📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 77 – KEBENARAN YANG TERUNGKAP SEBAGIAN
Arka tidak bergerak dari kursinya selama sepuluh menit setelah telepon mati.
Bukan karena shock.
Tapi karena ia sedang menghitung.
Cara kerja otaknya tidak pernah berubah sejak ia duduk di meja paling pojok divisi riset dua belas tahun lalu — ketika menghadapi sesuatu yang tidak ia antisipasi, ia tidak bereaksi dulu. Ia mengurai dulu. Memisahkan apa yang diketahui, apa yang diasumsikan, apa yang sengaja diperlihatkan untuk membuatnya mengambil kesimpulan tertentu.
Suara perempuan di telepon tadi.
Bukan Rina langsung — tapi mengatasnamakan Rina.
Atau — kemungkinan kedua — seseorang yang bekerja bersama Rina dan dipilih untuk menghubunginya karena Rina tidak mau suaranya terdengar duluan.
Artinya Rina sudah punya sekutu.
Artinya Rina sudah bergerak lebih jauh dan lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Ia membuka laptopnya.
Bukan untuk bekerja. Untuk mengakses sesuatu yang ia simpan di partition terenkripsi yang bahkan tim IT Ardent tidak tahu keberadaannya.
File yang sudah ada di sana lebih dari setahun.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Log percakapan internal. Korespondensi yang tidak pernah masuk ke server resmi. Catatan dari pertemuan-pertemuan yang tidak ada dalam agenda resmi.
Semua yang perlahan ia kumpulkan sejak ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam Ardent — sesuatu yang lebih dalam dari persaingan bisnis biasa, lebih dalam dari ambisi korporat yang wajar.
Ia scroll ke bagian yang sudah lama ingin ia tunjukkan ke seseorang tapi tidak tahu kepada siapa.
Tanggal dua tahun lalu.
Percakapan tiga pihak — dua nama yang tidak penting sekarang, dan satu nama yang sangat penting.
Vera Nathania.
Arka membaca ulang percakapan itu meskipun sudah hafal isinya.
Bukan untuk informasi baru. Tapi untuk memastikan bahwa apa yang ia ingat akurat sebelum ia memutuskan apapun.
Di dalam percakapan itu — rencana. Rencana yang tersamar di balik bahasa korporat yang rapi, tapi jelas bagi seseorang yang tahu cara membacanya.
Modifikasi Proyek Senja. Perluasan penggunaan sistem ke target-target yang tidak ada dalam rencana awal. Dan di bagian bawah — pembahasan tentang dokumen pendukung yang perlu tanda tangan dari level yang tepat untuk memberikan legitimasi.
Tanda tangan dari level yang tepat.
Itu yang Vera lakukan.
Menggunakan akses administratif yang ia miliki sebagai direktur operasional untuk meletakkan tanda tangan digital Arka — tanpa Arka tahu, tanpa Arka hadir, tanpa Arka pernah menyetujui apapun.
Ia menutup file itu.
Mematikan layar partition tersebut.
Duduk.
Yang sudah ia ketahui selama lebih dari setahun — dan tidak bergerak cukup cepat untuk melakukan sesuatu dengannya.
Mengapa?
Karena bukti yang ada di tangannya tidak berdiri sendiri. Tanpa konteks yang lebih luas, tanpa corroboration dari pihak lain, apa yang ia punya hanya terlihat seperti seseorang yang mencoba membersihkan namanya sendiri dengan memindahkan kesalahan ke orang lain.
Tidak cukup kuat.
Tidak cukup bersih.
Dan sementara ia menunggu saat yang tepat — situasi terus bergerak tanpa menunggu kesiapannya.
Pintunya diketuk.
"Masuk."
Asisten masuk. Meletakkan amplop di meja tanpa bicara — ekspresi yang sudah Arka pelajari artinya selama bertahun-tahun. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan, hanya perlu diterima.
Ia mengambil amplop itu.
Membukanya.
Satu lembar. Kop surat internal Ardent. Tanda tangan Pak Dharma di bawah.
Sehubungan dengan investigasi yang sedang berjalan, Bapak Arka Wisnuwardana diminta untuk tidak meninggalkan kota selama proses berlangsung. Akses ke sistem level satu dan dua ditangguhkan hingga investigasi selesai. Ruang kerja Bapak akan diaudit oleh tim keamanan pada Kamis, pukul 10.00.
Kamis.
Besok lusa.
Arka melipat surat itu. Menyimpannya di saku.
Berdiri. Berjalan ke jendela untuk ketiga kalinya hari ini.
