📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 78 – PERTEMUAN PENUH TEGANGAN
Kamis pagi.
Tujuh lima puluh.
Aku tiba di Nakamura sepuluh menit lebih awal dari biasanya dan langsung naik ke lantai dua belas — bukan lantai sebelas tempat mejaku. Lantai dua belas. Ruang rapat eksekutif yang tidak pernah aku masuki sebelumnya kecuali sekali, di hari wawancara pertamaku.
Hari ini aku masuk bukan sebagai kandidat.
Pak Hendra sudah ada di dalam.
Berdiri di depan jendela dengan cangkir kopi yang kelihatannya belum disentuh. Ketika mendengar pintu, ia berbalik.
Menatapku sebentar.
"Kamu siap?" tanyanya.
Pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan kata-kata — ia bisa melihat jawabannya.
"Siapa lagi yang akan hadir?" tanyaku sambil meletakkan tas di kursi pojok.
"Tim keamanan internal. Kepala divisi hukum." Ia berhenti sebentar. "Dan perwakilan dari Ardent."
Aku mendongak.
"Siapa dari Ardent?"
Pak Hendra meletakkan cangkirnya di meja dengan cara yang terlalu terkontrol.
"Direktur operasional mereka. Vera Nathania."
Aku tidak menunjukkan reaksi.
Tapi di dalam — ada sesuatu yang menegang, lalu dengan sengaja aku kendurkan. Seperti mengendurkan kepalan tangan sebelum memasuki ruangan yang penting.
Vera.
Di sini.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Hari yang sama dengan audit ruang kerja Arka di Ardent.
Bukan kebetulan. Tidak ada yang kebetulan dalam dua minggu terakhir ini.
"Kenapa Ardent dilibatkan?" tanyaku.
"Mereka meminta mediasi terkait tuduhan kebocoran data." Pak Hendra duduk. Isyarat bahwa percakapan ini sudah selesai bagian informalnya. "Secara prosedur, kami wajib memberi mereka platform untuk menyampaikan posisi mereka sebelum langkah hukum diambil."
"Dan posisi mereka?"
"Bahwa kebocoran itu bukan dari pihak mereka." Satu sudut bibirnya bergerak — bukan senyum, tapi sesuatu yang berdekatan dengan ironi. "Bahwa ada pihak internal Nakamura yang mengeksfiltrasi data kami ke mereka, bukan sebaliknya."
Aku mengangguk pelan.
Narratif yang rapi.
Serangan balik yang mengubah posisi — dari tertuduh menjadi pelapor. Dari pihak yang diselidiki menjadi pihak yang mengajukan klaim.
Vera bekerja dengan cepat.
Ruang rapat mulai terisi pukul delapan tepat.
Kepala divisi hukum Nakamura — pria lima puluhan bernama Pak Sigit yang berbicara seperti setiap kalimatnya sudah direvisi tiga kali sebelum keluar. Tim keamanan internal yang aku sudah kenal dari pertemuan dengan Reza. Dua orang yang tidak diperkenalkan tapi posisinya bisa kubaca dari cara mereka duduk — konsultan eksternal, mungkin, atau penasehat yang sengaja tidak diberi nama resmi.
Dan Vera Nathania.
Masuk terakhir. Tepat waktu dalam cara yang menunjukkan bahwa ketepatan waktu bukan tentang menghormati orang lain tapi tentang kontrol — datang pada momen yang memaksimalkan perhatian tanpa terlihat terlambat.
Blazer krem yang sama.
Atau mungkin blazer berbeda tapi warna yang sama — satu pilihan estetik yang sudah menjadi bagian dari caranya dikenal.
Ia duduk di sisi meja yang berlawanan denganku.
Menatapku satu detik.
Tidak ada pengakuan di matanya. Tidak ada konfirmasi bahwa kami pernah saling melihat sebelumnya.
Profesional sampai ke akar-akarnya.
Rapat dimulai.
