📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 82 – RAHASIA TERBESAR TERUNGKAP
Rapat di lantai dua belas berlangsung tiga jam.
Tiga jam yang akan aku ceritakan nanti — kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam format yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Tapi bukan sekarang.
Karena yang terjadi setelah rapat itu selesai — itulah yang mengubah segalanya.
Pukul dua belas lewat tiga puluh.
Orang-orang keluar dari ruang rapat dalam kelompok-kelompok kecil. Perwakilan Kejaksaan dengan folder yang lebih tebal dari yang mereka bawa masuk. Pak Hendra yang berbicara pelan dengan Pak Sigit di sudut. Laras yang tidak berbicara dengan siapapun dan berjalan langsung ke lift dengan cara seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
Vera keluar terakhir.
Tanpa asistennya — asistennya pergi lebih awal, dipanggil keluar dengan bisikan yang aku lihat tapi tidak aku dengar di tengah rapat.
Ia berjalan melewatiku tanpa berhenti.
Tapi sebelum menghilang di tikungan lorong — ia berkata satu kalimat. Pelan. Hanya cukup untuk telingaku.
"Tanya Arka tentang Mei 2019."
Mei 2019.
Aku berdiri di lorong itu setelah Vera menghilang, memutar tanggal itu di kepala.
Mei 2019.
Empat tahun lalu. Satu tahun sebelum aku dan Arka bertemu di acara networking yang membosankan itu. Di meja yang sama karena tidak ada kursi lain yang kosong.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Apa yang terjadi di Mei 2019?
Arka masih di dalam ruang rapat ketika aku masuk kembali.
Duduk sendiri di kursi yang sama sejak tadi — ujung meja, sisi yang menghadap jendela. Semua orang sudah keluar. Ia belum bergerak.
Menatap mejanya dengan cara seseorang yang sudah selesai bertarung dan belum memutuskan apa yang harus dilakukan dengan kemenangan yang tidak terasa seperti kemenangan.
Ia mendongak ketika mendengar langkahku.
Tidak terkejut. Seperti sudah tahu aku akan kembali.
"Rapat berjalan sesuai yang kamu rencanakan," kataku.
"Lebih cepat dari yang aku perkirakan." Suaranya datar — bukan dingin, hanya kosong dari energi yang tidak tersisa. "Kejaksaan sudah punya sebagian dari ini sebelum aku datang pagi tadi. Aku hanya melengkapi yang kurang."
"Siapa yang memberi mereka bagian pertama?"
Ia menatapku. "Dian. Tiga minggu lalu. Sebelum kamu bahkan sampai ke rumahnya."
Aku menarik kursi.
Duduk di seberangnya.
Di antara kami — meja panjang yang tiga jam lalu penuh dengan orang-orang dan dokumen dan ketegangan yang mengisi udara seperti tekanan sebelum hujan.
Sekarang hanya kosong.
"Vera bilang sesuatu sebelum pergi," kataku.
Arka tidak bergerak.
"Mei 2019."
Sesuatu terjadi di wajah Arka.
Bukan retak seperti Laras tadi pagi. Lebih dalam dari itu. Seperti lantai yang selama ini ia injak dengan yakin tiba-tiba menunjukkan bahwa di bawahnya ada ruang kosong yang tidak pernah ia akui ada.
Ia tidak menjawab.
"Arka."
"Aku dengar kamu."
"Tapi kamu tidak menjawab."
Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Punggung menghadapku — postur seseorang yang butuh jarak untuk mengatakan sesuatu yang tidak bisa dikatakan sambil berhadapan.
"Mei 2019," katanya akhirnya. Pelan. Ke arah jendela. "Aku kehilangan seseorang."
Aku menunggu.
"Adikku." Satu jeda. "Dinda. Dua puluh tiga tahun. Kecelakaan di jalan tol luar kota."
Aku diam.
Nama yang tidak pernah ia sebut selama tiga tahun. Adik yang tidak pernah ada dalam cerita-cerita kecil yang sesekali ia bagikan. Kehilangan yang tidak pernah masuk ke percakapan manapun yang pernah kami lakukan.
"Kamu tidak pernah cerita."
"Tidak." Singkat. Tidak meminta maaf atas itu.