Audit ruang kerja.
Tim keamanan yang akan membuka setiap laci, mengakses setiap file, memeriksa setiap hal yang ada di dalam ruangan ini.
Termasuk laci bawah yang terkunci.
Folder tipis yang berisi nama dan tanda tangan palsu itu.
Ia punya waktu sampai Kamis pukul sepuluh untuk memutuskan apakah folder itu jadi senjata — atau jadi beban.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor yang sama dengan tadi.
Ia mengangkat sebelum dering kedua.
"Ya."
"Kamu mau bertemu atau tidak." Bukan pertanyaan. Suara perempuan yang sama.
"Di mana?"
"Kami yang tentukan tempatnya."
Kami. Plural.
"Berapa orang?"
"Yang perlu ada." Jeda singkat. "Kamu boleh bawa satu orang. Tidak lebih."
Arka berpikir tiga detik.
Satu orang yang ia percaya di gedung ini sekarang — setelah peringatan Rendra tadi — hanya satu.
"Waktu?"
"Dua jam dari sekarang. Kami kirim alamatnya ke nomor ini."
Telepon mati.
Arka kembali ke mejanya.
Membuka laci bawah yang terkunci.
Mengambil folder tipis itu.
Memasukkannya ke dalam jaket bagian dalam — bukan di tas, bukan di tempat yang mudah ditemukan kalau seseorang memutuskan untuk memeriksa.
Lalu mengunci laci itu kembali.
Laci yang sekarang kosong.
Ia mengirim pesan ke Rendra.
"Ada keperluan di luar. Dua jam. Kamu bisa?"
Balasan datang dalam tiga puluh detik.
"Bisa. Lima menit."
Dua jam kemudian.
Alamat yang dikirimkan membawanya ke sebuah gedung ruko di distrik selatan yang tidak mencolok — lantai tiga, ruangan yang dari luar terlihat seperti kantor konsultan kecil biasa. Kaca buram. Tidak ada nama perusahaan di depan pintu.
Arka dan Rendra naik tangga.
Mengetuk.
Pintu dibuka oleh perempuan yang tidak ia kenal — tiga puluhan, kacamata, rambut sebahu. Ekspresi yang menilai tapi tidak memusuhi.
"Arka Wisnuwardana." Bukan pertanyaan.
"Ya."
"Dan ini?"
"Rekan yang aku percaya."
Perempuan itu menatap Rendra sebentar. Lalu membuka pintu lebih lebar.
"Masuk."
Ruangan di dalam lebih besar dari yang terlihat dari luar.
Meja kerja. Dua monitor. Rak penuh dokumen. Papan gabus di dinding dengan koneksi-koneksi yang tergambar dalam spidol merah.
Dan di sisi ruangan, duduk di kursi dengan punggung tegak dan tangan di atas meja —
Rina.
Arka berhenti satu langkah setelah masuk.
Rendra berhenti di belakangnya.
Ruangan itu terasa lebih kecil dari ukurannya.
Rina tidak berdiri. Tidak menyambut. Tidak tersenyum.
Menatapnya dengan ekspresi yang ia tidak bisa baca — bukan karena tertutup, tapi karena terlalu banyak hal yang berjalan di baliknya secara bersamaan.
"Duduk," kata perempuan berkacamata itu — Dian, ia menangkap nama itu dari konteks berikutnya.
Mereka duduk di sisi meja yang berlawanan dengan Rina.
"Kita tidak punya banyak waktu." Dian yang memulai — bukan Rina. "Jadi aku akan langsung ke poinnya."
Arka menatap Rina. Rina menatap balik. Tidak ada yang bicara dalam dua detik itu.
Dua detik yang menyimpan terlalu banyak.
Lalu keduanya memindahkan pandangan ke Dian.
"Proyek Senja," kata Dian. "Aku yang merancangnya. Aku yang tahu setiap lapisan sistemnya dari dalam. Dan aku yang pertama menyadari ketika sistem itu dimodifikasi menjadi sesuatu yang bukan niatku." Ia meletakkan map di atas meja. "Yang tidak aku tahu selama dua tahun adalah siapa persisnya yang mengotorisasi modifikasi itu. Tanda tangan di dokumen resminya—"
"Namaku," kata Arka.
Dian berhenti.
Semua orang di ruangan menatapnya.
Arka mengeluarkan folder tipis dari dalam jaketnya.
Meletakkannya di meja.
Mendorongnya ke tengah — ke arah Dian dan Rina.
