📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 96 – PERTEMUAN KEMBALI
Tiga minggu setelah Bab 95.
Tanaman kecil yang kubeli di pasar bersama Wulan sudah tumbuh dua helai daun baru.
Aku memperhatikan ini pada suatu pagi ketika minum kopi di bangku kecil depan jendela — tiba-tiba ada yang berbeda dari sudut jendela itu, ada hijau kecil yang sebelumnya tidak ada.
Dua helai daun baru.
Dari tanaman yang aku beli karena ada dan murah dan Wulan bilang ambil saja, kamu butuh sesuatu yang hidup di kamarmu.
Ternyata Wulan benar.
Bulan kedua setelah konferensi pers berjalan dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.
Lebih lambat. Lebih teratur. Seperti seseorang yang sudah lama berlari dan baru belajar kembali cara berjalan dengan kecepatan yang tidak membakar semua energi sebelum sampai ke mana-mana.
Evaluasi formal dengan Pak Hendra berjalan dua minggu setelah percakapan di kantornya. Tiga jam. Dokumen kerja yang diperiksa, analisis yang dinilai, diskusi yang lebih seperti dua orang yang berbicara tentang pekerjaan dengan setara daripada atasan yang menilai bawahan.
Hasilnya: posisi baru mulai bulan depan. Analis Strategi dan Risiko — bukan junior. Dengan scope kerja yang mencakup apa yang sudah terbukti bisa kukerjakan dan ruang untuk berkembang ke arah yang belum pernah aku jangkau.
Pak Hendra bilang satu kalimat setelah evaluasi selesai.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
"Kamu sudah di sini, Rina. Sekarang tinggal memilih mau seberapa jauh."
Kalimat yang aku simpan di halaman baru buku catatan malam itu.
Proses hukum masih berjalan.
Hartono yang sudah resmi berstatus tersangka dengan pengacara yang jumlahnya aku tidak tahu pasti tapi terasa seperti banyak. Yang bergerak di koridor-koridor yang aku tidak lagi perlu masuki karena Andri dan timnya yang ada di sana sekarang.
Sesekali Andri menghubungi untuk klarifikasi kecil — detail teknis yang perlu dikonfirmasi, dokumen yang perlu diverifikasi ulang. Aku menjawab dan menyediakan apa yang diperlukan. Tapi bukan aku yang ada di garis depan itu lagi.
Itu tepat. Bagianku sudah selesai.
Bagas sudah kembali bekerja — pekerjaan baru di tempat yang tidak ada hubungannya dengan Ardent atau Nakamura atau siapapun dalam lingkaran yang sudah terlalu lama mengitari hidupnya. Ia mengirim pesan singkat dua minggu lalu.
"Hari pertama kerja baru. Terasa aneh tapi baik."
Aku membalas dengan dua kata.
"Selamat, Bagas."
Dian yang sudah kembali ke proyeknya sendiri — ada perusahaan yang menghubunginya setelah sistem analisis yang ia kembangkan mendapat perhatian dari diskusi yang muncul setelah kasus ini jadi publik. Pekerjaan baru yang ia ceritakan dengan cara seseorang yang tidak terlalu banyak bicara tentang dirinya tapi kalau bicara selalu dengan tepat.
"Akhirnya ada yang tahu menggunakan alat yang benar untuk hal yang benar," pesannya singkat.
Laras yang terakhir aku dengar kabarnya dari Wulan — yang rupanya punya teman yang punya koneksi ke informasi yang tidak selalu resmi — sedang dalam proses pindah kota. Bukan kabur. Tapi memulai ulang di tempat yang tidak penuh dengan jejak dari dua tahun terakhir.
Aku mengerti itu.
Dan Arka.
Arka yang dalam tiga minggu terakhir hadir dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan karena ada kasus yang perlu dikoordinasikan. Bukan karena ada informasi yang perlu dibagikan. Bukan karena situasi yang mendesak yang membuat kehadirannya menjadi logis dan terstruktur.
Hanya hadir.
Pesan singkat yang tidak selalu perlu dibalas panjang. Tadi lewat warung yang kamu pernah cerita. Kopinya memang bagus. Atau ada film yang Rendra rekomendasikan, katanya bagus untuk seseorang yang butuh dua jam tidak memikirkan apapun. Atau kadang hanya semoga harimu baik.
Hal-hal kecil.
Yang aku terima dengan cara yang tidak lagi menganalisis terlalu dalam maknanya — hanya menerima dan membalas dengan cara yang sesuai.
Tapi pertemuan langsung sejak malam di depan gedung Nakamura itu — belum ada.
Bukan karena dihindari.
Lebih karena ada hal-hal yang perlu waktunya sendiri untuk menjadi jelas sebelum bisa dihadapi dengan cara yang tepat.
