📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 97 – KATA YANG TERTUNDA
Sudut pandang berganti.
Untuk ketiga kalinya dalam cerita ini — dan kali ini berbeda dari dua yang sebelumnya.
Bukan tentang strategi. Bukan tentang seseorang yang tidak bisa tidur karena memikirkan langkah selanjutnya.
Tentang seseorang yang duduk di meja kerjanya pukul sebelas malam — bukan karena ada yang harus diselesaikan, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa selain duduk dan mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri.
Sabtu pameran buku sudah tiga hari yang lalu.
Arka menatap meja kerjanya.
Di atasnya — buku catatan yang sama dengan yang pernah ia tulis tentang Dinda. Terbuka di halaman baru. Pulpen di sebelahnya yang belum diambil.
Sudah setengah jam seperti ini.
Pulpen yang tidak diambil karena ada sesuatu yang perlu dipahami dulu sebelum bisa ditulis — dan sesuatu itu masih dalam proses dipahami.
Sabtu.
Pameran buku yang Rendra rekomendasikan dengan cara yang Arka sudah tahu bukan hanya rekomendasi tentang buku.
Rendra yang sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu kapan ia membutuhkan sesuatu yang terstruktur — alasan untuk ada di suatu tempat bersama seseorang tanpa harus menamakannya sebagai sesuatu yang lebih dari itu.
Mereka bertemu di depan pintu masuk gedung serbaguna pukul sepuluh pagi.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Rina yang datang dengan tas kain di bahu dan cara berpakaian seseorang yang memutuskan untuk nyaman hari itu — bukan blazer, bukan yang perlu dipikirkan. Kaos dan celana yang jatuhnya bagus tanpa mencoba keras.
"Kamu tidak terlambat," katanya ketika melihat Arka sudah ada.
"Kamu tidak terlambat juga." Ia menunjuk jam tangannya. "Tepat waktu."
"Tapi kamu sudah di sini duluan."
"Kebiasaan."
Ia tertawa kecil. Bukan karena jawaban itu lucu — tapi karena sesuatu dalam cara ia menjawab yang terasa familiar tanpa harus akrab.
Mereka masuk ke dalam.
Gedung serbaguna yang Sabtu pagi sudah penuh dengan orang-orang yang bergerak pelan di antara meja-meja yang penuh tumpukan buku. Buku-buku lama dengan sampul yang sudah pudar. Buku-buku yang pernah dimiliki seseorang sebelum sampai ke sini.
Rina yang bergerak dengan cara yang berbeda dari ketika ia di kantor atau di ruang rapat atau di lorong rumah sakit.
Lebih lambat. Lebih — ada.
Berhenti di depan satu tumpukan. Mengambil satu buku dengan sampul biru yang sudah pudar. Membaca sinopsisnya dengan ekspresi yang berubah dari netral ke sesuatu yang lebih tertarik.
"Kamu suka fiksi?" tanyanya tanpa melihat ke arahnya.
"Tergantung." Arka berdiri di sebelahnya. "Yang mana?"
Ia menunjukkan sampulnya.
Ia membaca judulnya. "Belum pernah dengar."
"Aku juga. Tapi sinopsisnya menarik." Ia membalik buku itu. "Tentang seseorang yang kehilangan ingatan dan harus membangun kembali siapa dirinya dari catatan-catatan yang ia tinggalkan untuk dirinya sendiri."
Arka diam sebentar.
"Ironis," katanya akhirnya.
"Kenapa?"
"Kita dua bulan terakhir melakukan sebaliknya. Membangun gambaran seseorang dari catatan yang mereka tinggalkan."
Rina menatapnya.
Satu detik yang lebih panjang dari detik biasa.
Lalu senyum tipis. Bukan senyum yang dibuat — senyum yang muncul sebelum sempat diputuskan.
"Belum pernah dipikir dari sudut itu."
Ia membeli buku itu.
Dengan dua ribu lima ratus rupiah.
