📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 80 – AWAL DARI AKHIR
Laras masuk ke kantor pukul tiga dua puluh.
Aku melihatnya dari sudut mata.
Berjalan dari arah lift dengan langkah yang sama seperti setiap hari — terukur, tidak terburu, efisien. Meletakkan tas di mejanya. Membuka laptop. Memasang earphone.
Seperti hari biasa.
Seperti ia tidak tahu bahwa empat puluh menit yang lalu namanya baru saja keluar dari mulut Dian lewat tiga pesan yang mengubah seluruh peta yang sudah aku susun.
Aku tidak menoleh ke arahnya.
Membuka dokumen yang tidak akan aku baca. Mengetik sesuatu yang tidak akan aku simpan. Gerakan-gerakan yang terlihat seperti bekerja bagi siapapun yang mengamati dari luar.
Di dalam kepala — aku berpikir.
Cepat. Sistematis. Tanpa panik.
Laras handler-nya Vera di dalam Nakamura. Sudah dua tahun.
Dua tahun.
Sebelum aku masuk ke sini. Sebelum kebocoran proposal. Sebelum Vera muncul di rapat pagi ini dengan tuduhan formal dan tawaran yang dibungkus rapi.
Laras sudah ada di sini jauh sebelum aku — membangun posisi, membangun kepercayaan, membangun akses ke sistem dan informasi dan orang-orang yang tepat.
Dan kemudian aku datang.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Mantan karyawan Ardent. Mantan kekasih direktur strategi Ardent. Seseorang yang secara tidak sengaja melihat data yang tidak harusnya terlihat tiga tahun lalu.
Aset yang siap pakai.
Atau ancaman yang perlu dikelola.
Atau keduanya, tergantung bagaimana angin bertiup.
Aku menatap layar laptopku.
Log akses yang Dian berikan — nama Laras di sana. Sebagai seseorang yang membuka folder ke jalur aksesqu tiga tahun lalu.
Waktu itu aku menginterpretasikannya dua arah — membantu atau menjebak.
Sekarang ada kemungkinan ketiga yang tidak pernah aku pertimbangkan:
Menandai.
Laras membuka akses itu bukan untuk membantuku dan bukan untuk menjebakku. Tapi untuk memastikan ada rekam jejak bahwa aku pernah melihat data itu. Sehingga kapanpun rekam jejak itu dibutuhkan — sebagai senjata, sebagai tekanan, sebagai alasan untuk menarikku ke dalam atau mendorongku keluar — sudah ada.
Dua tahun menyiapkan.
Dan aku masuk ke Nakamura seperti berjalan sendiri ke dalam jaring.
Aku mengirim pesan ke Dian.
"Menit ke berapa tepatnya nama Laras disebut di rekaman itu?"
Jawaban dalam dua menit.
"38:17. Vera menyebutnya. Pak Dharma yang konfirmasi."
"Konteksnya?"
"Vera lapor bahwa mereka sudah punya 'seseorang di dalam' Nakamura yang siap diaktifkan kalau negosiasi dengan pihak luar tidak berjalan sesuai rencana. Pak Dharma tidak bertanya nama — ia hanya bilang 'bagus, pastikan tidak ada jejak langsung.'"
Pastikan tidak ada jejak langsung.
Tapi jejaknya ada.
Di rekaman yang sekarang ada di tangan Dian.
Aku mengetik lagi.
"Rekaman itu sudah kamu backup di lebih dari satu lokasi?"
"Tiga lokasi berbeda. Server yang tidak terhubung satu sama lain."
"Baik. Jangan kirimkan ke siapapun dulu. Tunggu instruksi."
Ponsel ditutup.
Satu pertanyaan besar yang sekarang ada di depanku:
Kapan Laras akan tahu bahwa rekaman itu ada di tangan kami.
Jawabannya — mungkin sudah tahu. Atau akan tahu sangat cepat. Karena kalau Vera tahu tentang rekaman itu, dan Laras adalah handler Vera di dalam Nakamura, maka rantai informasinya pendek.
Berarti waktu yang aku punya tidak banyak.
Aku membuka notebook peta.
Halaman terakhir yang terisi — nama-nama dan garis-garis yang sudah berkali-kali berubah sejak pertama kali kugambar.