Sabtu ini berbeda karena ada undangan.
Bukan dari Arka. Dari Rendra.
"Kumpul kecil. Aku, Bagas, beberapa teman. Makan malam santai. Sabtu jam tujuh. Kamu mau?"
Lalu di bawahnya — tidak langsung, tapi jelas:
"Arka juga diundang."
Aku membaca pesan itu.
Memikirkannya selama beberapa menit bukan karena ragu tapi karena ingin memastikan bahwa keputusan yang kuambil datang dari tempat yang tepat — bukan dari menghindari, bukan dari memaksakan, tapi dari sesuatu yang lebih tenang dari keduanya.
Lalu mengetik:
"Oke. Kirim alamat."
Tempat yang Rendra pilih bukan restoran formal.
Rumah makan padang yang ramai di kawasan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota — jenis tempat di mana mejanya panjang dan makannya bersama dan tidak ada yang perlu memesan karena semua lauk sudah ada di atas meja sejak awal.
Sederhana. Tidak ada yang perlu dipersiapkan secara mental untuk menghadapinya.
Aku tiba pukul tujuh lewat sepuluh.
Rendra sudah ada bersama dua orang yang aku tidak kenal — teman-temannya dari sebelum semua ini. Bagas yang sudah di sudut meja dengan cara duduk seseorang yang sudah lebih nyaman dengan dirinya sendiri dari terakhir aku melihatnya di ranjang rumah sakit.
Wulan yang ternyata diundang juga — karena Rendra dan Wulan rupanya sudah beberapa kali makan siang bersama di kantin Nakamura dan menjadi teman dengan cara yang tidak melibatkan semua drama yang melibatkan orang-orang lain di lingkaran yang sama.
Dan Arka.
Yang sudah ada di meja ketika aku masuk.
Duduk di sisi kanan meja. Bicara dengan seseorang di sebelahnya. Terlihat — berbeda.
Bukan berbeda secara fisik. Kemeja yang sama rapinya, rambut yang sama, postur yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari dalam caranya duduk — lebih ringan. Seperti seseorang yang sudah meletakkan sesuatu dan sudah cukup lama tidak membawanya sehingga tubuhnya mulai lupa bagaimana rasanya menanggung beban itu.
Ia melihatku masuk.
Aku melihat ia melihatku.
Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang perlu dibuat lebih dari apa adanya.
Hanya — dua orang yang melihat satu sama lain di ruangan yang sama.
Aku mengangguk.
Ia mengangguk balik.
Aku duduk di sisi kiri meja — Wulan di sebelah kiriku, Bagas dua kursi dari kananku.
Meja panjang yang penuh orang. Makanan yang sudah ada. Suara percakapan yang tumpang tindih dengan cara yang tidak pernah bisa diikuti seluruhnya tapi terasa hangat justru karena itu.
Makan malam berjalan dengan ritmenya.
Rendra yang paling banyak bicara — ia memang seperti itu, seseorang yang menjadi semacam pusat gravitasi sosial tanpa mencoba. Bagas yang lebih banyak mendengarkan tapi sesekali bicara dengan cara yang menunjukkan bahwa ia sudah lebih nyaman dari sebelumnya.
Wulan yang menceritakan sesuatu tentang proyeknya yang membuat semua orang tertawa — bukan karena ceritanya lucu secara objektif tapi karena cara Wulan bercerita selalu membuat sesuatu yang biasa terdengar lebih dari biasa.
Aku makan. Mendengarkan. Bicara ketika ada yang relevan.
Normal.
Sangat normal dengan cara yang sudah berbulan-bulan aku rindukan tanpa sadar.
Empat puluh menit setelah aku duduk — Arka pindah tempat.
Bukan ke sebelahku langsung. Ke kursi yang satu tempat dari kananku yang kosong karena seseorang pergi ke kamar mandi dan tidak kembali ke kursi yang sama.
Jarak yang cukup untuk bicara tanpa perlu mengeraskan suara di antara percakapan lain di meja.
"Kamu kelihatan berbeda," katanya.
Pelan. Bukan ke semua orang — hanya ke aku.
"Berbeda bagaimana?"
"Lebih—" Ia memikirkan kata yang tepat. "Lebih di tempatmu."
Aku menatap meja sebentar.
Memikirkan apakah kalimat itu tepat untuk mendeskripsikan apa yang aku rasakan dalam tiga minggu terakhir — yang masih dalam proses dipahami, yang belum punya nama yang sempurna, tapi yang terasa seperti sesuatu yang sedang mengisi ruang yang dulu kosong.
"Mungkin," kataku.
"Posisi barumu dimulai kapan?" tanyanya.
"Bulan depan."