Pak Sigit membuka dengan ringkasan prosedural yang panjang — aku mendengarkan sambil mengamati ruangan. Cara orang-orang duduk. Cara mereka memegang pulpen atau tidak memegang pulpen. Ke mana mata mereka bergerak ketika Pak Sigit membacakan poin demi poin.
Vera tidak mencatat. Tangannya terlipat di atas meja — posisi seseorang yang tidak perlu mencatat karena sudah tahu apa yang akan terjadi.
Presentasi tim keamanan dimulai pukul delapan dua puluh.
Reza memaparkan temuan investigasi — dengan hati-hati, terukur, hanya fakta yang bisa dibuktikan. Log akses. Timestamp. Jalur data yang terlacak.
Aku melihat semua yang ada di layar presentasi itu dan mengenali sebagian besar — karena aku yang pertama menemukannya dan memberikannya kepada Reza.
Tapi ada yang baru di sana.
Layer tambahan yang tim keamanan temukan sendiri setelah bekerja dua hari penuh dengan data yang aku berikan sebagai titik awal.
Akun hantu yang aku temukan ternyata punya riwayat yang lebih panjang dari yang kulihat sebelumnya.
Bukan tiga bulan. Bukan enam bulan.
Empat belas bulan.
Empat belas bulan akun eksternal itu memiliki akses ke sistem Nakamura — masuk dan keluar tanpa terdeteksi, mengambil data dalam jumlah kecil yang tidak memicu alarm, membangun gambaran lengkap dari kepingan-kepingan kecil yang masing-masing tidak terlihat penting.
"Akun ini menggunakan kredensial yang dibuat menggunakan informasi dari Ardent Consulting," kata Reza. Netral. Berbasis data. "Informasi yang seharusnya tidak bisa keluar dari sistem internal Ardent."
Semua mata beralih ke Vera.
Vera tidak berubah posisi.
"Kredensial bisa dikompromikan dari banyak arah," katanya. Suara yang aku dengar hanya sekali sebelumnya — di lorong lantai sebelas, malam itu. Tapi kali ini tanpa nada peringatan. Hanya pernyataan yang sudah dipersiapkan. "Termasuk dari pihak yang menerima kredensial tersebut dan menggunakannya di luar otorisasi."
Pak Sigit mengetuk meja dengan ujung pulpennya. Satu kali. Tanda untuk menjaga perdebatan tetap pada jalurnya.
"Pihak Ardent," katanya ke Vera, "memiliki klaim balik terkait kebocoran ini. Bisa disampaikan sekarang?"
Vera mengangguk.
Ia membuka tablet yang ada di depannya. Mengeluarkan satu dokumen — hardcopy, bukan digital. Salinan untuk semua orang diedarkan oleh asistennya yang berdiri di dekat pintu.
Aku mengambil salinan yang sampai ke tanganku.
Membacanya.
Halaman pertama — tuduhan formal dari pihak Ardent bahwa terjadi pencurian data internal oleh mantan karyawan yang kini bekerja di Nakamura.
Nama yang tercantum:
Rina Amelia.
Aku membaca nama itu di atas kertas dengan font resmi dan kop surat Ardent Consulting dan tanda tangan direktur operasional mereka di pojok kanan bawah.
Tanda tangan Vera Nathania.
Tanganku memegang kertas itu dengan tekanan yang sama.
Napas yang sama.
Ekspresi yang sama.
"Data apa yang diklaim dicuri?" tanya Pak Hendra. Suaranya terkontrol tapi ada sesuatu di bawahnya.
"Metodologi analisis proprietary yang menjadi basis proposal ekspansi Nakamura." Vera tidak melihat ke arahku. Matanya di Pak Hendra. "Metodologi yang dikembangkan di Ardent dan seharusnya dilindungi oleh perjanjian kerahasiaan yang ditandatangani oleh semua karyawan — termasuk yang bersangkutan."
Pak Sigit menoleh ke arahku.