Aku menambahkan satu garis baru.
Dari nama Laras — langsung ke nama Vera.
Bukan dengan tanda tanya. Dengan garis penuh.
Lalu dari Vera ke Pak Dharma.
Lalu lingkaran besar yang melingkupi ketiganya.
Di luar lingkaran itu — Dian, Pak Hendra, Reza, Arka, Rendra.
Di tengah lingkaran — semua yang perlu dibuktikan.
Dan di pojok halaman, namaku sendiri yang sudah ada sejak awal — tapi kali ini aku tarik garis darinya bukan ke tengah lingkaran masalah, tapi ke arah yang lain.
Ke depan.
Jam empat sore.
Aku berdiri dari meja. Mengambil tas. Berjalan ke arah pantri — jalur yang melewati meja Laras.
Tidak memperlambat langkah. Tidak mempercepat.
Tapi ketika melewatinya — aku berhenti.
"Laras."
Ia mendongak dari layar. Melepas satu earphone.
Ekspresinya seperti biasa — tidak ramah, tidak tidak ramah. Hanya ada.
"Ada apa?"
"Besok pagi," kataku. "Sebelum rapat koordinasi. Kamu bisa datang lebih awal?"
Satu detik ia menatapku.
Membaca sesuatu di wajahku — atau mencoba.
"Seberapa pagi?"
"Tujuh. Kantin lantai sembilan. Sepuluh menit."
Laras tidak langsung menjawab.
Matanya bergerak — satu milimeter ke kanan, kembali ke tengah. Gerakan kecil yang tidak disengaja. Kalkulasi yang bocor ke permukaan.
"Oke," katanya akhirnya.
Aku mengangguk. Melanjutkan jalan ke pantri.
Tidak melihat ke belakang.
Tapi aku mendengar — sedetik setelah aku lewat — suara notifikasi yang ia matikan dengan cepat. Terlalu cepat. Seperti seseorang yang tidak mau suara itu terdengar.
Ia langsung menghubungi seseorang.
Sesuai dugaan.
Di pantri, aku menuang air.
Berdiri di depan jendela yang menghadap ke barat.
Langit mulai berwarna — gradasi oranye dan ungu yang tidak peduli pada apapun yang terjadi di lantai-lantai gedung di bawahnya.
Aku minum airnya pelan.
Satu tegukan. Dua. Tiga.
Rencananya sudah ada di kepala sejak tadi.
Pertemuan besok pagi dengan Laras bukan untuk konfrontasi — terlalu dini, terlalu banyak yang belum terkunci. Itu umpan. Untuk melihat bagaimana ia bergerak malam ini setelah tahu aku mengajaknya bicara.
Gerakannya malam ini akan memberi tahu lebih banyak dari apapun yang bisa ia katakan besok pagi.
Aku kembali ke meja pukul empat dua puluh.
Menyimpan semua dokumen. Menutup laptop. Membereskan meja dengan gerakan yang normal — orang yang pulang di akhir hari, tidak ada yang berbeda.
Laras masih di mejanya.
Mengetik sesuatu di ponselnya. Berhenti ketika aku lewat. Kembali mengetik ketika aku sudah cukup jauh.
Lift turun.
Lobi. Pintu otomatis. Udara sore yang lebih dingin dari biasanya.
Aku berjalan dua blok dari gedung sebelum mengambil ponsel.
Menelepon Pak Hendra.
"Pak."
"Rina. Ada perkembangan?"
"Ada." Aku berjalan terus — tidak berhenti, tidak terlalu lambat, tidak terlihat seperti seseorang yang sedang bicara hal penting. "Saya perlu bicara malam ini. Bukan besok. Bukan lewat sistem kantor."
Hening sebentar.
"Jam berapa?"
"Delapan. Kalau Bapak bisa."
"Bisa." Jeda singkat. "Kirim lokasi."
Telepon mati.
Aku mengirim pesan ke Dian.
"Malam ini kita perlu kompilasi semua yang ada menjadi satu dokumen yang kohesif. Log akses, rekaman, map koneksi, timeline. Format yang bisa dibawa ke investigator eksternal."
Dian membalas dalam satu menit.
"Butuh berapa jam?"
"Berapa yang kamu butuhkan?"