"Pak Hendra bilang padaku." Ia mengambil segelas air. "Bukan detailnya. Hanya bahwa ada perubahan posisi yang ia rasa perlu kamu yang ceritakan sendiri kalau mau."
Aku menatapnya. "Pak Hendra cerita ke kamu?"
"Kami masih bicara sesekali. Dalam konteks yang berbeda sekarang." Satu sudut bibirnya bergerak. "Ia bilang kamu negotiated it yourself. Tidak minta bantuan siapapun."
"Karena tidak perlu bantuan siapapun."
"Aku tahu." Matanya langsung. "Itu yang ia maksud sebagai pujian."
Aku tidak menjawab tapi tidak juga memalingkan wajah.
Rendra berteriak dari ujung meja — Arka, ceritakan yang tadi tentang— dan percakapan itu terputus karena meja panjang tidak mengenal privasi.
Arka menoleh ke arah Rendra dan masuk ke percakapan yang lebih besar.
Aku kembali ke percakapan dengan Wulan di sebelah kiriku.
Normal. Wajar. Tidak ada yang perlu dibuat lebih dari itu.
Makan malam selesai pukul sembilan lewat dua puluh.
Orang-orang mulai berpencar — ada yang masih mau duduk, ada yang sudah harus pergi. Bagas yang pamit duluan karena masih menjaga kondisi fisiknya. Teman-teman Rendra yang entah ke mana. Wulan yang bilang ia janjian dengan seseorang dan berlalu dengan cara yang agak terburu-buru dan senyum yang agak terlalu lebar — sesuatu yang aku tidak bertanya tapi sudah bisa mengartikannya.
Akhirnya yang tersisa di meja adalah aku, Arka, dan Rendra.
Rendra yang kemudian mendapat telepon dan beranjak ke sudut ruangan dengan cara seseorang yang tahu bahwa percakapan telepon ini akan memakan waktu.
Dan aku dan Arka.
Di meja panjang yang tiba-tiba terasa lebih sepi dari setengah jam yang lalu.
"Makasih sudah datang," katanya.
"Makasih diundang." Aku merapikan serbet di depanku — kebiasaan tangan yang tidak perlu alasan. "Malam yang baik."
"Ya." Jeda singkat. "Lama tidak ada malam yang terasa seperti ini."
Aku tahu yang ia maksud.
Malam yang tidak ada agenda tersembunyi. Yang tidak ada nama di peta yang perlu dipikirkan. Yang hanya — makan bersama orang-orang yang sudah melewati sesuatu bersama dan sekarang duduk di meja yang sama tanpa beban yang sama.
"Lama sekali," kataku.
"Rina."
Aku menatapnya.
"Aku sudah mulai proses untuk meninggalkan Ardent secara resmi." Kata-kata yang keluar dengan cara yang sudah dipikirkan tapi tidak dilatih — jujur tanpa terdengar seperti pengumuman. "Bukan karena dipaksa situasi. Tapi karena sudah waktunya." Ia menatap mejanya sebentar. "Ada beberapa tawaran. Belum memutuskan yang mana. Tapi ada."
"Ke arah yang mana?"
"Konsultasi independen. Proyek yang aku pilih sendiri." Ia mendongak. "Lebih lambat dari yang biasanya. Lebih kecil mungkin di awal. Tapi lebih — aku punya kendali atas apa yang aku kerjakan dan untuk siapa."
Aku mendengarkan tanpa memotong.
Seseorang yang sudah melepaskan sesuatu yang dua belas tahun ia bangun — bukan karena dipaksa menyerah tapi karena memilih untuk meletakkannya dan memulai sesuatu yang berbeda.
Tidak mudah.
Tapi bukan keputusan yang datang dari kepanikan.
"Kedengarannya benar," kataku.
"Ya." Matanya ada sesuatu yang tidak ada beberapa bulan lalu — ketenangan yang bukan ketiadaan emosi, tapi kedamaian seseorang yang sudah selesai melawan dirinya sendiri tentang sesuatu. "Terasa benar."
Rendra kembali ke meja.
"Maaf — ada yang perlu aku urus malam ini." Ia mengambil tasnya dengan cara seseorang yang memang perlu pergi tapi juga mungkin sengaja perlu pergi. "Kalian oke kalau aku tinggal duluan?"
"Oke," kata Arka.
Rendra mengangguk. Ke aku, ke Arka. Satu ekspresi yang mengandung banyak hal yang tidak diucapkan tapi keduanya menangkap.
Lalu pergi.
Aku dan Arka di meja panjang yang sekarang kosong kecuali kami.
Pelayan yang sibuk membersihkan meja lain. Suara dapur yang masih ramai meskipun tamu mulai sepi.
"Kamu perlu pulang?" tanyanya.
"Tidak terburu-buru." Aku menatapnya. "Kamu?"
