📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 84 – AIR MATA YANG TERAKHIR
Aku sampai di kos pukul empat sore.
Bukan dari kantor. Bukan dari mana-mana yang penting.
Hanya dari bus yang membawaku dari pohon mangga itu kembali ke sini — ke kamar kecil dengan kipas angin yang berbunyi krek dan cermin seukuran telapak tangan yang kutempel sendiri dengan lakban di balik pintu.
Aku menutup pintu.
Menguncinya.
Meletakkan tas di lantai — bukan di meja, di lantai, karena tangan yang meletakkannya tidak punya energi untuk mengangkat lebih tinggi dari itu.
Duduk di tepi kasur.
Tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit.
Hanya duduk.
Mendengarkan suara gedung di luar — motor yang lewat, anak-anak yang bermain di gang, suara televisi dari kamar sebelah yang temboknya terlalu tipis.
Hidup yang terus berjalan di luar sana.
Ponselku berbunyi dua kali.
Aku tidak mengambilnya.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Bukan karena tidak mau — tapi karena ada sesuatu yang perlu diselesaikan dulu di dalam ruangan ini sebelum aku bisa kembali ke dunia di luar pintu itu.
Aku rebahan.
Langit-langit putih kusam.
Noda kecil di sudut kanan yang sudah ada sejak hari pertama aku tinggal di sini dan tidak pernah hilang meskipun sudah berbulan-bulan.
Kipas angin berputar. Krek. Krek. Krek.
Dan kemudian — tanpa peringatan, tanpa meminta izin — semuanya datang.
Bukan satu hal.
Semua sekaligus.
Tiga tahun. Empat tahun. Nama-nama. Wajah-wajah. Momen-momen kecil yang terasa tidak penting waktu terjadi tapi sekarang berjajar seperti orang-orang yang sudah lama menunggu giliran untuk masuk ke ruangan yang sama.
Malam-malam menunggu telepon yang tidak datang.
Senyum yang kupaksakan di depan orang-orang yang mengira kami pasangan yang bahagia.
Promosi yang kutolak sambil pura-pura tidak menyesal.
Kata maaf yang keluar dari mulutku karena kangen pada kekasihku sendiri.
Foto yang kusut di sudut koper yang hampir tidak pernah kubuka.
Perempuan lelah di foto itu yang tidak langsung kukenali sebagai diriku sendiri.
Lalu — lebih dalam dari itu.
Malam di kantor empat tahun lalu.
Berkas di mejaku. Klausul yang kubaca dan membuat tidak nyaman. Niat untuk bertanya yang tidak pernah jadi pertanyaan. Hari-hari yang berlalu di atas niat yang terkubur.
Seseorang yang excited bicara tentang proyeknya di kunjungan klien yang sudah tidak jelas wajahnya di ingatanku tapi energinya masih ada.
Dua minggu kemudian.
Jalan tol.
Air mata pertama keluar tanpa aku sadari kapan memulainya.
Hanya tiba-tiba pipi kananku basah dan aku tidak ingat kapan mata mulai mengeluarkannya.
Aku tidak menghentikannya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama — aku tidak menghentikannya.
Tidak menggigit bibir. Tidak menarik napas dalam-dalam dengan teknik yang kupelajari dari artikel kesehatan mental. Tidak membuat daftar di buku catatan atau berjalan ke jendela untuk mengalihkan.
Hanya berbaring di kasur ini dan membiarkan semuanya keluar dengan cara yang sudah menunggu terlalu lama.
Aku menangis untuk Dinda yang tidak pernah kukenal cukup baik.
Untuk perempuan muda yang excited dengan proyeknya yang runtuh bukan karena ia tidak bekerja keras. Untuk kehilangan yang tidak seharusnya terjadi. Untuk jalan tol yang menjadi akhir dari cerita yang seharusnya masih panjang.
Aku menangis untuk analis muda yang aku dulu.