"Empat jam kalau aku mulai sekarang."
"Mulai sekarang. Aku di tempatmu jam delapan setelah ketemu Pak Hendra."
Satu pesan lagi.
Ke nomor Arka.
Bukan telepon kali ini.
"Malam ini. Jam sembilan. Tempat yang sama dengan pertemuan di ruko itu. Bawa semua yang kamu punya."
Centang dua. Dibaca.
Lalu tiga kata.
"Aku di sana."
Aku menyimpan ponsel.
Melanjutkan berjalan.
Warung Pak Umar sudah tutup ketika aku melewatinya — terlalu sore, belum malam, jam tanggung yang tidak masuk waktu buka. Tapi lampunya masih nyala di dalam dan dari luar aku bisa melihat Pak Umar sedang membereskan sesuatu.
Ia mendongak dan melihatku dari balik kaca.
Melambaikan tangan.
Aku melambaikan balik.
Hal kecil yang tidak ada kaitannya dengan apapun yang sedang terjadi.
Tapi penting dengan caranya sendiri.
Aku sampai di kamar kos pukul lima kurang.
Meletakkan tas. Melepas sepatu. Duduk di tepi kasur.
Kipas angin berbunyi krek.
Aku membuka laci meja.
Buku catatan berisi janji dan perasaan. Notebook berisi peta. Map biru dari Dian. Kartu putih polos dari Arka yang sudah tidak lagi hanya kartu nama.
Semuanya ada.
Semuanya bagian dari sesuatu yang sudah bergerak dan tidak bisa dihentikan.
Aku mengambil buku catatan berisi janji.
Membuka halaman terakhir yang terisi.
Kamu bisa mendengarkan tanpa menjadi lemah. Kamu bisa memahami tanpa memaafkan. Kamu bisa tahu segalanya tentang seseorang dan tetap memilih dirimu sendiri.
Membacanya sekali.
Dua kali.
Lalu menutupnya.
Mandi. Ganti baju. Makan seadanya — nasi sisa dan tempe goreng yang dibungkus dari warung kemarin. Duduk di meja sambil makan, menatap dinding, membiarkan otak yang sudah bekerja keras sejak pagi untuk diam sebentar.
Dua puluh menit.
Hanya itu.
Dua puluh menit tanpa berpikir tentang Vera atau Laras atau rekaman empat puluh tiga menit atau peta yang terus bertambah lapisannya.
Jam tujuh tiga puluh.
Aku mengambil tas. Mengecek semua yang perlu dibawa — notebook, drive eksternal, map biru, ponsel yang sudah penuh terisi.
Berdiri di depan cermin pintu.
Perempuan yang menatap balik bukan perempuan yang foto kusutnya sudah kurobekkan beberapa minggu lalu.
Bukan juga seseorang yang sudah selesai berubah — perubahan tidak bekerja seperti itu, tidak ada titik di mana kamu bisa bilang selesai, sudah jadi.
Tapi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.
Cukup berbeda.
Aku keluar.
Pertemuan dengan Pak Hendra berlangsung empat puluh menit di lobi hotel kecil yang tidak ada hubungannya dengan Nakamura atau Ardent — tempat netral yang Pak Hendra pilih sendiri. Ia datang tanpa asisten. Aku datang tanpa dokumen fisik — hanya yang ada di kepala.
Aku menceritakan tentang Laras.
Tentang rekaman. Tentang nama yang disebut di menit ke tiga puluh delapan.
Pak Hendra mendengarkan dengan cara seseorang yang sudah curiga tentang sesuatu tapi belum punya konfirmasi — dan sekarang konfirmasi itu datang dalam bentuk yang lebih konkret dari yang ia antisipasi.
"Seberapa kuat buktinya?" tanyanya.
"Cukup kuat untuk investigator eksternal." Aku menatapnya. "Tapi harus eksternal. Kalau internal Nakamura — Laras sudah dua tahun di sana. Kita tidak tahu seberapa dalam jangkauannya."
Pak Hendra diam sebentar.
"Ada yang aku percaya di luar Nakamura," katanya akhirnya. "Investigator independen yang sudah pernah bekerja dengan aku sebelumnya. Bersih." Satu jeda. "Tapi kalau aku aktifkan mereka — ini tidak bisa ditarik kembali."
