berdiri.
Mengangguk.
Keluar dari ruang rapat dengan langkah yang ia jaga agar tidak berbeda dari biasanya.
Lorong lantai dua puluh.
Lift.
Pintu lift menutup dan untuk tiga puluh detik, Arka berdiri sendirian di dalam kotak logam yang turun — dan mengizinkan dirinya untuk merasakan apa yang tidak bisa ia tunjukkan di dalam ruangan itu.
Bukan marah.
Sesuatu yang lebih tidak nyaman dari marah.
Aku sudah mengantisipasi ini. Tapi mengantisipasi dan mengalami adalah dua hal yang berbeda. Seperti tahu bahwa hujan akan datang dan tetap basah kuyup karena tidak membawa payung — karena bagian dari dirimu tidak benar-benar percaya sampai air itu jatuh ke bahumu.
Lift berhenti di lantai delapan belas.
Arka keluar. Melewati meja-meja yang sudah mulai terisi. Beberapa orang mengangguk — biasa, pagi yang biasa. Mereka belum tahu atau pura-pura belum tahu.
Sampai di ruangannya. Menutup pintu.
Duduk.
Ponselnya ada di meja.
Rina belum membalas pesannya dari semalam.
Ia membuka percakapan itu lagi.
Tolong.
Vera tahu kamu ke tempat Dian.
Kamu punya waktu dua puluh empat jam sebelum ia bergerak.
Dikirim semalam.
Tidak ada centang dua. Sudah dibaca. Tidak dibalas.
Arka meletakkan ponsel.
Berdiri. Berjalan ke dinding kaca.
Kota di bawah sudah penuh — orang-orang kecil dari ketinggian ini, bergerak ke arah yang berbeda-beda dengan tujuan masing-masing yang tidak kelihatan dari sini.
Dua belas tahun ia berdiri di titik ini — atau titik yang serupa — dan merasa seperti orang yang melihat papan catur dari atas. Yang bisa membaca beberapa langkah ke depan. Yang jarang salah kalkulasi.
Hari ini ia salah kalkulasi.
Bukan sekali.
Kesalahan pertama: ia terlalu lama percaya bahwa Vera bermain di jalur yang sama dengannya. Bahwa kepentingan mereka cukup sejalan untuk membuat ia aman. Bahwa ada batas yang tidak akan dilanggar.
Kesalahan kedua: ia terlalu lama mengulur waktu dengan Rina. Berharap bisa menjelaskan semuanya dengan cara yang tidak merusak apapun — termasuk hal-hal yang harusnya sudah lama ia relakan untuk rusak.
Kesalahan ketiga — dan ini yang paling sulit untuk diakui bahkan di dalam kepalanya sendiri:
Ia sudah tahu sejak lama bahwa Rina lebih kuat dari yang pernah ia akui.
Dan ia tidak berbuat apapun dengan pengetahuan itu selain memendamnya.
Pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Bukan asisten. Bukan dari tim investigasi.
Rendra — analis senior yang sudah bekerja di divisinya enam tahun, orang yang paling ia percaya di lantai ini — masuk dengan ekspresi yang mengatakan bahwa ia membawa sesuatu yang tidak enak.
"Arka." Ia menutup pintu. Berbicara dengan suara rendah. "Ada yang perlu kamu tahu."
"Duduk."
Rendra duduk. Tidak membuka apa-apa dari tangannya yang kosong — artinya ini bukan laporan, ini informasi dari mulut ke mulut.
Yang lebih sering berbahaya.
"Tim investigasi tadi pagi dapat log akses dari sistem kita," kata Rendra. "Bukan dari divisi kita. Dari luar."
"Aku tahu. Pak Dharma sudah tunjukkan."
"Yang kamu lihat tadi itu bukan semua yang mereka punya." Rendra merendahkan suaranya lebih jauh. "Ada layer kedua yang belum masuk ke presentasi Pak Dharma. Karena tim investigasi sendiri belum selesai memverifikasinya." Ia berhenti sebentar. "Tapi aku sudah lihat sebagiannya."
Arka menunggu.
"Ada log akses internal Ardent yang keluar. Bukan proposal Nakamura yang masuk — tapi file Ardent yang keluar." Rendra menatapnya langsung. "File dari dua tahun lalu. Proyek yang sudah officially closed."
