📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 83 – KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
Aku tidak langsung kembali ke meja.
Tidak langsung ke mana-mana.
Berjalan keluar dari gedung Nakamura dan terus berjalan — tanpa tujuan yang jelas, tanpa arah yang dipilih dengan sadar. Kaki yang bergerak karena berdiam diri terasa lebih tidak mungkin dari bergerak.
Kota siang hari di sekitarku.
Orang-orang yang lewat dengan tujuan masing-masing. Warung makan yang baru buka untuk jam makan siang. Suara klakson yang jauh. Bau aspal yang panas di bawah matahari yang tidak minta izin untuk terik.
Semuanya normal.
Dunia yang tidak tahu bahwa tiga puluh menit lalu sesuatu runtuh di lantai dua belas gedung di belakangku.
Aku berjalan selama hampir dua puluh menit sebelum berhenti.
Di depan warung Pak Umar yang sudah buka untuk makan siang.
Masuk. Duduk di bangku plastik yang sama. Pesan kopi susu tanpa gula yang sama.
Pak Umar tidak bertanya apa-apa.
Itu yang aku butuhkan sekarang.
Kopi datang.
Aku memegang gelasnya dengan dua tangan.
Panas yang masuk ke telapak dan menjalar ke pergelangan.
Menatap permukaan kopi yang tidak bergerak.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Dinda. Dua puluh tiga tahun. Baru satu tahun lulus.
Perusahaan kecil. Klausul kontrak yang tidak standar. Analis yang tidak melakukan tugasnya dengan benar.
Aku.
Aku memproses ini dengan cara yang sama seperti memproses data — satu layer dulu, lalu layer berikutnya, tidak mencoba melihat semuanya sekaligus karena sekaligus tidak bekerja untuk hal yang sebesar ini.
Layer pertama: fakta.
Empat tahun lalu aku menangani proyek untuk klien kecil di Ardent. Aku baru satu tahun di sana. Proyek itu ada klausul yang kompleks yang tidak aku tangani dengan benar — entah karena kurang pengalaman, entah karena tidak ada supervisi yang cukup, entah karena keduanya. Klien itu tutup. Salah satu karyawannya kehilangan pekerjaannya. Dua minggu kemudian karyawan itu ada di dalam mobil di jalan tol.
Fakta-fakta yang berdiri sendiri-sendiri.
Layer kedua: yang tidak aku tahu.
Aku tidak tahu nama-nama dari klien itu. Proyek kecil di awal karir yang tidak meninggalkan banyak jejak di ingatanku karena ada terlalu banyak proyek lain sesudahnya. Ada kekhawatiran waktu itu tentang klausul tertentu — aku ingat membaca sesuatu yang membuat aku tidak nyaman, ingat berniat untuk bertanya ke supervisor, ingat supervisor yang terlalu sibuk untuk ditemui.
Ingat akhirnya tidak menindaklanjuti karena tidak tahu seberapa penting.
Gelas kopi di tanganku.
Aku meminumnya satu tegukan.
Panas di tenggorokan yang menandai bahwa ini nyata. Bahwa ini bukan mimpi yang bisa dikeluar dengan bangun.
Layer ketiga: yang paling susah.
Apakah aku bersalah?
Pertanyaan yang tidak mudah.
Karena jawabannya bukan ya atau tidak yang bersih.
Ada kelalaian — iya. Ada keputusan yang harusnya berbeda — iya. Ada konsekuensi yang tidak aku antisipasi dan tidak aku bayangkan bisa sepanjang itu jangkauannya — iya.
Tapi ada juga — sistem yang menaruh orang muda tanpa pengalaman di proyek tanpa supervisi yang cukup. Supervisor yang tidak bisa ditemui. Kultur yang mengutamakan kecepatan di atas ketelitian.
Bukan alasan untuk menghilangkan tanggung jawab.
Tapi konteks yang memperumit kata bersalah menjadi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan satu kata.
Aku meletakkan gelas kopi.
Mengeluarkan ponsel.