Yang tidak tahu bahwa kelalaiannya bisa menjangkau sejauh itu. Yang bekerja di sistem yang tidak memberikan cukup perlindungan bagi orang-orang di dalamnya — termasuk dirinya sendiri. Yang bertahun-tahun kemudian harus memproses bahwa ada benang yang menghubungkan malam di kantor dengan berkas yang tidak ditindaklanjuti itu ke semua yang terjadi sesudahnya.
Aku menangis untuk tiga tahun yang nyata meskipun fondasinya bukan.
Untuk momen-momen kecil yang sungguh terjadi — kopi yang diletakkan di mejanya tanpa diminta, ia mengingat bahwa aku tidak suka ketumbar, malam-malam yang tidak semuanya salah. Untuk kemungkinan yang mati bukan karena tidak ada bahan untuk hidup tapi karena berdiri di atas tanah yang tidak cukup kuat dari awal.
Aku menangis untuk semua versi Rina yang pernah ada.
Yang terlalu sabar. Yang terlalu kecil. Yang minta maaf karena kangen. Yang menolak promosi. Yang bertahan tiga tahun di dalam sesuatu yang sudah tidak baik jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Dan — ini yang paling susah — untuk versi Rina yang sekarang.
Yang harus memproses semuanya sekaligus dan tetap berdiri setelahnya.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis.
Langit-langit yang sama. Kipas angin yang sama. Suara gedung di luar yang sama.
Tapi di dalam — sesuatu yang bergerak.
Bukan hilang. Rasa sakit tidak hilang dalam satu sore di kamar kos. Itu bukan cara kerjanya.
Tapi bergerak. Mengendur sedikit di tempat-tempat yang sudah terlalu lama tegang. Membuat ruang yang sebelumnya tidak ada.
Jam berapa sekarang aku tidak tahu.
Langit di luar jendela kecil sudah lebih gelap dari siang tapi belum sepenuhnya malam.
Aku masih di kasur.
Tapi sudah tidak menangis.
Aku menatap langit-langit.
Perlahan — seperti seseorang yang baru bangun dari tidur yang panjang dan perlu waktu untuk mengingat di mana ia berada — aku mulai memilah.
Yang bisa aku ubah:
Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi empat tahun lalu. Tidak ada yang bisa mengembalikan Dinda. Tidak ada yang bisa membuat klausul itu tidak pernah ada di berkas itu. Tidak ada yang bisa membuat malam di kantor itu berjalan berbeda.
Yang sudah terjadi, sudah terjadi.
Yang bisa aku lakukan:
Pak Budi sudah bersedia bersaksi. Pesan Dinda sebelum kecelakaan itu ada. Kompilasi sudah di tangan Kejaksaan. Pak Dharma yang selama ini bermain dari jauh mulai tidak punya tempat untuk bersembunyi.
Itu nyata. Itu bisa digerakkan.
Yang perlu aku putuskan:
Bagaimana aku membawa semua ini — semua yang baru saja aku ketahui, semua yang baru saja aku rasakan — dan tetap berdiri.
Bukan berpura-pura tidak sakit.
Tapi berdiri meskipun sakit.
Aku duduk.
Perlahan.
Mengambil tissue dari kotak di meja. Mengelap wajah. Minum air dari gelas yang sudah tidak terlalu dingin.
Di lantai, tas yang kuletakkan waktu masuk masih di sana.
Aku mengambilnya. Mengeluarkan buku catatan berisi janji dan perasaan.
Membukanya bukan di halaman terakhir yang terisi.
Tapi dari halaman pertama.
Membaca ulang.
Dari awal.
HAL YANG TIDAK AKAN PERNAH KULAKUKAN LAGI.
JANJI UNTUK RINA.
Halaman demi halaman. Tulisan tangan yang berubah sedikit dari awal ke akhir — huruf yang lebih tegak, tekanan pena yang lebih pasti, jarak antarbaris yang lebih teratur.
Perubahan yang tidak kusadari waktu menulisnya tapi terlihat jelas sekarang dari jaraknya.
Aku membaca sampai halaman terakhir.