"Tapi apa hubungannya dengan—"
"Aku belum selesai." Suaranya tidak tajam. Hanya — menahan sesuatu.
Aku diam.
"Dinda kerja di perusahaan kecil waktu itu. Baru setahun lulus. Excited dengan pekerjaannya, dengan hidupnya." Ia masih menghadap jendela. Kata-kata yang keluar dengan ritme seseorang yang sudah menyimpannya terlalu lama dan sekarang mengeluarkannya satu per satu karena tidak bisa sekaligus. "Perusahaan tempatnya kerja adalah klien konsultasi Ardent waktu itu. Proyek kecil. Tidak penting bagi standar Ardent."
"Tapi penting bagi Dinda."
"Penting bagi Dinda." Napas yang pelan. "Ada perjanjian yang ditandatangani dalam proyek itu. Klausul yang tidak standar. Yang seharusnya ditinjau ulang sebelum Dinda — dan timnya — menandatangani." Ia berhenti sebentar. "Tidak ada yang memberitahu mereka. Analis yang handle proyek itu tidak melakukan tugasnya dengan benar."
Sesuatu mulai bergerak di dalam dadaku.
Perlahan. Seperti air yang mulai mengisi tempat yang tadinya kering.
Firasat yang tidak ingin aku konfirmasi tapi sudah mulai membentuk dirinya sendiri sebelum aku mengizinkannya.
"Klausul itu menyebabkan masalah legal bagi perusahaan Dinda," lanjut Arka. "Perusahaan kecil yang tidak punya sumber daya untuk melawan secara hukum. Mereka tutup dalam tiga bulan." Suaranya tidak naik. Tidak turun. Terlalu terkontrol untuk situasi yang sejelas ini menyakitinya. "Dinda kehilangan pekerjaannya. Kehilangan proyeknya. Kehilangan sesuatu yang sudah ia bangun." Jeda yang panjang. "Dua minggu setelah perusahaannya tutup — ia di dalam mobil di jalan tol itu."
Aku tidak berkata apa-apa.
Ruangan ini terlalu kecil untuk kata-kata sekarang.
"Polisi bilang kecelakaan." Arka berbalik dari jendela. Menatapku untuk pertama kalinya sejak ia mulai bicara. "Aku tidak pernah bisa membuktikan sebaliknya. Tapi aku tidak pernah bisa percaya bahwa itu hanya kecelakaan."
Matanya.
Aku melihat sesuatu di sana yang tidak pernah ada sebelumnya — atau selalu ada tapi selalu tertutup. Sesuatu yang terbentuk dari kehilangan yang tidak pernah diizinkan untuk menjadi berduka karena terlalu sibuk menjadi kemarahan.
"Analis yang handle proyek itu," kataku.
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Arka tidak menjawab langsung.
"Siapa analis itu, Arka?"
Ia menatapku.
Lama.
Dengan cara yang aku baru sekarang mengerti — cara yang selama tiga tahun terasa seperti jarak, seperti tidak peduli, seperti seseorang yang ada tapi tidak hadir.
Bukan tidak hadir.
Tapi hadir dengan beban yang tidak pernah ia ceritakan.
Dan beban itu berbentuk nama.
"Rina." Suaranya keluar berbeda dari semua suara yang pernah kudengar darinya. Bukan dingin. Bukan lelah. Sesuatu yang lebih tua dan lebih berat dari keduanya. "Analis yang handle proyek itu bekerja di Ardent divisi klien kecil. Baru satu tahun masuk. Belum berpengalaman dengan klausul kontrak yang kompleks."
Aku tidak bernapas.
"Namanya ada di dokumen proyek itu." Ia tidak mengalihkan matanya. "Sudah lama ada di sana. Sebelum acara networking itu. Sebelum meja yang sama karena tidak ada kursi lain yang kosong."
Sebelum.
Kata itu jatuh ke dalam ruangan ini seperti sesuatu yang berat sekali.
"Kamu tahu siapa aku sebelum kita bertemu." Bukan pertanyaan. Kata-kata yang keluar dari mulutku tapi terasa seperti bukan aku yang mengucapkannya.
Arka tidak menyangkal.
"Kamu tahu namaku dari dokumen proyek Dinda."