Mencari nama yang sudah lama ada di kontak tapi jarang aku hubungi — supervisor lamaku di Ardent yang sudah pensiun dua tahun lalu. Pak Budi. Yang aku hubungi dua kali setahun untuk basa-basi profesional yang tidak pernah lebih dari itu.
Aku mengetik pesan.
"Pak Budi, maaf mengganggu. Ada satu hal dari proyek lama yang perlu saya tanyakan. Kalau Bapak bersedia."
Send.
Ponsel diletakkan.
Aku duduk di bangku plastik Pak Umar dan membiarkan siang hari berlalu di sekitarku.
Berpikir.
Satu hal yang Arka katakan tadi terus berputar.
Kamu tidak tahu. Itu yang tidak aku antisipasi.
Ia datang dengan kemarahan yang sudah berbentuk selama empat tahun. Menemukan seseorang yang tidak sesuai dengan bentuk kemarahannya. Dan kemudian terjebak di antara dua hal yang tidak bisa berdampingan — dendam dan kenyataan.
Aku bisa memahami itu.
Tidak menyetujui. Tapi memahami.
Yang tidak bisa aku pahami sepenuhnya — belum — adalah tiga tahun di antaranya.
Tiga tahun di mana ia bisa saja bicara. Di mana ada momen-momen yang seharusnya membuka ruang untuk kejujuran. Di mana aku ada di depannya, mencintainya dengan cara yang tidak sempurna tapi tidak pernah tidak tulus, dan ia memilih untuk tidak bicara.
Bukan karena tidak punya kesempatan.
Tapi karena memilih tidak.
Ponselku bergetar.
Bukan Pak Budi — terlalu cepat.
Dian.
"Kompilasi sudah di tangan Kejaksaan. Mereka bergerak resmi mulai hari ini. Vera dipanggil untuk keterangan tambahan jam tiga sore. Pak Dharma — besok pagi."
Lalu pesan kedua.
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang tidak biasa dari Dian yang tidak pernah menanyakan hal-hal yang tidak perlu.
Artinya entah bagaimana ia tahu bahwa hari ini ada lebih dari sekadar rapat dan investigasi.
Aku mengetik balasan.
"Belum tahu."
Jujur adalah satu-satunya yang masuk akal sekarang.
Dian membalas.
"Wajar. Ambil waktu."
Tiga kata dari perempuan yang tidak pernah membuang kata.
Tiga kata yang terasa seperti izin.
Aku membayar kopi. Berdiri.
Tapi bukan kembali ke kantor.
Ada satu tempat yang perlu aku kunjungi.
Tempat yang sudah lama tidak aku datangi — sejak pindah ke kota ini, sejak memulai semua ini dari nol.
Rumah lamaku.
Bukan rumah Arka. Bukan kos yang sekarang. Tapi kontrakan pertama yang aku sewa sendiri ketika baru masuk Ardent empat tahun lalu — dua kamar kecil di perumahan sederhana di pinggir kota, dengan pohon mangga di halaman depan yang pemiliknya tidak pernah memetik buahnya sendiri.
Bukan milikku lagi tentu saja. Sudah ada orang lain yang tinggal di sana.
Tapi pohon mangganya masih ada — aku tahu itu karena dua kali setahun aku melewati jalan itu dalam perjalanan ke suatu tempat dan selalu melihatnya dari jendela kendaraan.
Empat puluh menit naik bus.
Aku duduk di kursi dekat jendela dan menatap kota yang bergerak keluar.
Distrik perkantoran yang menipis. Perumahan yang semakin padat. Jalan yang semakin sempit. Pohon-pohon yang semakin banyak.
Aku turun dua halte lebih awal dari yang perlu.
Berjalan.
Jalan yang sudah berubah sedikit — warung baru di sudut, tembok yang dicat ulang, satu rumah yang direnovasi menjadi dua lantai.
Tapi pohon mangga itu masih di sana.
Aku berdiri di depan pagar yang bukan lagi milikku.
Pohon mangganya sudah lebih tinggi dari terakhir kuingat. Buahnya yang muda bergelantungan di ujung-ujung ranting — hijau kecil yang belum waktunya dipetik.
