📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 79 – KATA YANG MENYAKITKAN
Rapat selesai pukul sebelas lewat empat puluh.
Tidak ada resolusi. Tidak ada keputusan final. Hanya — penundaan yang dikemas dalam bahasa hukum yang rapi. Investigasi dilanjutkan. Semua pihak diminta kooperatif. Tidak ada langkah unilateral sebelum audit forensik selesai.
Vera keluar pertama.
Tanpa melihat ke arahku.
Aku membereskan dokumen dengan tenang. Memasukkan notes ke dalam tas. Menunggu sampai sebagian besar orang keluar sebelum berdiri.
Pak Hendra menyentuh lenganku ketika aku melewatinya.
"Ruanganku. Sepuluh menit."
Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk.
Sepuluh menit itu aku habiskan di toilet lantai dua belas.
Bukan karena perlu. Tapi karena butuh ruang untuk berdiri di depan cermin dan melihat wajahku sendiri tanpa ada yang melihat balik.
Perempuan di cermin itu terlihat tenang.
Terlalu tenang, mungkin, untuk seseorang yang baru duduk dua jam di ruangan yang sama dengan Vera Nathania, yang namanya ada di tuduhan formal yang beredar di atas meja rapat, yang mengirim tiga kata ke mantan kekasihnya dengan harapan ia bisa menahan audit yang mungkin sudah terlambat untuk ditahan.
Terlalu tenang.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tapi itulah yang perlu terlihat sekarang.
Ponselku belum ada balasan dari Arka.
Aku menyimpan ponsel dan masuk ke ruangan Pak Hendra.
Ruangannya lebih kecil dari yang kubayangkan untuk seorang direktur — tidak ada sofa tamu, tidak ada meja besar yang berlebihan. Hanya meja kerja, dua kursi, lemari arsip di dinding belakang, dan satu tanaman kecil di pojok yang kelihatan dirawat dengan konsisten.
Pak Hendra sudah duduk ketika aku masuk.
Menunjuk kursi di depannya.
"Rekaman audio," katanya langsung.
Bukan pertanyaan. Bukan pengantar.
Aku duduk. "Anda tahu?"
"Reza baru lapor." Ia meletakkan kedua siku di meja, jari-jari terjalin. "Tim audit Ardent sedang di ruang kerja Arka sekarang. Reza punya kontak di dalam — bukan resmi, tapi cukup untuk dapat update real-time."
"Rekaman itu sudah ditemukan?"
"Belum diketahui." Ia menatapku. "Tapi kalau kamu tahu tentang rekaman itu — dan aku asumsikan kamu tahu — maka ada keputusan yang perlu dibuat sekarang."
Aku mengeluarkan ponsel.
Masih tidak ada balasan dari Arka.
"Saya sudah kirim pesan ke Arka," kataku.
"Kapan?"
"Di tengah rapat. Sebelum sesi kedua dimulai."
Pak Hendra diam sebentar. Membaca sesuatu di wajahku — atau mencoba. "Kamu percaya ia akan bergerak?"
Pertanyaan yang tidak mudah.
Dua hari lalu jawabannya mungkin berbeda.
Tapi setelah pertemuan di ruko distrik selatan. Setelah ia mengeluarkan folder tipis dari dalam jaketnya. Setelah ia menjawab pertanyaanku dengan kejujuran yang terasa mahal baginya.
"Saya tidak tahu," jawabku jujur. "Tapi saya tidak punya pilihan selain mengambil risiko itu."
Pak Hendra mengangguk.
Bukan karena setuju atau tidak setuju. Lebih karena menerima bahwa ini memang satu-satunya jawaban yang bisa diberikan.
"Audit forensik Nakamura selesai tiga hari lagi." Ia membuka laci mejanya. Mengeluarkan folder — tipis, tidak berlabel. Meletakkannya di meja tapi tidak mendorongnya ke arahku. "Dalam tiga hari itu, posisimu di sini aman. Saya yang jamin itu."
"Dan setelah tiga hari?"
"Tergantung apa yang forensik temukan. Dan tergantung apa yang ada di rekaman Arka." Matanya langsung. "Kalau rekaman itu bisa kita akses sebelum Ardent, dan isinya seperti yang dilaporkan — ini selesai dengan cara yang bersih. Kalau tidak—"
"Kalau tidak, Nakamura akan memilih untuk proteksi diri sendiri dulu."
Ia tidak menyangkal.
Itu cukup jujur.
Aku bisa bekerja dengan itu.
Aku keluar dari ruangan Pak Hendra pukul dua belas tepat.
Kembali ke meja. Duduk. Membuka laptop — bukan untuk dokumen kerja, tapi untuk memantau sesuatu yang sudah aku siapkan dua hari lalu dan berharap tidak perlu digunakan.