"Aku tahu tanda tangan itu ada di sana," katanya. "Aku menemukannya enam bulan setelah tanggalnya. Tanda tangan itu dipalsukan."
Hening.
"Oleh siapa?" tanya Dian.
"Vera Nathania."
Dian dan Rina bertukar pandang.
Sekilas. Cepat. Tapi Arka melihatnya.
Mereka sudah menduga ini — atau sudah tahu, dan sekarang sedang mengkonfirmasi seberapa jauh yang ia ketahui.
"Kamu punya buktinya?" tanya Rina.
Pertama kali ia bicara sejak Arka masuk.
Suaranya sama. Persis sama. Tapi caranya menggunakan suara itu — beda. Bukan perempuan yang dulu berbicara dengan sedikit menahan diri, mengukur kata-kata, memilih yang tidak akan menyinggung.
Langsung. Tanpa ruang untuk interpretasi lain.
"Aku punya log percakapan internal yang menunjukkan Vera mendiskusikan kebutuhan tanda tangan dari level yang tepat dua minggu sebelum tanggal dokumen itu." Arka menyandarkan punggung. "Dan aku punya rekaman akses administratif yang menunjukkan kapan tanda tangan digital itu dimasukkan ke sistem — jam dan menit — dan siapa yang login ke sistem pada waktu itu."
"Vera."
"Ya."
Dian membuka map yang ada di mejanya. Mengeluarkan satu lembar. Meletakkannya di sebelah folder Arka.
"Log akses yang ini menunjukkan seseorang membuka folder Proyek Senja ke jalur sistem Rina tiga tahun lalu." Ia menunjuk ke nama di log itu. "Bukan aku. Bukan Vera."
Arka membacanya.
Nama yang ada di sana membuat sesuatu bergerak di wajahnya — kecil, tapi cukup untuk dilihat oleh orang yang sedang memperhatikan.
"Laras," katanya pelan.
"Kamu mengenalnya?" tanya Rina.
Arka diam sebentar. "Laras Andini. Analis senior Nakamura. Sebelumnya — dua setengah tahun lalu — kontributor eksternal untuk beberapa proyek Ardent." Matanya tidak berpindah dari log itu. "Kami pernah bekerja di proyek yang sama satu kali."
"Proyek apa?"
"Proyek yang tidak ada dalam daftar resmi." Ia mendongak. "Proyek yang Vera supervisi langsung."
Sesuatu berubah di udara ruangan itu.
Bukan dramatik. Bukan ada yang terkejut secara berlebihan.
Lebih seperti beberapa keping yang sudah lama berpencar mulai menemukan arahnya masing-masing.
Rina membuka notebook — bukan buku catatan biasa, tapi yang berisi peta dengan garis-garis spidol. Ia meletakkannya di tengah meja tanpa berkata apa-apa.
Arka menatap peta itu.
Matanya bergerak — membaca koneksi, membaca nama, membaca struktur yang Rina bangun.
Lama di satu titik.
Lama di titik lain.
"Kamu menempatkan Laras di pusat," katanya akhirnya.
"Karena log aksesnya ada di sana."
"Tapi Laras bukan yang paling atas." Arka menggerakkan jarinya di atas peta — tidak menyentuh, hanya mengikuti garis. "Ia node, bukan origin. Ada yang mengarahkannya."
"Vera," kata Dian.
"Mungkin." Arka mengerutkan dahi. "Tapi Vera juga tidak bergerak sendiri. Vera punya mandat. Dan mandat itu datang dari seseorang yang namanya tidak pernah muncul di dokumen apapun — karena orang yang cukup senior untuk memberikan mandat itu tahu cara memastikan namanya tidak tercatat."
Rina menatapnya.
"Pak Dharma?" suaranya rendah.
Arka tidak langsung menjawab.
Rendra di sebelahnya bergerak tidak nyaman di kursinya.
"Aku tidak bisa konfirmasi itu belum sekarang," kata Arka akhirnya. "Tapi arahnya konsisten."
Hening yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Hening seseorang yang baru melihat gambaran yang lebih besar dari yang mereka siapkan diri untuk lihat.
Dian yang memecahnya.
"Kalau ini benar — kita tidak bicara tentang kebocoran data korporat biasa." Suaranya tetap datar tapi ada sesuatu di bawahnya yang lebih keras. "Kita bicara tentang jaringan yang sudah berjalan setidaknya tiga tahun, dengan aktor di level paling atas, yang menggunakan sistem yang aku bangun untuk tujuan yang bisa masuk kategori kejahatan korporat berskala besar."
"Ya," kata Arka.
