📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 81 – PERMAINAN TERBUKA
Siluet itu tidak bergerak.
Aku tidak bergerak juga.
Dua detik. Tiga. Empat.
Lalu ponselku berbunyi lagi — bukan notifikasi, tapi telepon. Dian.
"Rina." Suaranya langsung. "Jangan di luar. Masuk ke dalam sekarang."
"Ada seseorang di ujung gang."
"Aku tahu. Kamera yang aku pasang di ponselmu aktif." Jeda satu detik. "Itu bukan ancaman langsung. Tapi jangan beri mereka alasan untuk mengubahnya jadi ancaman langsung."
"Mereka tahu tentang kompilasi itu?"
"Belum pasti. Tapi mereka tahu kamu keluar dari rumahku malam ini."
Aku tidak berlari.
Tidak menunjukkan bahwa aku melihat mereka.
Berbalik dengan langkah yang sama seperti seseorang yang baru ingat ketinggalan sesuatu — natural, tidak terburu-buru — dan masuk kembali ke gang yang menuju kos.
Tiga puluh langkah.
Dua puluh.
Sepuluh.
Pintu kos.
Masuk. Kunci.
Aku berdiri di balik pintu selama satu menit penuh.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Mendengarkan.
Tidak ada langkah kaki yang mengikuti. Tidak ada suara yang mencurigakan.
Lalu aku naik ke kamar.
Malam itu aku tidak tidur lebih dari dua jam.
Bukan karena takut — tapi karena otak tidak mau berhenti menyusun. Mempersiapkan. Mengantisipasi variabel-variabel yang besok pagi bisa muncul dari arah yang tidak terduga.
Jam lima aku sudah duduk di meja dengan kopi yang kubuat sendiri dan notebook yang terbuka di halaman baru.
Pertemuan jam tujuh dengan Laras.
Lalu entah kapan — investigator yang Pak Hendra aktifkan akan mulai bergerak.
Lalu — setelah itu — tidak ada yang tahu pasti urutannya.
Tapi ada satu hal yang aku tahu dengan pasti:
Hari ini semua kartu harus di atas meja.
Semuanya.
Aku tiba di kantin lantai sembilan pukul enam lima puluh.
Tempat yang hampir kosong di jam segini — hanya satu dua orang dari tim operasional yang shift pagi, dan seorang petugas kebersihan yang mendorong gerobak di sudut.
Aku mengambil meja pojok yang menghadap ke pintu.
Memesan kopi. Menunggu.
Laras datang pukul tujuh kurang dua menit.
Tepat waktu dengan cara seseorang yang menghitung kedatangannya — tidak terlalu awal sehingga terlihat antusias, tidak terlambat sehingga kehilangan kendali situasi.
Ia melihatku. Berjalan ke meja. Duduk.
Tanpa kopi. Tanpa tas kerja. Hanya dirinya dan ekspresi yang sudah aku hafalkan dalam dua minggu terakhir.
Tidak ramah. Tidak tidak ramah.
Hanya ada.
"Kamu minta ketemu," katanya.
"Ya."
"Jam tujuh pagi sebelum rapat." Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja. Terbuka — bukan defensif, tapi tidak juga santai. "Artinya ini bukan tentang pekerjaan."
"Tidak sepenuhnya."
Laras menunggu.
Aku menyesap kopi.
Meletakkan cangkir dengan pelan.
Menatapnya langsung.
"Menit ke tiga puluh delapan," kataku.
Sesuatu bergerak di wajah Laras.
Sangat kecil. Hanya seseorang yang sudah lama belajar mengamati ekspresi yang bisa melihatnya.
Satu milimeter di sudut matanya. Satu ketegangan di rahangnya yang langsung dikendurkan.
Tapi aku melihatnya.
"Kamu perlu lebih spesifik dari itu," katanya.
"Rekaman empat puluh tiga menit. Pertemuan enam belas bulan lalu." Aku tidak mempercepat atau memperlambat ritme bicaraku. "Vera menyebut namamu. Pak Dharma mengkonfirmasi. Konteksnya — kamu sudah tahu."
Hening.
Di kantin yang hampir kosong, suara gerobak petugas kebersihan di sudut terdengar lebih keras dari yang seharusnya.
Laras menatapku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — ekspresi yang selalu terukur itu retak. Bukan hancur. Hanya retak. Satu garis tipis di permukaannya.
"Dari mana kamu dapat rekaman itu?" Suaranya masih terkontrol. Tapi nadanya berbeda.
"Dari seseorang yang menyimpannya untuk digunakan pada waktu yang tepat." Aku menyandarkan punggung ke kursi. "Waktunya sekarang."
Laras tidak menjawab langsung.
Ia menatap mejanya sebentar. Jari-jarinya yang terbuka di atas meja — bergerak satu kali, lalu diam.