Sistem backup terenkripsi yang Dian bantu aku setup. Mirror dari semua log dan dokumen yang relevan, disimpan di server eksternal yang tidak terhubung ke Ardent atau Nakamura.
Masih aman. Masih utuh.
Tapi belum cukup tanpa rekaman itu.
Jam satu siang.
Aku makan di meja — roti yang kubeli di kantin, dimakan sambil membaca laporan yang tidak benar-benar masuk ke kepalaku.
Laras tidak ada di mejanya sejak pagi.
Wulan mampir sebentar dengan wajah yang menyimpan pertanyaan yang tidak ia tanyakan — aku tersenyum, bilang semua baik, ia pergi dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya percaya tapi tidak memaksa.
Jam dua lewat lima belas.
Ponselku berbunyi.
Bukan pesan. Telepon.
Arka.
Aku mengangkat. Berdiri dari meja, berjalan ke sudut ruangan yang paling jauh dari meja-meja lain.
"Arka."
"Rina." Suaranya — beda dari semua versi yang pernah kukenal. Bukan dingin, bukan tidak peduli, bukan hati-hati seperti di pertemuan-pertemuan belakangan ini. Lelah. Tapi di bawah kelelahan itu ada sesuatu yang lebih keras. "Rekaman itu aman."
Aku menghembuskan napas satu kali.
"Di mana?"
"Sudah aku transfer ke Dian. Tiga menit sebelum tim audit masuk ke ruanganku."
Tiga menit.
"Berapa lama kamu punya waktu setelah menerima pesanku?"
"Tujuh menit." Jeda singkat. "Tiga menit pertama aku habiskan untuk berdebat dengan diriku sendiri tentang apakah ini keputusan yang benar."
Aku tidak berkata apa-apa selama dua detik.
"Dan empat menit sisanya?"
"Melakukan yang perlu dilakukan." Ia berhenti. "Reza kontak Dian langsung atau kamu?"
"Tidak ada. Dian yang dapat informasinya dari jalurnya sendiri."
"Vera tahu tentang rekaman itu."
"Saya tahu. Ia menawarkan sesuatu tadi di rapat."
Hening sebentar.
"Apa yang ia tawarkan?"
"Tidak penting." Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain. "Yang penting — rekaman itu sekarang di Dian. Langkah selanjutnya?"
Arka tidak langsung menjawab.
Di ujung sana ada suara latar yang tipis — bukan kantor, mungkin ia sudah keluar dari gedung Ardent. Suara kendaraan. Angin.
"Rina." Suaranya berubah satu nada. Lebih pelan. Lebih — manusiawi, kalau kata itu berlaku. "Audit ruang kerjaku selesai jam sebelas. Mereka tidak menemukan folder itu karena aku sudah pindahkan. Tapi mereka menemukan hal lain."
Perutku turun.
"Apa?"
"Korespondensi lama. Antara aku dan Vera — dari dua setengah tahun lalu." Napas pelan. "Isinya... tidak sepenuhnya memberatkan. Tapi cukup untuk diinterpretasikan dengan cara yang tidak menguntungkan kalau dibaca tanpa konteks."
"Konteks apa?"
Jeda yang lebih panjang dari biasanya.
"Arka." Aku menjaga suaraku tetap rata. "Konteks apa?"
"Waktu itu Vera baru masuk Ardent. Kami bekerja di beberapa proyek yang sama." Kata-kata yang keluar dengan hati-hati — terlalu hati-hati. "Ada komunikasi yang... terlihat lebih personal dari yang seharusnya di email profesional."
Aku tidak berkata apa-apa.
"Tidak ada hubungan yang melewati batas profesional," ia menambahkan. Cepat. Seperti seseorang yang sudah menyiapkan klarifikasi sebelum tuduhan sepenuhnya diucapkan. "Tapi caranya ditulis—"
"Arka."
Ia berhenti.
"Itu tidak relevan dengan situasi sekarang."
Tapi sesuatu di dalam dadaku bergerak.
Bukan cemburu — itu bukan kata yang tepat, bukan kata yang ingin kupakai, bukan emosi yang ingin kuakui punya hak untuk hadir. Tapi sesuatu yang lebih tua dari itu. Sesuatu yang terbentuk dari tiga tahun bertanya-tanya tentang hal-hal yang tidak pernah dijawab dengan jelas.
Aku menelannya.
"Langkah selanjutnya," kataku lagi.
Kembali ke yang penting. Kembali ke yang bisa dikendalikan.
"Dian perlu waktu untuk mengkompilasi semuanya ke format yang bisa dibawa ke jalur yang tepat," kata Arka. Kembali ke nada yang lebih profesional — mengikuti arahku. "Dua hari, katanya."
"Dua hari masih dalam window audit forensik Nakamura."
"Ya."