Kamu bisa mendengarkan tanpa menjadi lemah. Kamu bisa memahami tanpa memaafkan. Kamu bisa tahu segalanya tentang seseorang dan tetap memilih dirimu sendiri.
Kalimat yang kutuliskan untuk menghadapi besok.
Yang ternyata sudah harus digunakan hari ini.
Aku membuka halaman baru.
Mengambil pulpen.
Menulis.
Bukan daftar. Bukan janji. Bukan peta.
Hanya kata-kata yang perlu keluar karena air mata tadi tidak cukup untuk semua yang perlu dilepaskan.
Untuk Dinda yang tidak pernah aku kenal cukup baik — aku minta maaf. Bukan karena meminta maaf mengubah apapun. Tapi karena pengakuan itu nyata dan kata-kata itu nyata dan kamu layak mendapatkan keduanya meskipun tidak ada lagi cara untuk menyampaikannya langsung.
Untuk analis muda yang aku dulu — aku tidak akan menyebutmu bodoh atau lalai atau tidak bertanggung jawab. Kamu muda. Kamu tidak cukup didukung. Kamu ada di sistem yang menggunakanmu tanpa mempersiapkanmu. Itu tidak menghapus konsekuensi dari apa yang tidak kamu lakukan. Tapi itu artinya kamu tidak harus menanggung ini sendirian selamanya.
Untuk tiga tahun itu — aku tidak akan berpura-pura semuanya salah. Ada yang nyata. Ada yang baik meskipun kecil. Ada momen-momen yang aku tidak mau minta kembali meskipun diberi kesempatan. Tapi ada juga yang tidak seharusnya aku terima — dan aku sudah menerimanya terlalu lama. Itu juga bagian dari ceritanya. Keduanya benar sekaligus.
Untuk Rina sekarang — yang duduk di kasur ini dengan mata yang bengkak dan buku catatan di pangkuan — kamu tidak harus punya semua jawaban malam ini. Kamu tidak harus selesai memproses ini dalam satu sore. Kamu tidak harus bangkit besok pagi dengan senyum yang sudah siap.
Tapi kamu harus bangun. Itu saja yang diperlukan sekarang.
Bangun, cuci muka, makan sesuatu.
Dan percayai bahwa setelah ini — ada sesuatu yang lebih dari ini.
Aku menutup buku catatan.
Meletakkannya di meja.
Berdiri.
Berjalan ke kamar mandi kecil.
Mencuci muka dengan air dingin — dua kali, tiga kali, sampai kulit di pipi tidak lagi terasa panas.
Menatap wajahku di cermin kecil yang kutempel dengan lakban.
Mata yang bengkak. Hidung yang kemerahan. Wajah seseorang yang baru selesai menangis.
Wajah yang tidak perlu diperbaiki sekarang.
Cukup diakui.
Aku kembali ke kamar.
Mengambil ponsel yang tidak kusentuh sejak sampai.
Tiga pesan tidak terbaca.
Wulan: "Kamu tidak kembali ke kantor siang tadi. Baik-baik saja?"
Pak Hendra: "Ada update dari Kejaksaan. Hubungi kalau sudah bisa."
Dan satu pesan lagi.
Dari nomor yang sudah kukenal tapi masih belum kusimpan dengan nama.
Arka.
"Pak Budi sudah dihubungi oleh tim Kejaksaan. Mereka bergerak cepat."
Lalu di bawahnya — satu kalimat terpisah yang dikirim beberapa menit kemudian.
"Terima kasih sudah memberitahu aku tentang Pak Budi, Rina."
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Bukan karena tidak mengerti.
Tapi karena perlu waktu untuk memutuskan apa yang ada di baliknya — apakah ini tentang Pak Budi dan kesaksiannya, atau tentang sesuatu yang lebih dari itu. Tentang aku yang memilih untuk meneruskan informasi itu meskipun tidak harus. Meskipun sudah ada Kejaksaan yang bekerja. Meskipun itu berarti membantu seseorang yang tiga jam sebelumnya baru saja memberitahuku bahwa tiga tahun bersamanya dimulai dari sesuatu yang bukan kebetulan.