"Kamu datang ke sini untuk mengancam?" tanyanya akhirnya.
"Tidak." Aku menggeleng. "Aku datang karena kamu cerdas — cukup cerdas untuk tahu bahwa kalau aku sudah punya rekaman itu, mengancammu tidak ada gunanya. Kamu tidak bisa menghentikan apa yang sudah bergerak."
"Lalu kenapa?"
Pertanyaan yang jujur.
Dan karena jujur — layak mendapat jawaban yang jujur juga.
"Karena aku ingin tahu versimu." Aku menatapnya langsung. "Bukan untuk kompilasi. Bukan untuk investigator. Tapi karena dua minggu ini kamu memberiku data yang membantu, kamu menyuruhku baca halaman terakhir, kamu yang punya akses untuk menguburku dari dalam tapi tidak melakukannya." Aku berhenti sebentar. "Dan aku ingin tahu kenapa."
Laras diam selama lima detik yang panjang.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan — menyandarkan punggungnya ke kursi dengan cara seseorang yang meletakkan sesuatu yang berat.
"Dua tahun lalu," katanya akhirnya. Pelan. "Vera mendekati aku dengan tawaran yang terlihat seperti peluang biasa. Akses ke proyek strategis level tinggi. Kompensasi yang signifikan. Semua terlihat seperti konsultasi normal yang hanya perlu kerahasiaan ekstra."
"Tapi bukan itu."
"Bukan itu." Ia tidak menunduk. Matanya tetap ke depan — bukan ke arahku, tapi ke sesuatu di jarak yang tidak ada di ruangan ini. "Waktu aku mulai mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan — aku sudah terlalu dalam untuk keluar dengan bersih."
"Jebakan yang dibangun perlahan," kataku.
"Ya." Satu kata yang terasa berat. "Dan kamu masuk ke Nakamura — dan aku tahu siapa kamu, tahu latar belakangmu, tahu kenapa Vera tertarik padamu." Ia akhirnya menatapku. "Aku punya dua pilihan. Aktifkan kamu sebagai aset seperti yang Vera inginkan. Atau..."
"Atau tidak."
"Atau tidak." Ia mengangguk. "Data yang aku berikan padamu. Halaman terakhir map cokelat itu. Itu bukan instruksi Vera."
Sesuatu bergeser di dalam dadaku.
Bukan lega — terlalu rumit untuk disebut lega. Tapi sesuatu yang lebih kompleks dari itu. Pemahaman tentang seseorang yang terperangkap di antara dua arah dan memilih dengan cara yang tidak sempurna tapi tidak sepenuhnya salah.
"Kenapa tidak langsung bicara?" tanyaku.
"Karena aku tidak bisa membuktikan bahwa posisiku sudah berubah." Matanya langsung. Keras tapi bukan defensif. "Kata-kata tanpa bukti dari seseorang yang sudah dua tahun bekerja untuk pihak yang salah — kamu akan percaya?"
Aku diam sebentar.
Tidak.
Aku tidak akan percaya.
"Rekaman itu menyebutmu sebagai handler," kataku.
"Ya."
"Itu tidak bisa dihapus dari kompilasi."
"Aku tahu."
"Artinya ketika investigator mulai bekerja hari ini—"
"Namaku masuk." Ia menyelesaikan kalimatku tanpa nada yang meminta belas kasihan. "Aku tahu, Rina."
Kami menatap satu sama lain.
Di antara kami — kopi yang sudah mulai dingin, meja kantin yang tidak memilih untuk jadi tempat percakapan penting, suara gedung yang mulai terisi orang-orang yang memulai hari biasa mereka.
"Ada satu hal yang bisa mengubah posisimu dalam investigasi itu," kataku akhirnya.
Laras tidak bergerak. Tapi matanya berubah satu nada — lebih tajam. Mendengarkan.
"Klien ketiga," kataku.
Sesuatu di wajah Laras — kecil, tapi nyata.
"Dian menemukannya waktu kompilasi." Aku menatapnya. "Entitas yang menjadi end-user dari semua data yang dikumpulkan. Yang namanya tidak ada di dokumen Ardent manapun. Yang bahkan Dian tidak tahu waktu masih di dalam."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Kamu tahu siapa mereka."
Bukan pertanyaan.
Laras tahu — aku bisa melihatnya dari cara tubuhnya merespons. Satu tarikan napas yang sangat terkontrol. Satu keputusan yang sedang dibuat di balik ekspresi yang dijaga.
"Kalau aku beri tahu kamu—"
"Itu akan masuk sebagai informasi dari kooperator." Aku tidak membiarkan kalimatnya selesai dengan cara yang ragu. "Bukan dari tersangka."