Seseorang yang tidak aku kenal sekarang tinggal di dalam rumah itu.
Tapi ini bukan tentang rumahnya.
Ini tentang perempuan yang pernah tinggal di sana — dua puluh empat tahun, baru satu tahun bekerja, membawa pulang berkas-berkas proyek yang kadang tidak sempat ia baca tuntas karena terlalu lelah.
Perempuan yang suatu malam membaca klausul di dalam satu berkas dan merasa ada yang tidak beres — dan keesokan harinya berniat menanyakannya ke supervisor — dan supervisornya tidak ada — dan hari-hari berlalu sampai niat itu terkubur di bawah niat-niat lain yang juga tidak selesai.
Aku ingat proyek itu sekarang.
Lebih dari yang kubiarkan diri ingat ketika nama Dinda pertama kali disebut tadi.
Klien kecil. Perusahaan yang baru tiga tahun berdiri. Orang-orang muda di dalamnya yang excited dengan cara yang sama seperti aku excited waktu itu.
Aku ingat ada satu perempuan yang aku ajak bicara di kunjungan klien — mungkin itu Dinda, mungkin bukan, wajahnya sudah tidak jelas tapi energinya ada. Perempuan yang bicara tentang proyeknya dengan cara seseorang yang percaya bahwa hal-hal baik akan datang kalau kamu bekerja dengan cukup keras.
Mataku panas.
Di depan pagar rumah yang bukan lagi milikku, di bawah pohon mangga yang tidak peduli dengan siapapun, aku membiarkan sesuatu yang sudah kutahan sejak keluar dari ruang rapat tadi akhirnya bergerak ke permukaan.
Bukan tangisan yang dramatis.
Hanya beberapa tetes yang keluar karena terlalu penuh untuk ditahan lebih lama.
Untuk Dinda yang tidak pernah aku kenal dengan cukup baik tapi mungkin pernah berdiri di ruangan yang sama denganku.
Untuk analis muda yang aku dulu — yang tidak tahu bahwa kelalaian kecil bisa punya bayangan yang sangat panjang.
Untuk semua yang terjadi di antara itu dan ini.
Ponselku bergetar.
Pak Budi.
Aku mengangkat.
"Rina." Suara tua yang masih sama ramahnya. "Ada apa? Lama tidak dengar kabarmu."
"Pak Budi." Aku mengontrol suaraku. "Aku perlu tanya tentang proyek yang aku handle empat tahun lalu. Klien kecil — perusahaan startup di sektor jasa."
Hening sebentar.
"Yang mana? Banyak."
"Yang ada klausul non-standar di perjanjiannya. Yang aku pernah mau tanyakan tapi—" Aku berhenti. "Tapi waktu itu Bapak sedang sangat sibuk."
Hening yang lebih panjang.
Berbeda dari hening pertama.
"Rina." Suara Pak Budi berubah. Lebih pelan. Lebih berhati-hati. "Kenapa kamu tanya tentang itu sekarang?"
"Karena ada yang perlu aku pahami, Pak."
Jeda.
"Klausul itu—" Ia berhenti. Memulai lagi. "Klausul itu bukan kelalaianmu, Rina. Itu klausul yang dimasukkan dari atas — bukan dari analis level kamu. Aku yang harusnya catch itu waktu review. Bukan kamu."
Aku diam.
"Pak—"
"Aku tahu itu bukan pembenaran untuk yang terjadi kemudian." Suaranya lebih berat sekarang. "Dan aku sudah hidup dengan itu. Tapi kamu tidak perlu hidup dengan ini sendirian, Rina. Itu yang ingin aku pastikan kalau kamu menelepon tentang ini."
Mataku panas lagi.
Lebih dari tadi.
"Siapa yang memasukkan klausul itu dari atas, Pak?"
Hening yang paling panjang dari semua hening dalam percakapan ini.
"Itu—" Napas Pak Budi. "Itu pertanyaan yang jawabannya sudah lama aku simpan. Dan mungkin sudah waktunya keluar."
"Pak Dharma?"
Sunyi di ujung telepon.
Lalu satu kata.