"Dan nama kita semua," lanjut Dian, "ada di dokumen yang terhubung dengan jaringan itu. Beberapa karena pilihan. Beberapa karena dijebak. Beberapa—" matanya ke Rina sebentar, "karena ada di tempat yang salah pada waktu yang salah."
Rina tidak menunduk mendengar itu.
Tidak juga mengangguk dengan cara yang mengasihani diri sendiri.
Ia hanya menatap peta di meja itu dan berkata dengan suara yang sama ratanya dengan sepanjang pertemuan ini:
"Maka kita perlu memastikan bahwa dokumen yang ada di ruangan ini cukup untuk tidak hanya membersihkan nama kita — tapi untuk memastikan jaringan itu tidak bisa beroperasi lagi."
Arka menatapnya.
Ada sesuatu yang ia ingin katakan — sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Vera atau Proyek Senja atau log akses.
Sesuatu yang lebih personal dari itu.
Tapi ini bukan tempatnya. Bukan waktunya.
Dan dari cara Rina duduk di sana — punggung tegak, mata yang tidak memberikan ruang untuk hal-hal yang tidak relevan sekarang — ia tahu bahwa Rina juga tahu ini bukan tempatnya.
Mereka bisa menjadi lawan di ruang rapat.
Sisa yang lainnya — kalau masih ada sisa — harus menunggu.
"Aku punya satu hal yang belum kusebutkan," kata Arka.
Semua orang menunggu.
"Di antara log yang aku kumpulkan — ada satu yang mungkin paling krusial." Ia mengeluarkan ponselnya. Membuka sesuatu. Meletakkannya di tengah meja. "Rekaman audio. Dari pertemuan enam belas bulan lalu. Di mana modifikasi final Proyek Senja disetujui secara lisan oleh semua pihak yang hadir."
Dian membungkuk ke depan. Membaca metadata file itu.
"Durasi empat puluh tiga menit," katanya pelan.
"Ya."
"Dan suara di dalamnya?"
"Vera." Arka menyandarkan punggung untuk pertama kalinya sejak duduk. "Dan Pak Dharma."
Ruangan itu sunyi.
Jenis sunyi yang hanya terjadi ketika sesuatu yang besar baru saja berubah posisi di dalam percakapan.
Rina menutup notebooknya.
Menatap Arka dengan cara yang baru — bukan lunak, bukan hangat, tapi sesuatu yang lebih bernilai dari keduanya dalam situasi ini.
Respek profesional.
Dari seseorang yang tidak memberikannya dengan mudah.
"Kita perlu rencana yang lebih spesifik," katanya. "Dan kita perlu bergerak sebelum audit ruang kerjamu Kamis pagi."
Arka mengangguk.
"Aku tahu."
"Satu hal dulu." Rina menatapnya langsung. Mata yang tidak memberikan tempat untuk bersembunyi. "Aku perlu tahu satu hal sebelum kita lanjutkan."
"Tanya."
"Folder yang muncul di jalur aksesqu tiga tahun lalu." Suaranya tidak naik, tidak turun. Datar seperti permukaan yang kamu tidak bisa baca kedalamannya sebelum masuk ke dalamnya. "Kamu tahu itu bukan error sistem. Kamu tahu Laras yang melakukannya — atau setidaknya kamu bisa menduga."
Arka tidak menjawab.
"Apakah kamu tahu waktu itu?"
Hening.
Rendra di sebelah Arka tidak bergerak.
Dian menatap mejanya.
Dan Arka —
Untuk pertama kalinya dalam pertemuan ini —
Tidak langsung menemukan kata-kata yang tepat.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Tapi karena jawabannya adalah sesuatu yang ia sudah tiga tahun tidak berani akui —
Bahkan kepada dirinya sendiri.
"Aku curiga," katanya akhirnya. Pelan. "Tapi aku memilih untuk tidak mencari tahu lebih jauh."
Hening.
"Karena waktu itu," ia melanjutkan, lebih pelan lagi, "memastikan kamu tahu terasa lebih aman dari memastikan kamu tidak tahu. Meskipun caranya tidak pernah kujelaskan kepadamu."
Rina menatapnya.
Lama.
Dengan ekspresi yang tidak bisa disebut marah — tapi juga tidak bisa disebut memaafkan.
Sesuatu di antaranya yang jauh lebih kompleks dari keduanya.
"Kita lanjutkan," katanya akhirnya.
Dan tidak ada lagi yang membahas hal itu.
Untuk sekarang.

Tulis Komentar di Bawah ini!