Cara ia menyimpannya di dalam tas kainnya — seperti sesuatu yang sudah ia rencanakan akan dibaca sebelum sampai ke rumah.
Mereka berjalan lebih dalam ke dalam pameran.
Membahas buku-buku yang ditemukan — mana yang pernah dibaca, mana yang terdengar menarik, mana yang judulnya lebih bagus dari isinya. Percakapan yang tidak punya agenda. Yang bisa berhenti di mana saja dan tidak ada yang merasa sesuatu yang penting tidak terselesaikan.
Satu jam kemudian mereka keluar.
Rina dengan empat buku. Arka dengan dua — yang satu karena ia memang mau, yang satu karena Rina menemukannya dan bilang ini kamu yang perlu baca, bukan aku dengan cara yang tidak memberi ruang untuk menolak.
Makan siang di warung makan kecil di seberang gedung.
Bukan pilihan yang direncanakan — keduanya lapar di waktu yang bersamaan dan warung itu ada di depan mereka.
Mie goreng yang rasanya pas. Teh manis yang terlalu manis tapi tidak ada yang mengeluh.
Percakapan yang bergerak dari buku ke pekerjaan ke hal-hal yang lebih kecil dari keduanya.
Rina yang menceritakan tentang tanaman di jendela yang sudah tumbuh dua daun baru.
Arka yang menceritakan tentang proyek konsultasi pertama yang sudah ia tandatangani — kecil, tapi terpilih sendiri, dengan klien yang ia percaya cara kerjanya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rina.
"Asing." Ia jujur. "Dua belas tahun di tempat yang sama dengan cara yang sama. Sekarang tiba-tiba harus membangun sesuatu dari awal lagi." Ia menyesap tehnya. "Tapi tidak terasa salah."
"Itu yang penting."
"Ya."
Itu yang penting.
Kalimat yang pendek tapi diucapkan dengan cara seseorang yang tahu dari pengalaman — bukan dari teori — bahwa tidak terasa salah adalah benchmark yang lebih penting dari banyak hal yang terdengar lebih besar.
Mereka berpisah di luar warung makan.
Tanpa perencanaan yang berlebihan. Tanpa kata-kata yang lebih dari yang perlu.
Rina ke arah halte bus. Arka ke parkiran.
Tapi sebelum berpisah — Rina berhenti.
"Arka."
Ia menoleh.
"Buku yang kamu beli tadi — yang aku paksa." Satu sudut bibirnya. "Kalau sudah selesai baca, ceritakan pendapatnya."
Bukan permintaan yang punya konsekuensi besar.
Hanya — alasan untuk ada percakapan berikutnya.
"Oke," jawabnya.
Kembali ke Sabtu malam.
Kembali ke meja kerja di apartemennya.
Pulpen yang masih belum diambil.
Arka mengambil pulpen.
Membuka buku catatan di halaman yang sudah menunggu.
Dan mulai menulis — bukan dengan cara terstruktur, bukan dengan cara seseorang yang tahu ke mana tulisannya pergi. Hanya mengikuti apa yang ada di kepala.
Hari ini.
Sederhana dan tidak sederhana sekaligus.
Rina memilih buku dengan sampul biru yang sudah pudar dan berkata bahwa sinopsisnya menarik. Aku melihat caranya membaca sampul belakang — ekspresi yang berubah dari netral ke tertarik — dan menyadari bahwa aku sudah pernah melihat ekspresi itu sebelumnya. Tapi dulu tidak membiarkan diriku memperhatikannya dengan benar.
Dulu terlalu banyak lapisan di antara apa yang aku lihat dan apa yang aku izinkan untuk diakui.
Mie goreng yang rasanya pas. Teh yang terlalu manis. Percakapan yang tidak perlu tujuan.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali sesuatu semudah ini.
Atau mungkin belum pernah.
Mungkin itulah bedanya.
Ada pertanyaan yang sudah ada sejak beberapa minggu yang belum pernah aku tulis dengan jelas karena menulisnya dengan jelas artinya menghadapinya dengan jelas.