Masih diam.
"Acara networking itu—"
"Bukan kebetulan." Tiga kata yang diucapkan dengan cara seseorang yang sudah menyimpannya bertahun-tahun dan sekarang tidak punya alasan lagi untuk menahannya. "Aku tahu kamu akan ada di sana. Aku yang memastikan duduk di meja yang sama."
Ruangan ini berputar.
Tidak. Ruangan ini tidak berputar — itu hanya cara tubuh merespons sesuatu yang terlalu besar untuk diproses sekaligus. Aku masih duduk. Meja masih di depanku. Jendela masih di belakang Arka. Semua masih di tempat yang sama.
Tapi sesuatu yang fundamental baru saja berubah posisi.
"Kenapa?" Satu kata yang mengandung tiga tahun.
Arka menarik kursi. Duduk kembali — di depanku, bukan di ujung meja yang jauh. Jarak yang lebih dekat dari sebelumnya tapi terasa lebih jauh dari pernah.
"Awalnya—" Ia berhenti. Memulai lagi. "Awalnya aku ingin tahu. Tentang kamu. Tentang apa yang kamu ingat dari proyek itu. Tentang apakah kamu menyadari dampak dari kesalahanmu."
Kesalahanmu.
Kata yang belum pernah ia ucapkan langsung. Yang kini berdiri di tengah ruangan ini seperti seseorang yang sudah lama menunggu giliran.
"Dan?" suaraku keluar lebih tenang dari yang aku rasakan di dalam.
"Dan—" Rahangnya menegang. Mengendur. "Kamu tidak tahu." Sesuatu di wajahnya bergerak. "Itu yang tidak aku antisipasi. Bahwa kamu benar-benar tidak tahu tentang klausul itu. Bahwa kamu analis muda yang diberi proyek yang di luar kemampuannya tanpa supervisi yang cukup. Bahwa yang salah bukan hanya kamu."
"Tapi kamu tetap melanjutkan."
"Ya."
"Selama tiga tahun."
"Ya."
"Dengan tujuan apa?" Aku menatapnya langsung. Mata yang tidak memberikan tempat untuk bersembunyi. "Kalau bukan untuk membalas — lalu apa?"
Arka diam selama waktu yang terlalu panjang.
Tangan di atas meja. Tidak dikepalkan. Tidak bergerak.
"Awalnya untuk membalas." Jujur. Tanpa ornamen. "Aku ingin melihat kamu merasakan kehilangan seperti yang Dinda rasakan. Kehilangan sesuatu yang sudah kamu bangun."
Aku tidak berkedip.
"Tapi kemudian—" Napas yang panjang. "Kemudian aku mulai melihat kamu sebagai seseorang. Bukan nama di dokumen. Bukan analis yang membuat kesalahan. Tapi seseorang yang bekerja keras, yang peduli, yang membawa kopi ke mejanya sendiri jam tujuh pagi karena tidak mau merepotkan siapapun."
Mataku panas.
Aku tidak mengizinkannya jatuh.
"Dan itu lebih menyulitkan segalanya." Suaranya turun. "Karena semakin aku melihat kamu sebagai seseorang — semakin tidak bisa aku melakukan apa yang awalnya aku rencanakan. Tapi juga semakin tidak bisa aku bicara jujur. Karena jujur artinya kehilangan kamu. Dan waktu itu kehilangan kamu sudah terasa seperti sesuatu yang tidak aku mau."
Hening.
Jenis hening yang terbentuk setelah sesuatu yang besar diucapkan dan udara di sekitarnya perlu waktu untuk menyesuaikan diri.
Aku berdiri.
Berjalan ke jendela — tempat yang sama dengan Arka berdiri tadi. Menatap kota di bawah yang tidak peduli dengan apapun yang baru saja terjadi di lantai dua belas gedung ini.
"Kamu bertanya-tanya kenapa aku tidak pernah hadir," kataku. Tanpa menoleh. "Kenapa selalu ada jarak. Kenapa setiap kali kita mulai dekat ada sesuatu yang menarikmu kembali."
Di belakangku, Arka tidak menjawab.
"Karena setiap kali kita dekat — kamu ingat Dinda."