"Baik." Aku mengangguk meskipun ia tidak bisa melihatnya. "Vera akan bergerak lagi sebelum itu."
"Pasti. Tapi tanpa rekaman itu ia tidak punya senjata yang cukup kuat." Jeda. "Yang mengkhawatirkan bukan Vera sekarang."
"Pak Dharma."
"Ya."
Aku berdiri di sudut ruangan yang jauh dari meja-meja lain, memegang ponsel, menatap dinding abu-abu di depanku.
Pak Dharma yang namanya ada di rekaman empat puluh tiga menit itu.
Pak Dharma yang menyetujui modifikasi Proyek Senja secara lisan.
Pak Dharma yang menandatangani surat penangguhan akses Arka kemarin.
"Arka." Suaraku keluar lebih pelan dari yang kurencanakan.
"Ya."
"Rekaman itu — suaranya jelas?"
"Cukup jelas." Jeda singkat. "Kenapa?"
"Karena kalau suaranya jelas dan konteksnya tidak bisa disalahartikan — ini bukan hanya tentang Ardent dan Nakamura lagi." Aku memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ini bisa lebih besar dari itu."
"Aku tahu."
"Dan kamu siap dengan implikasinya?"
Hening yang panjang.
Di ujung sana, suara kendaraan yang berlalu. Mungkin ia berdiri di tepi jalan. Mungkin di parkiran. Mungkin di suatu tempat di antara gedung yang sudah bukan lagi miliknya dengan cara yang sama seperti kemarin.
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama, Rin." Suaranya keluar dengan cara yang beda — bukan defensif, bukan meminta validasi. Hanya menyatakan sesuatu yang sudah ia bawa terlalu lama. "Terlalu lama diam bukan karena tidak tahu yang benar. Tapi karena aku terlalu banyak yang merasa perlu dilindungi."
Aku tidak berkata apa-apa.
"Termasuk hal-hal yang seharusnya tidak aku prioritaskan di atas yang lain."
Hal-hal yang seharusnya tidak aku prioritaskan di atas yang lain.
Kalimat yang bisa berarti banyak hal.
Karirnya. Posisinya. Reputasinya.
Atau — dan ini bagian yang paling tidak ingin aku buka — termasuk aku. Termasuk apa yang terjadi di antara kami selama tiga tahun. Termasuk semua keputusan kecilnya yang memilih hal-hal lain di atas sesuatu yang mungkin lebih penting.
Aku menarik napas.
"Arka."
"Ya."
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Suaraku tetap rendah. Tapi kali ini bukan karena strategi. "Dan aku akan mengatakannya sekarang karena setelah ini kita masuk ke sesuatu yang tidak ada ruang untuk hal-hal personal."
Hening di ujung sana.
Menunggu.
"Tiga tahun," kataku. "Aku bertahan tiga tahun di dalam sesuatu yang sudah tidak baik untuk aku jauh lebih lama dari yang seharusnya." Kata-kata ini bukan baru — tapi mengucapkannya kepada orangnya langsung, dalam suara yang tidak bergetar, berbeda dari semua versi sebelumnya. "Bukan karena aku tidak tahu lebih baik. Tapi karena aku memilih untuk percaya bahwa cukup mencintai seseorang bisa mengisi semua ruang yang kosong di antara kami."
Arka tidak bicara.
"Itu salahku sendiri. Aku tidak menyalahkanmu untuk itu." Aku berhenti sebentar. "Tapi ada hal-hal yang kamu lakukan — hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kamu ukur dampaknya — yang mengubah cara aku melihat diriku sendiri. Pelan-pelan. Tanpa aku sadar sampai sudah terlalu dalam."
Masih sunyi di ujung sana.
Tapi bukan sunyi yang tidak mendengarkan.
Sunyi seseorang yang menerima setiap kata dan tidak mencoba memotongnya.
"Waktu kamu bilang ada apa lagi di telepon tengah malam itu." Aku terus bicara karena kalau berhenti sekarang kata-kata ini akan kembali dikubur dan tidak keluar lagi dalam waktu yang lama. "Aku meminta maaf karena kangen. Padamu. Kekasihku sendiri." Napas pendek. "Aku normalisasi itu, Arka. Aku buat itu terasa seperti wajar. Karena kalau aku akui itu tidak wajar — berarti aku harus akui bahwa aku ada di dalam sesuatu yang tidak sehat. Dan aku tidak siap untuk itu."
"Rina—"
"Aku belum selesai."
Ia diam.
"Promosi yang aku tolak tiga tahun lalu." Aku sudah mulai, tidak ada gunanya berhenti di tengah. "Aku tidak pernah bilang padamu bahwa aku menyesali itu. Bukan karena tidak menyesal — tapi karena mengatakan itu artinya mengakui bahwa aku mengalah. Dan aku sudah terlalu banyak mengalah untuk menambah satu pengakuan lagi yang membuat segalanya terasa lebih kecil dari yang seharusnya."