Hening yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Laras menatap mejanya.
Satu detik. Dua. Tiga.
Lalu ia mendongak.
Dan baru ia akan bicara — pintu kantin terbuka.
Langkah yang aku kenali sebelum melihat orangnya.
Cepat. Terukur. Sepatu yang berbunyi dengan cara yang spesifik di lantai keramik.
Pak Hendra.
Masuk dengan wajah yang tidak membawa kabar baik.
Ia melihatku. Lalu Laras. Lalu kembali ke aku.
"Rapat darurat. Sepuluh menit." Suaranya rendah tapi tidak ada ruang untuk penundaan. "Lantai dua belas. Semua pihak."
"Semua pihak artinya?"
"Nakamura. Ardent." Jeda yang singkat tapi terasa panjang. "Dan perwakilan dari Kejaksaan."
Laras mendongak tajam.
Aku tidak bergerak.
Kejaksaan.
Bukan investigator independen yang Pak Hendra sebut semalam. Ini jauh lebih besar dari itu.
"Siapa yang mengaktifkan mereka?" tanyaku.
Pak Hendra menatapku dengan cara yang tidak menjawab pertanyaan itu tapi mengatakan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang bilang bahwa ia bukan yang menggerakkan ini.
"Arka Wisnuwardana," katanya akhirnya. "Tadi pagi. Jam enam. Ia datang langsung ke kantor Kejaksaan dengan folder yang ia bawa sendiri."
Ruangan kantin terasa berhenti satu detik.
Arka.
Jam enam pagi.
Sementara aku duduk di meja dengan kopi dan notebook, ia sudah bergerak duluan. Bergerak ke arah yang lebih besar dan lebih tidak bisa ditarik kembali dari apapun yang kami rencanakan semalam.
Pak Hendra sudah berbalik menuju lift.
Laras berdiri dari kursinya.
Aku berdiri juga.
Di lift yang membawa kami ke lantai dua belas, kami bertiga berdiri dalam posisi yang tidak ada yang merencanakan — Pak Hendra di depan, Laras di kiri, aku di kanan.
Cermin lift memantulkan tiga wajah.
Tiga orang yang dua minggu lalu ada di posisi yang berbeda-beda, dengan kepentingan yang berbeda-beda.
Sekarang semua menuju ruangan yang sama.
Pintu lift terbuka.
Dan di ujung lorong lantai dua belas — di depan ruang rapat yang pintunya belum terbuka — berdiri seseorang yang melihat ke arah kami begitu pintu lift terbuka.
Arka.
Di sebelahnya, dua orang yang pakaiannya berbicara sebelum nama mereka disebut — setelan formal, ID yang menggantung di leher, postur seseorang yang terbiasa masuk ke ruangan yang tidak menyambut mereka.
Kejaksaan.
Arka menatapku dari ujung lorong.
Aku menatap balik.
Dua orang yang sudah berulang kali berdiri di sisi berlawanan dari sesuatu dan hari ini berdiri di lorong yang sama menghadap ke arah yang sama.
Ia mengangguk satu kali.
Kecil. Singkat.
Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan.
Hanya — aku bergerak. Kamu tahu kenapa.
Aku mengangguk balik.
Satu kali.
Aku tahu.
Pintu ruang rapat dibuka dari dalam.
Oleh seseorang yang tidak kami undang.
Seseorang yang tidak seharusnya ada di sini sebelum rapat resmi dimulai.
Seseorang yang berdiri di balik pintu dengan ekspresi yang — untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — tidak sepenuhnya terkontrol.
Vera Nathania.
Blazer krem yang mulai terlihat seperti baju perang yang sudah terlalu sering dipakai.
Matanya menyapu lorong — Pak Hendra, aku, Laras, dua perwakilan Kejaksaan, dan terakhir — Arka.
Dan di sana — di wajah seseorang yang sudah dua minggu tidak pernah retak — sesuatu akhirnya bergeser.
Bukan ketakutan.
Tapi pengakuan.
Pengakuan dari seseorang yang baru menyadari bahwa papan catur yang ia pikir masih ia kendalikan —
Sudah berubah formasi.
Tanpa ia melihat kapan itu terjadi.
Bibirnya terbuka sedikit.
Menutup.
Lalu terbuka lagi.
Dan kata pertama yang keluar — bukan ke Pak Hendra, bukan ke Kejaksaan, bukan ke Arka —
Tapi ke aku.
"Kamu."
Satu kata.
Yang mengandung tiga tahun, dua minggu, satu malam di gang sempit, dan semua jarak di antaranya.
"Kapan?" tanyanya.
Aku melangkah masuk ke ruang rapat.
Melewatinya.
Dan menjawab tanpa menoleh:
"Dari awal."

Tulis Komentar di Bawah ini!