Masih tidak ada jawaban.
Tapi keheningan itu sudah cukup.
"Tiga tahun," kataku pelan. Ke jendela. Ke kota di bawah. "Aku mengira aku tidak cukup baik. Aku mengira ada yang salah dengan caraku mencintai. Aku mengecilkan diriku berkali-kali karena berpikir bahwa kalau aku cukup sabar, cukup pengertian, cukup ada — suatu hari jarak itu akan hilang."
Mataku panas lagi.
Kali ini aku biarkan.
Satu tetes. Hanya satu.
"Ternyata jaraknya bukan tentang aku."
"Rina—"
"Bukan tentang aku." Aku mengulanginya. Bukan dengan marah. Dengan sesuatu yang lebih melelahkan dari marah. "Itu yang paling menyakitkan, Arka. Bukan bahwa kamu menyimpan rahasia ini. Bukan bahwa kamu mendekati aku dengan maksud yang berbeda." Aku berbalik menghadapnya. "Tapi bahwa selama tiga tahun aku menyalahkan diriku sendiri untuk sesuatu yang tidak pernah tentang aku."
Arka menatapku.
Dan kali ini tidak ada yang ia sembunyikan di balik tatapan itu.
Tidak ada lapisan. Tidak ada jarak yang dipertahankan.
Hanya seseorang yang menanggung sesuatu yang sudah terlalu berat terlalu lama — dan sekarang meletakkannya di ruangan ini, di antara kami, di atas meja bersama semua dokumen yang sudah pergi.
"Maaf." Kata yang keluar bukan seperti dua kata jam tiga pagi lewat pesan. Bukan manajemen krisis. Tapi sesuatu yang lebih tua dari itu. "Tidak cukup. Aku tahu itu. Tapi itu yang benar."
Aku menatapnya lama.
Seseorang yang kehilangan adiknya dengan cara yang tidak pernah ia dapatkan jawaban pastinya. Yang membawa kemarahan itu selama bertahun-tahun dan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak lagi berbentuk kemarahan tapi meninggalkan bekas yang sama. Yang menemukan bahwa manusia yang ia targetkan ternyata juga manusia — dan tidak tahu harus melakukan apa dengan penemuan itu.
Aku tidak memaafkannya.
Belum.
Mungkin tidak sekarang. Mungkin butuh waktu yang tidak bisa ditentukan panjangnya.
Tapi aku mengerti.
Dan mengerti bukan hal yang kecil.
"Dinda," kataku akhirnya.
Nama yang pertama kali aku ucapkan.
Arka menutup matanya satu detik.
"Ia suka kopi susu tanpa gula," kataku. Pelan. "Seperti yang selalu aku pesan."
Arka tidak menjawab.
Tapi matanya — ketika dibuka — tidak menyangkal.
Aku mengambil tasku dari kursi.
Berjalan ke pintu.
Berhenti dengan tangan di gagang pintu.
Ada sesuatu yang ingin aku katakan.
Satu hal terakhir sebelum aku keluar dari ruangan ini dan membiarkan semuanya diproses dalam kesunyian yang tidak bisa dihindari.
"Arka."
Ia mendongak.
"Aku tidak akan bilang bahwa semua ini tidak menyakitkan." Aku menatapnya dari jarak pintu. "Tapi aku juga tidak akan bilang bahwa tiga tahun itu tidak nyata. Karena nyata. Semua yang nyata di dalamnya — itu nyata."
Jeda.
"Tapi kita tidak bisa membangun apapun di atas pondasi yang dimulai dengan cara itu."
Pintu terbuka.
Aku melangkah keluar.
Dan di belakangku — di ruang rapat yang sekarang benar-benar kosong — terdengar suara yang sangat pelan. Hampir tidak ada.
Tapi aku mendengarnya.
Nama yang ia sebut.
Bukan namaku.
"Dinda."
Satu kata.
Yang mengandung semua yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapapun selama empat tahun.
Dan aku berjalan terus.
Karena ada hal-hal yang perlu diselesaikan seseorang dalam kesunyiannya sendiri.
Dan aku bukan bagian dari kesunyian itu.






















Tulis Komentar di Bawah ini!