"Mbak Rina, pihak Ardent mengajukan klaim terhadap Anda secara spesifik. Apakah Anda ingin merespons sekarang atau melalui representasi hukum?"
Semua orang di ruangan menoleh ke arahku.
Vera untuk pertama kalinya juga menoleh.
Menatapku dengan ekspresi yang tidak berubah sejak ia masuk — terukur, terkontrol, seseorang yang sudah memainkan ini di kepalanya berulang kali sebelum tiba di ruangan ini.
Aku meletakkan salinan dokumen itu di meja.
Perlahan. Tanpa terburu-buru.
Menatap Pak Sigit.
"Sekarang," jawabku.
"Tuduhan pencurian metodologi ini spesifik terhadap proposal ekspansi yang saya susun," aku mulai. Suara yang aku jaga agar tidak berbeda satu nada pun dari cara aku bicara di rapat biasa. "Saya bersedia dokumen penyusunan proposal itu diperiksa secara forensik — termasuk timestamp pembuatan, referensi yang digunakan, dan proses kerja yang terdokumentasi di sistem Nakamura."
Aku mengeluarkan drive dari dalam tas.
Meletakkannya di meja.
"Di dalam ini ada dokumentasi lengkap proses kerja saya dari hari pertama bergabung dengan Nakamura. Termasuk sumber referensi yang semuanya tersedia secara publik atau dari data survei yang Nakamura lakukan sendiri." Aku mendorong drive itu ke arah tim keamanan. "Saya mengundang pemeriksaan forensik penuh."
Vera tidak bereaksi.
Tapi asistennya — yang berdiri di dekat pintu — bergerak sedikit. Bukan gerakan yang besar. Hanya satu langkah kecil ke belakang yang tidak seharusnya terjadi kalau semuanya berjalan sesuai rencana.
Aku melihatnya.
"Selain itu," aku melanjutkan, "ada konteks yang relevan untuk rapat ini yang belum disampaikan."
Pak Sigit mengangkat alis. "Lanjutkan."
"Akun eksternal yang tim keamanan temukan dalam investigasi — pola aksesnya tidak konsisten dengan cara seseorang mencuri data untuk digunakan sendiri." Aku menatap layar presentasi Reza yang masih ada di dinding. "Pola ini konsisten dengan operasi pengumpulan intelijen yang sistematis dan terencana. Yang artinya ini bukan tindakan satu orang — ini infrastruktur."
Hening.
"Dan infrastruktur seperti ini membutuhkan akses administratif di level yang jauh di atas karyawan junior." Mataku kembali ke Pak Sigit. Tidak ke Vera. Belum. "Kami merekomendasikan investigasi diperluas ke level akses yang lebih tinggi — di kedua perusahaan."
Kami.
Kata yang sengaja kupilih.
Bukan saya. Bukan aku.
Kami. Yang menunjukkan bahwa ini bukan pembelaan tunggal.
Vera menangkap kata itu — aku melihatnya di cara matanya bergerak satu milimeter.
Pak Hendra mengangguk. Satu kali. Kecil.
Pak Sigit membuat catatan.
Tim keamanan bertukar pandang.
"Klaim Ardent terhadap Rina Amelia akan dievaluasi bersama dengan temuan investigasi internal," kata Pak Sigit akhirnya. "Tidak ada kesimpulan yang bisa diambil sebelum audit forensik selesai."
Vera membuka mulutnya.
"Pihak kami meminta—"
"Prosedur yang sama berlaku untuk semua pihak," Pak Sigit memotong dengan sopan tapi tanpa ruang untuk negosiasi. "Termasuk Ardent."
Vera menutup mulutnya.
Menatap mejanya satu detik.
Lalu mendongak — dan kali ini matanya langsung ke arahku.
Tatapan yang tidak bisa dibaca sebagai ramah atau tidak ramah. Terlalu profesional untuk keduanya.
Tapi ada sesuatu di baliknya.