"Saya tahu."
"Kamu siap dengan itu?"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku mengeluarkan notebook dan meletakkannya di meja di antara kami.
Halaman terakhir yang terisi — peta dengan semua garis dan nama dan lingkaran merah.
Pak Hendra menatapnya.
Lama.
Lalu mengangguk.
Satu kali. Pelan.
Seperti seseorang yang baru memutuskan sesuatu yang tidak bisa ditarik balik.
Aku di rumah Dian pukul delapan dua puluh.
Dian membukakan pintu sebelum aku selesai mengetuk — ia sudah menunggu. Layar di mejanya menyala dua, bukan satu. Kertas-kertas yang sudah dikompilasi dalam urutan yang rapi.
Empat jam kerja yang terlihat di setiap halamannya.
"Semua sudah masuk?" tanyaku.
"Semua." Dian menyerahkan satu folder tebal — bukan map biru yang tipis lagi. "Log akses. Rekaman dengan transkrip. Timeline koneksi antara Ardent, Nakamura, dan pihak-pihak terkait. Bukti pemalsuan tanda tangan Arka." Ia menatapku. "Dan satu hal tambahan yang aku temukan waktu kompilasi."
"Apa?"
"Proyek Senja punya satu komponen yang bahkan aku tidak tahu waktu masih di Ardent." Ia membuka halaman tertentu di folder itu. "Ada klien ketiga. Bukan Ardent, bukan Nakamura. Entitas yang sama sekali berbeda yang menjadi end-user dari data yang dikumpulkan."
Aku membaca halaman itu.
Nama yang tertera bukan nama yang aku kenal.
Tapi format entitasnya — struktur kepemilikannya, jurisdiksi hukumnya — itu bukan perusahaan biasa.
Pintu rumah Dian diketuk.
Tiga ketukan. Jeda. Satu.
Aku mendongak.
Dian mengangguk — ia yang undang.
Arka masuk.
Diikuti Rendra dua langkah di belakang.
Ia melihat folder di tanganku. Melihat layar Dian. Melihat ruangan yang sudah berubah dari kunjungan pertamaku — lebih banyak kertas, lebih banyak garis di papan gabus, lebih banyak warna merah.
Lalu menatapku.
Kami saling menatap selama beberapa detik.
Bukan seperti dua orang yang pernah saling mencintai.
Bukan seperti dua orang yang pernah saling menyakiti.
Seperti dua orang yang berdiri di titik yang sama dari arah yang berbeda — dan sekarang harus memutuskan apakah mereka bisa berjalan ke arah yang sama untuk waktu yang cukup untuk menyelesaikan ini.
"Duduk," kata Dian.
Semua orang duduk.
Satu jam berikutnya adalah yang paling padat dan paling serius dari semua pertemuan yang sudah kami lewati.
Dian memandu kompilasi. Arka menambahkan detail dari sisinya — korespondensi, log, rekaman yang sudah ia serahkan. Rendra memverifikasi beberapa fakta teknis yang membutuhkan pengetahuan internal Ardent.
Aku menyatukan semuanya ke dalam narasi yang kohesif. Bukan cerita — bukti. Bukan tuduhan — fakta yang bisa diverifikasi, dengan sumber yang bisa ditelusuri, dalam urutan yang tidak bisa disalahartikan.
Jam sepuluh malam.
Folder yang ada di meja sekarang dua kali lebih tebal dari ketika aku tiba.
Dian menyeduh teh yang tidak ada yang minta tapi semua orang ambil. Rendra membaca ulang bagian terakhir kompilasi dengan konsentrasi penuh. Dian kembali ke layarnya untuk verifikasi terakhir.
Dan aku duduk berhadapan dengan Arka di meja yang sama.
Di antara kami — dokumen, bukti, nama-nama, garis-garis waktu.
Semua yang membawa kami ke sini.
"Besok pagi," kata Arka.
"Ya."
"Kalau Pak Hendra mengaktifkan investigatornya—"
"Ia akan." Aku meletakkan cangkir teh. "Tadi malam ia sudah memutuskan."
Arka mengangguk pelan.
Tangannya di atas meja — jari-jari yang tidak bergerak, tapi tidak dikepalkan. Seseorang yang sudah melewati titik di mana kegelisahan masih terasa perlu ditampilkan.