Aku mengetik balasan.
Singkat.
"Ini bukan tentang kamu dan aku. Ini tentang Dinda dan Pak Dharma. Itu yang penting sekarang."
Send.
Ponsel diletakkan.
Aku ke dapur kecil di ujung lorong kos.
Memasak nasi. Menggoreng telur dengan sisa bawang putih yang ada.
Makanan yang tidak butuh banyak pikiran untuk dibuat.
Kembali ke kamar. Duduk di meja. Makan.
Satu suapan. Dua. Tiga.
Di luar, malam sudah sepenuhnya datang.
Lampu gang yang satu masih mati — sudah berapa minggu, aku tidak ingat lagi. Tapi yang satunya menyala dan cahayanya masuk dari celah tirai kecil di jendela.
Cukup untuk melihat.
Setelah makan, aku duduk di tepi kasur lagi.
Tapi kali ini berbeda dari tadi.
Tadi duduk dengan berat sesuatu yang belum dikeluarkan.
Sekarang duduk dengan ringannya sesuatu yang sudah dilepas — bukan pergi, bukan hilang. Tapi tidak lagi ditahan dengan cara yang melelahkan.
Aku mengambil buku catatan satu kali lagi.
Bukan halaman yang tadi kutulis.
Halaman yang jauh lebih awal — halaman pertama yang pernah kutulis di buku ini, malam pertama di kota ini, waktu semua yang kupunya adalah satu koper dan tekad yang belum sepenuhnya jelas bentuknya.
HAL YANG TIDAK AKAN PERNAH KULAKUKAN LAGI.
Nomor satu: menangis demi seseorang yang tidak pernah menangis untukku.
Aku membaca baris itu.
Lalu menambahkan satu catatan kecil di bawahnya — dengan tulisan yang lebih tenang dari semua tulisan sebelumnya di buku ini:
Tapi boleh menangis untuk dirimu sendiri. Itu berbeda.
Menutup buku.
Meletakkannya di laci.
Merebahkan diri.
Langit-langit putih kusam.
Kipas angin yang berputar.
Krek. Krek. Krek.
Ritme yang sudah jadi bagian dari malam-malamku di sini.
Aku menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terlalu lama untuk diingat dengan tepat — tidak ada yang berputar di kepala. Tidak ada peta. Tidak ada nama-nama. Tidak ada kalkulasi tentang besok.
Hanya lelah yang bersih.
Jenis lelah yang datang setelah sesuatu yang perlu dilakukan akhirnya dilakukan.
Tapi tepat sebelum tidur datang — satu pikiran terakhir yang muncul bukan sebagai kecemasan tapi sebagai sesuatu yang lebih tenang dari itu.
Tentang Dinda.
Yang tidak pernah kukenal tapi namanya sekarang ada di bagian dari diriku yang tidak akan terhapus.
Tentang kemarahan Arka yang mencari bentuk selama empat tahun dan menemukan perempuan yang tidak sesuai dengan bentuknya.
Tentang Pak Dharma yang selama ini berdiri terlalu jauh untuk terlihat — dan hari ini tidak lagi.
Tentang semua garis di peta yang ternyata tidak bermula dua minggu lalu.
Tidak bermula tiga tahun lalu.
Tapi empat tahun lalu.
Di malam yang biasa di kantor yang biasa.
Dengan berkas yang biasa.
Dan satu keputusan kecil yang tidak pernah terasa seperti keputusan sampai bayangan panjangnya akhirnya sampai ke sini.
Ke kamar ini.
Ke malam ini.
Ke perempuan yang besok pagi akan bangun.
Cuci muka.
Dan melanjutkan.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena di balik sakit itu —
Ada sesuatu yang belum selesai.
Dan Rina Amelia belum pernah meninggalkan sesuatu yang belum selesai.






















Tulis Komentar di Bawah ini!