Pelan. Lelah. Dari seseorang yang sudah menyimpan ini terlalu lama.
"Ya."
Aku berdiri di depan pagar rumah lama dengan pohon mangga yang lebih tinggi dari yang kuingat.
Di satu tangan, ponsel yang masih menempel ke telinga dengan Pak Budi yang menunggu di ujung sana.
Di tangan lain, tas yang berisi semua yang sudah dikompilasi selama dua minggu dan sudah berpindah ke tangan yang tepat.
Pak Dharma.
Yang namanya ada di rekaman empat puluh tiga menit.
Yang menandatangani penangguhan akses Arka.
Yang menyetujui modifikasi Proyek Senja.
Dan yang empat tahun lalu — mungkin lebih awal dari itu — memasukkan klausul yang menghancurkan perusahaan kecil dan membawa Dinda ke jalan tol itu.
Semua garis di peta yang sudah aku gambar berulang kali — bukan bermula dari Vera. Bukan dari Laras. Bukan dari jaringan yang mereka bangun dua tahun lalu.
Bermula jauh lebih awal.
Dari satu orang yang namanya selalu ada di pusat tapi tidak pernah terlihat karena terlalu jauh di belakang untuk dijangkau oleh cahaya yang menyinari yang lain.
"Pak Budi," kataku. "Apakah Bapak bersedia memberikan keterangan resmi?"
Hening.
"Kepada siapa?"
"Kejaksaan. Mereka sedang bekerja sekarang."
Hening yang lebih panjang dari semua sebelumnya.
Lalu napas yang terdengar seperti seseorang yang meletakkan sesuatu yang sudah lama dipikul.
"Sudah lama aku tunggu ada yang tanya itu," katanya pelan.
Telepon mati.
Aku menyimpan ponsel.
Menatap pohon mangga sekali lagi.
Buah-buah hijau kecil yang belum waktunya dipetik tapi sudah cukup besar untuk menunjukkan bahwa mereka ada.
Aku berbalik.
Berjalan kembali ke arah halte.
Di dalam kepalaku, peta yang sudah berkali-kali digambar ulang akhirnya menemukan bentuknya yang sesungguhnya — bukan lingkaran dengan nama-nama di tepinya.
Tapi garis lurus yang panjang.
Dari empat tahun lalu.
Dari klausul yang dimasukkan dari atas.
Dari perusahaan yang tutup.
Dari Dinda.
Dari kemarahan Arka yang mencari bentuk.
Dari pertemuan yang tidak kebetulan di meja yang sama.
Dari tiga tahun yang nyata meskipun fondasinya tidak.
Sampai ke pagi ini.
Sampai ke ruang rapat di lantai dua belas.
Sampai ke pohon mangga ini.
Satu garis lurus yang tidak pernah tentang aku dan Arka.
Selalu tentang satu orang yang bermain terlalu lama dari tempat yang terlalu jauh — dan hari ini akhirnya tidak lagi cukup jauh untuk tidak terlihat.
Di halte, bus datang.
Aku naik.
Dan mengirim satu pesan terakhir — bukan ke Dian, bukan ke Pak Hendra.
Ke Arka.
"Pak Dharma yang memasukkan klausul itu empat tahun lalu. Aku baru dapat konfirmasi dari supervisorku. Ia bersedia bersaksi."
Kirim.
Tiga puluh detik kemudian — balasan.
Satu kata.
Tapi kata itu mengandung empat tahun pencarian dan dua minggu kebenaran yang akhirnya menemukan bentuknya.
"Aku tahu."
Dan di bawahnya — satu kalimat yang tidak aku antisipasi:
"Dinda juga punya teman yang menyimpan pesannya dari malam sebelum kecelakaan itu. Pesan yang menyebut nama Pak Dharma."
Bus bergerak.
Kota di luar jendela mengalir.
Dan sesuatu di dalam dadaku — setelah dua minggu dan tiga tahun dan empat tahun —
Mulai bergerak ke arah yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan lagi menahan.
Tapi siap.






















Tulis Komentar di Bawah ini!