Tangan kananku di sisi tubuh.
Tidak gemetar.
Itu yang paling penting.
"Aku tidak menceritakan ini karena minta maaf darimu," aku melanjutkan. "Maaf yang sudah kamu kirim lewat dua kata jam tiga pagi itu — aku sudah terima. Bukan karena menyembuhkan sesuatu. Tapi karena itu hakmu untuk mengatakannya dan aku tidak perlu menolaknya."
Napas masuk.
Napas keluar.
"Yang aku minta — dan ini satu-satunya yang aku minta — adalah bahwa kamu tahu dampaknya. Bukan supaya kamu merasa bersalah. Tapi supaya kamu tidak melakukan hal yang sama kepada orang berikutnya tanpa sadar."
Hening yang sangat panjang.
Cukup panjang untuk membuat aku mulai bertanya-tanya apakah koneksinya terputus.
Tapi kemudian suaranya datang.
Lebih pelan dari semua suara yang pernah kudengar darinya.
"Aku dengar kamu."
Empat kata.
Tidak ada pembelaan. Tidak ada penjelasan tambahan yang mencoba mengecilkan apa yang baru saja aku katakan. Tidak ada tapi dari sisi aku atau kamu juga harus tahu bahwa atau kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai untuk membagi beban yang seharusnya diterima sendiri.
Hanya empat kata.
Dan anehnya — itu lebih menyakitkan dari kemarahan manapun yang bisa ia tunjukkan.
Bukan karena tidak cukup. Tapi karena sudah cukup — dan sudah cukup itu datang terlambat untuk mengubah apapun. Datang di waktu yang salah, di situasi yang salah, dari seseorang yang tidak bisa lagi menjadi apa yang dulu pernah ia coba jadi.
Mataku panas.
Aku tidak membiarkannya jatuh.
"Kita selesaikan ini dulu," kataku. Suara yang kembali ke tempat yang seharusnya — profesional, terkontrol, fokus pada yang ada di depan. "Rekaman itu di Dian. Dua hari. Kita koordinasi lewat Dian, bukan langsung."
"Oke."
"Dan Arka—" Satu hal terakhir. "Kalau memang ada sesuatu yang perlu disampaikan setelah semua ini selesai — tunggu sampai selesai. Bukan di tengah-tengah seperti ini."
Jeda.
"Aku mengerti."
Telepon mati.
Aku berdiri di sudut ruangan itu selama beberapa detik.
Menatap dinding abu-abu yang tidak punya ekspresi.
Lalu aku berjalan kembali ke mejaku.
Duduk.
Membuka laptop.
Wulan mampir lagi setengah jam kemudian.
"Kamu baik-baik saja?"
"Baik." Kali ini bukan kebohongan yang mudah dideteksi. Bukan juga kebenaran yang penuh. Tapi sesuatu di antaranya yang paling akurat. "Ada pekerjaan yang perlu diselesaikan."
Wulan duduk di kursi di sebelah mejaku. Tidak pergi seperti biasanya.
"Rina." Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Aku tidak tahu detail dari semua yang sedang terjadi. Dan aku tidak akan pura-pura tahu." Ia menatapku. "Tapi kalau kamu butuh sesuatu — apapun — aku di sini."
Aku menatap layar laptopku.
Lalu menoleh ke Wulan.
Perempuan yang duduk di seberangku waktu Arka muncul di restoran. Yang menunggu di dekat lift waktu aku turun ke basement. Yang mampir dengan soto dan tidak bertanya lebih dari yang perlu.
Yang ada di sana tanpa syarat.
"Terima kasih," kataku.
Dua kata yang kali ini keluar dengan berat yang tidak biasa.
Wulan mengangguk. Berdiri. Kembali ke mejanya.
Jam tiga sore.
Notifikasi masuk dari Dian.
"Rekaman sudah aku terima. Kualitas audio bagus. Arka tidak bohong soal isinya."
Jeda.
"Tapi ada hal lain di dalam rekaman itu yang Arka mungkin belum dengar sampai akhir."
Pesan kedua.
"Ada nama lain yang disebut di menit ke tiga puluh delapan. Bukan Vera. Bukan Pak Dharma."
Aku menatap layar.
Pesan ketiga masuk.
"Nama seseorang yang sekarang ada di dalam gedungmu."
Satu detik kemudian.
"Laras Andini."
Dan di bawahnya — satu kalimat terakhir yang membuat semua yang sudah aku susun selama dua minggu terasa seperti baru saja menemukan satu lapisan lagi di bawahnya:
"Ia bukan hanya node, Rina. Ia handler-nya Vera di dalam Nakamura. Sudah dua tahun."

Tulis Komentar di Bawah ini!