"Tidak."
Jeda yang nyaman.
Bukan jeda yang menunggu sesuatu untuk mengisinya. Jeda yang cukup dengan keberadaannya sendiri.
"Ada yang ingin aku tanyakan," kataku akhirnya.
"Tanya."
"Selama ini — pesan-pesan kecil yang kamu kirim." Aku memilih kata-kata dengan hati-hati, bukan karena takut tapi karena presisi penting. "Itu dari kamu yang mana?"
Ia mengerutkan dahi sedikit. "Maksudnya?"
"Dari Arka yang masih mengelola situasi. Atau dari Arka yang tidak sedang mengelola apapun."
Pertanyaan yang bisa terdengar seperti ujian.
Tapi bukan itu maksudnya — dan dari cara ia menatapku, ia tahu itu bukan ujian.
"Dari yang kedua," jawabnya.
Langsung. Tanpa kualifikasi.
"Kamu yakin?"
"Karena tidak ada situasi yang perlu dikelola lagi." Ia menatapku dengan cara yang sudah berulang kali terjadi dan kali ini tidak aku alihkan. "Hanya aku yang masih ingin tahu bagaimana kabarmu."
Aku mendengarkan kata-kata itu.
Membiarkannya ada tanpa langsung merespons dengan keputusan atau definisi atau penjelasan tentang apa artinya.
Di luar rumah makan, suara kota malam.
Di dalam — suara pelayan, suara dapur, suara dua orang yang sudah melewati terlalu banyak bersama untuk berpura-pura bahwa pertemuan ini tidak lebih dari makan malam biasa.
"Aku tidak tahu ke mana arahnya," kataku akhirnya. Jujur. Tanpa membungkusnya dengan apapun. "Belum tahu."
"Aku tahu kamu belum tahu." Suaranya tidak kecewa. Tidak juga terlalu sabar dengan cara yang terasa seperti menunggu sesuatu. Hanya menerima. "Aku juga belum tahu sepenuhnya."
"Tapi?"
"Tapi aku tidak keberatan tidak tahu kalau prosesnya seperti ini."
Kalau prosesnya seperti ini.
Makan malam di tempat yang ramai. Percakapan yang tidak perlu agenda. Jeda yang nyaman. Pertanyaan yang bisa ditanyakan dan dijawab dengan jujur.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Tapi aku tidak berdiri untuk pergi.
Dan ia tidak mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.
Dua puluh menit kemudian kami keluar bersama.
Malam yang tidak terlalu dingin. Jalan yang tidak terlalu ramai.
Berjalan ke arah yang sama sampai pertigaan yang membawa kami ke arah berbeda.
Di pertigaan itu, aku berhenti.
"Ini ke kos," kataku. Menunjuk ke kiri.
"Aku ke kanan." Ia berhenti juga.
Hening dua detik.
Tidak ada yang mencoba mengisinya dengan sesuatu yang berlebihan.
"Sabtu depan," katanya. "Ada pameran buku di gedung serbaguna dekat stasiun. Rendra cerita. Katanya ada yang jual buku lama dengan harga murah." Satu jeda. "Kamu tertarik?"
Bukan deklarasi.
Bukan pertanyaan tentang apa yang ada di antara kami atau mau ke mana.
Hanya — Sabtu depan. Pameran buku. Buku lama dengan harga murah.
Aku memikirkan novel yang masih belum selesai di kamar. Tanaman kecil di jendela yang baru tumbuh dua helai daun. Pagi-pagi yang tidak lagi diisi dengan mendesak tapi belum sepenuhnya tahu diisi dengan apa.
"Oke," kataku.
Satu kata.
Yang tidak berlebihan dan tidak menutup pintu.
Arka mengangguk.
Satu kali.
Dengan cara seseorang yang menerima jawaban itu sebagai apa adanya — bukan lebih, bukan kurang.
"Sampai Sabtu," katanya.
"Sampai Sabtu."
Kami berjalan ke arah masing-masing.
Aku ke kiri.
Ia ke kanan.
Di belakangku — suara langkahnya yang menjauh.
Di depanku — gang sempit yang sudah aku kenal.
Lampu yang dua seminggu lalu masih mati sekarang sudah menyala.
Dan di kamarku yang menunggu —
Novel yang belum selesai.
Tanaman kecil di jendela.
Buku catatan di atas meja.
Hal-hal kecil yang ternyata tidak sekecil yang dikira.
Aku berjalan pulang.
Dalam malam yang tidak buru-buru kemana-mana.
Dengan sesuatu di dalam dada yang tidak punya nama yang tepat belum —
Tapi sudah punya tempat.






















Tulis Komentar di Bawah ini!