Sesuatu di dalam dada Arka menegang.
"File apa?"
Rendra menyebut kode proyek itu.
Kode yang Arka kenali.
Kode yang belum pernah ia dengar disebut di luar meeting tertutup selama dua tahun.
Proyek Senja.
"Siapa yang mengaksesnya?" suara Arka keluar lebih terkontrol dari yang ia rasakan di dalam.
"Itu yang masih diverifikasi." Rendra membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. "Tapi jalur aksesnya — keluar lewat node yang terhubung ke Nakamura Group."
Arka diam.
"Dan waktunya," lanjut Rendra, "tiga hari lalu."
Tiga hari lalu.
Rina sudah di Dian tiga hari lalu.
Dian yang dua tahun lalu keluar dari Ardent dengan membawa sesuatu — sesuatu yang semua orang tahu tapi tidak ada yang bisa membuktikan karena tidak ada yang berani melihat terlalu dekat.
Arka berdiri.
"Terima kasih, Ren."
Rendra berdiri juga. Mengerti bahwa percakapan selesai. Berjalan ke pintu — lalu berhenti.
"Arka." Tanpa menoleh. "Hati-hati dengan siapa yang kamu percaya di lantai ini sekarang."
Pintu menutup.
Arka sendirian lagi.
Ia kembali ke mejanya.
Membuka laci bawah — kunci yang ada di gantungan kunci yang tidak pernah lepas dari saku celananya. Di dalam: satu folder tipis yang sudah ada di sana lebih dari setahun, tidak pernah dibuka di kantor sebelumnya.
Ia membukanya sekarang.
Di dalamnya — dokumen yang ia simpan bukan karena rencana yang jelas, tapi karena instinct lama yang bilang bahwa beberapa hal perlu punya saksi meskipun kamu belum tahu saksi untuk apa.
Ia membacanya ulang dengan cepat.
Matanya berhenti di satu bagian.
Tanggal. Nama. Tanda tangan digital.
Namanya sendiri di kolom persetujuan dokumen modifikasi Proyek Senja.
Yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun — termasuk kepada Vera, termasuk kepada Pak Dharma — adalah bahwa tanda tangan itu bukan ia yang letakkan di sana.
Ia baru menemukannya enam bulan setelah tanggalnya.
Ketika sudah terlambat untuk menariknya tanpa terlihat seperti seseorang yang panik.
Seseorang memalsukan tanda tangannya.
Dan seseorang yang sama — ia sudah cukup yakin sejak lama tapi tidak punya bukti yang kuat — adalah orang yang sekarang duduk dua lantai di atasnya dalam rapat yang ia tidak diundang masuk.
Vera.
Ponselnya bergetar.
Nomor yang tidak ia kenal.
Ia mengangkat.
"Arka Wisnuwardana."
Suara perempuan. Tidak tersamar — tapi asing. Seseorang yang berbicara dengan kepastian seseorang yang tahu lebih banyak darinya tentang situasinya sendiri.
"Siapa ini?"
"Seseorang yang punya dokumen yang sama dengan yang ada di folder kamu sekarang." Jeda singkat. "Dan yang bisa membuktikan bahwa tanda tangan itu bukan milikmu."
Arka tidak bergerak.
"Apa yang kamu mau?" tanyanya.
"Bukan apa yang aku mau." Suara itu tetap tenang. "Tapi ada seseorang yang perlu bicara denganmu. Hari ini. Sebelum kamu membuat keputusan apapun berdasarkan apa yang kamu pikir kamu tahu."
"Siapa?"
Hening sebentar di ujung sana.
Suara latar yang tipis — mungkin kafe, mungkin kantor, mungkin ruangan dengan ventilasi yang mendengung.
Lalu jawaban yang membuat Arka duduk sangat diam selama tiga detik penuh.
"Rina."
Telepon mati.
Dan di mejanya, folder tipis yang sudah setahun tersimpan di laci terkunci —
Terbuka di halaman yang sama.
Namanya.
Di atas tanda tangan yang bukan miliknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama —
Arka Wisnuwardana tidak tahu langkah selanjutnya.

Tulis Komentar di Bawah ini!