Sesuatu yang mengatakan bahwa ia tahu permainan ini belum selesai. Bahwa ia sudah mengantisipasi bahwa aku tidak akan diam. Bahwa ia bahkan mungkin sudah menyiapkan langkah berikutnya sebelum masuk ke ruangan ini.
Rapat break pukul sembilan tiga puluh.
Lima belas menit.
Orang-orang berdiri, bergerak ke coffee station, berbicara dalam kelompok kecil dengan suara yang dijaga.
Aku duduk sebentar — mengeluarkan ponsel, pura-pura membaca sesuatu, tapi sebenarnya mengamati.
Vera berbicara dengan asistennya di dekat pintu. Singkat. Asisten mengangguk dan keluar.
Pak Hendra berbicara dengan Pak Sigit di sudut lain.
Reza mengetik sesuatu di tabletnya.
Seseorang duduk di kursi di sebelahku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
"Kamu melakukan itu dengan baik." Suara Vera. Tanpa nada yang bisa disebut pujian atau ancaman. Hanya observasi.
"Saya tidak melakukan apapun selain menyampaikan fakta."
"Tentu." Jeda singkat. "Fakta yang dipilih dengan sangat hati-hati."
Aku tidak menjawab.
"Rina." Vera menurunkan suaranya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di suaranya yang bukan performa. "Kamu cerdas. Cerdas lebih dari yang kebanyakan orang di ruangan ini berikan kredit padamu." Jeda. "Itulah kenapa aku di sini dengan tawaran — bukan ancaman."
Aku menoleh ke arahnya untuk pertama kali sejak rapat dimulai.
Menatapnya langsung.
"Tawaran apa?"
"Ini bisa berhenti sekarang." Vera menatap balik. Matanya tidak berkedip. "Dokumen yang kamu punya, log yang kamu temukan, apapun yang sedang kamu susun bersama Dian Kusuma — semuanya bisa diselesaikan tanpa harus menjadi lebih besar dari ini." Satu sudut bibirnya bergerak. "Dan namamu keluar bersih. Posisimu di Nakamura aman. Tidak ada klaim hukum yang dilanjutkan."
"Dan imbalannya?"
"Informasi. Yang ada di kepalamu tentang sistem Ardent. Bukan dokumen — kamu tidak perlu menyerahkan apapun secara fisik." Vera memiringkan kepalanya sedikit. "Hanya konfirmasi tentang beberapa hal yang kami perlu verifikasi."
Aku menatapnya.
Beberapa detik yang tidak singkat.
Vera yang membicarakan kami — bukan Ardent, bukan nama yang jelas. Vera yang menawarkan keamanan dengan cara seseorang yang sudah punya daftar harga dari semua hal yang bisa ia tawarkan.
Ini bukan tawaran yang spontan.
Ini sudah disiapkan sebelum ia masuk ke gedung ini pagi tadi.
"Satu pertanyaan dulu," kataku.
"Tanya."
"Nama saya ada di daftar target Proyek Senja delapan belas bulan lalu." Aku menjaga suaraku tetap rendah tapi sama ratanya. "Kamu yang memasukkannya."
Vera tidak menjawab langsung.
Tidak menyangkal.
Tidak mengkonfirmasi.
"Itu bukan konfirmasi," kataku, "tapi juga bukan penyangkalan."
"Proyek Senja," kata Vera akhirnya, "lebih kompleks dari deskripsi apapun yang kamu dapat dari sumbermu."
"Sumber yang mana?"
Senyum tipis. "Kamu tahu yang mana."
Pintu ruang rapat terbuka.
Asisten yang tadi keluar masuk kembali — mengangguk ke arah Vera dari jauh. Tanda yang aku tidak bisa artikan.
Vera berdiri.
Meluruskan blazer kremnya.
"Pikirkan tawarannya, Rina." Ia tidak melihat ke arahku lagi. Sudah berbalik ke arah ruangan. "Kamu punya sampai rapat selesai untuk memutuskan."
Sampai rapat selesai.
Dua jam lagi, mungkin. Mungkin kurang.