"Ini akan panjang," katanya.
"Saya tahu."
"Dan tidak semua orang keluar dari ini tanpa konsekuensi."
Aku menatapnya.
"Tidak." Satu kata yang cukup.
Ia tahu aku bicara tentang dirinya juga.
Namanya di kolom persetujuan. Tanda tangan yang dipalsukan — tapi tetap ada di sana. Investigasi yang bersih bisa membersihkan namanya. Atau tidak. Atau membersihkan sebagian dan menyisakan yang lain.
Tidak ada jaminan.
"Rina."
Aku masih menatapnya.
"Setelah ini selesai." Ia bicara pelan — cukup untuk hanya didengar olehku di tengah suara Dian dan Rendra yang bekerja di sisi lain ruangan. "Aku tidak minta apapun. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa—"
"Arka." Aku memotong sebelum ia selesai.
Ia berhenti.
"Kita selesaikan ini dulu," kataku.
Kalimat yang pernah kuucapkan sebelumnya. Tapi kali ini bukan untuk menunda percakapan yang tidak siap aku masuki.
Kali ini karena aku sudah tahu — setelah ini selesai, setelah semua ini beres, ada percakapan yang mungkin perlu terjadi. Atau tidak. Atau bentuknya berbeda dari yang ada di kepala masing-masing dari kami sekarang.
Tapi semua itu harus menunggu.
Karena sekarang — ada sesuatu yang lebih penting dari apapun yang pernah ada di antara kami.
"Ya," kata Arka.
Dan kali ini ia yang tidak melanjutkan.
Jam sebelas kurang.
Aku berdiri. Memasukkan salinan kompilasi ke dalam tas. Mengangguk ke Dian — terima kasih yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Dian mengangguk balik.
Arka juga berdiri.
"Aku antar."
"Tidak perlu."
"Aku tahu tidak perlu." Matanya langsung. "Tapi malam ini — sampai semua ini selesai — jangan kemana-mana sendiri."
Aku menatapnya.
Pertimbangan tiga detik.
Lalu mengangguk satu kali.
Kami berjalan keluar bersama.
Malam yang tidak hujan — langka untuk kota ini akhir-akhir ini. Udara dingin, langit yang cukup bersih untuk melihat satu dua bintang dari celah gedung.
Kami berjalan berdampingan di gang sempit menuju jalan besar. Tidak berbicara. Tidak perlu.
Jarak di antara kami — satu langkah. Cukup untuk berjalan berdampingan. Tidak cukup untuk disebut bersama.
Tepat di antara keduanya.
Di jalan besar, Arka memanggil taksi.
Saat pintu terbuka — ia berkata satu kalimat.
Pelan. Tanpa drama. Tanpa meminta respons.
"Aku harusnya melihatmu lebih awal, Rin. Jauh lebih awal dari ini."
Pintu taksi menutup.
Kendaraan bergerak.
Aku berdiri di tepi jalan sampai lampu belakangnya menghilang di tikungan.
Tidak menangis.
Tidak tersenyum.
Hanya berdiri — dengan tas berisi kompilasi bukti yang besok pagi akan mulai menggerakkan sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Aku baru berbalik untuk berjalan pulang ketika ponselku berbunyi.
Bukan pesan. Bukan telepon.
Notifikasi dari aplikasi keamanan yang Dian install di ponselku seminggu lalu.
Satu baris teks.
"Aktivitas tidak biasa terdeteksi di sekitar lokasi Anda."
Aku berhenti.
Melihat ke kiri. Ke kanan. Gang yang sepi. Lampu yang satu masih mati.
Dan di ujung gang — siluet seseorang yang berdiri terlalu diam untuk seseorang yang kebetulan ada di sana.
Tidak bergerak.
Menatap ke arahku.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dari jarak ini.
Tapi postur itu — cara berdirinya — tidak asing.
Dan di dalam tas yang aku pegang erat di bahu —
Satu-satunya salinan kompilasi yang ada di luar server Dian.
Besok pagi.
Semua rencana untuk besok pagi.
Tiba-tiba terasa sangat jauh.
Isi konten terkunci di sini...

Tulis Komentar di Bawah ini!