Aku menatap punggungnya yang berjalan ke coffee station dengan langkah yang tidak terburu-buru.
Ponselku bergetar di tangan.
Pesan dari nomor yang aku simpan tanpa nama.
Dian.
"Arka sudah di sini. Audit ruang kerjanya dimulai lebih awal — jam sembilan, bukan jam sepuluh. Mereka bergerak lebih cepat."
Pesan kedua masuk.
"Ia sempat mengamankan yang penting sebelum tim masuk. Tapi ada yang ketinggalan."
Aku membaca pesan itu.
Ada yang ketinggalan.
Tangan kiriku di bawah meja.
Meremas ujung jaket dengan tekanan yang tidak ada yang bisa melihat dari luar.
Pesan ketiga dari Dian.
"Rekaman audio empat puluh tiga menit itu. Masih ada di sistemnya. Mereka akan menemukannya."
Aku meletakkan ponsel menghadap bawah di meja.
Mendongak.
Pak Hendra sudah kembali ke kursinya. Pak Sigit membuka notesnya. Vera berdiri di sisi ruangan dengan cangkir kopi yang mungkin juga tidak ia minum.
Semua orang bergerak kembali ke posisinya.
Rapat akan dilanjutkan dalam dua menit.
Dua menit untuk memutuskan.
Bukan tentang tawaran Vera.
Tapi tentang apakah aku akan membiarkan rekaman itu ditemukan oleh tim audit Ardent — yang artinya rekaman itu masuk ke tangan orang yang salah — atau apakah ada cara untuk memastikan rekaman itu sampai ke tangan yang tepat sebelum itu terjadi.
Aku mengeluarkan ponsel lagi.
Satu pesan cepat ke Dian.
"Berapa lama Arka bisa menahan tim audit?"
Jawaban dalam sepuluh detik.
"Tidak bisa. Mereka sudah di dalam."
Aku meletakkan ponsel.
Menatap meja.
Lalu menatap ruangan.
Pak Hendra yang duduk tiga kursi dari kiriku. Pak Sigit yang membuka notes. Reza yang menyiapkan layar presentasi untuk sesi kedua.
Dan Vera yang berdiri di sisi ruangan — yang sekarang, untuk pertama kalinya, tidak terlihat sesempurna waktu ia masuk.
Sesuatu di caranya memegang cangkir itu.
Terlalu kuat.
Vera tahu tentang rekaman itu.
Itulah kenapa asistennya masuk tadi dan mengangguk.
Itulah kenapa ia menawarkan sesuatu dengan deadline sampai rapat selesai.
Ia butuh keputusanku sebelum ia harus bereaksi terhadap apa yang mungkin ditemukan di ruang kerja Arka.
Ia butuh aku diam — atau setidaknya menunda — sampai ia sempat mengamankan rekaman itu lebih dulu.
Pak Sigit mengetuk meja.
"Kita lanjutkan."
Aku duduk tegak.
Membuka notes di depanku.
Di dalam kepalaku, dua hal bergerak bersamaan — satu yang ada di ruangan ini, satu yang ada di gedung Ardent delapan belas lantai di atas meja kerja yang sedang diaudit.
Dan di antara keduanya — satu keputusan yang perlu kuambil dalam waktu yang tidak cukup untuk berpikir terlalu lama.
Aku mengirim satu pesan terakhir sebelum menyimpan ponsel.
Bukan ke Dian.
Ke nomor yang belum pernah kuinisiasi sebelumnya.
Nomor Arka.
Tiga kata.
"Jangan biarkan mereka."
Kirim.
Ponsel masuk ke dalam tas.
Rapat dilanjutkan.
Dan di seberang meja —
Vera menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak berubah.
Tapi jari-jarinya di atas meja.
Bergerak satu kali.
Seperti seseorang yang baru menerima informasi yang mengubah kalkulasi.
Dan sedang memutuskan langkah selanjutnya dalam hitungan detik.

Tulis Komentar di Bawah ini!