Pertanyaan itu adalah: apa yang aku rasakan terhadap Rina sekarang — setelah semua yang sudah terjadi — apakah sesuatu yang nyata atau sesuatu yang dibangun dari rasa bersalah dan hutang dan konteks yang terlalu rumit untuk disebut bersih?
Arka berhenti.
Menatap pertanyaan itu di halaman.
Lalu melanjutkan.
Jujur.
Aku harus jujur kalau mau tulisan ini berguna untuk apapun.
Rasa bersalah ada. Itu nyata dan tidak akan hilang hanya karena aku ingin tidak merasakannya.
Hutang juga ada — dalam arti bahwa apa yang ia lakukan, caranya bergerak, keberaniannya yang tidak pernah berasal dari ketidaktakutan tapi dari pilihan untuk tidak berhenti meskipun takut — itu adalah sesuatu yang tidak bisa aku lihat tanpa merasakan sesuatu tentangnya.
Tapi apakah yang aku rasakan HANYA tentang itu?
Tidak.
Dan itu yang membuatnya rumit.
Karena kalau hanya rasa bersalah dan hutang — itu bisa dikelola. Diakui. Diletakkan di tempatnya yang tepat.
Tapi ada yang lain.
Yang ada bahkan di momen-momen kecil yang tidak ada hubungannya dengan semua yang sudah terjadi.
Cara ia menyimpan buku di dalam tas kainnya seperti sesuatu berharga tanpa berlebihan.
Caranya bilang itu yang penting — pendek, langsung, dari tempat yang dalam.
Caranya menemukan buku yang ia tahu harus aku baca bukan untuk dirinya — dan memberikannya dengan cara yang tidak memberi ruang untuk menolak karena ia sudah yakin itu tepat.
Tiga tahun yang lalu aku ada di dekatnya dan memilih untuk tidak melihat.
Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena terlalu banyak hal yang menghalangi — beban yang kubawa, cara salah aku mengolahnya, jarak yang aku pertahankan karena lebih mudah dari alternatifnya.
Dinda pernah bilang aku terlalu pandai menyimpan sesuatu sampai lupa cara mengeluarkannya.
Ia benar.
Pertanyaan yang berbeda sekarang:
Apa yang perlu dilakukan dengan semua ini?
Arka berhenti menulis.
Menatap pertanyaan itu.
Ada opsi yang mudah — membiarkan semuanya berjalan dengan kecepatan yang tidak pernah sampai ke mana-mana. Makan siang bersama sesekali. Pesan singkat yang tidak pernah lebih dari ringan. Kehadiran yang tidak pernah dituntut untuk mendefinisikan dirinya.
Aman.
Tapi tidak jujur.
Ada opsi yang lain — bicara.
Bukan dengan cara yang memaksa jawaban atau yang membebani dengan ekspektasi. Tapi dengan cara yang jujur tentang apa yang ada, tanpa meminta apa yang belum tentu bisa diberikan, tanpa menjadikannya sesuatu yang lebih besar dari kapasitas yang ada sekarang.
Risiko dari opsi kedua adalah penolakan.
Atau sesuatu yang lebih rumit dari penolakan — seseorang yang tidak tahu jawabannya dan tidak bisa dipaksa untuk tahu.
Arka menulis lagi.
Tapi risiko dari opsi pertama adalah membiarkan sesuatu yang nyata terus ada tanpa pernah diberi ruang yang tepat.
Dan aku sudah terlalu lama melakukan itu.
Terlalu lama menyimpan. Terlalu lama tidak mengeluarkan.
Dinda perlu satu orang untuk menyimpan catatannya empat tahun karena tidak ada yang ia percayai untuk menyerahkannya.
Aku sudah punya seseorang yang ada di depanku.
Dan kali ini tidak ada alasan untuk tidak bicara selain takut.
Takut adalah alasan yang valid.
Tapi tidak cukup untuk terus diam.
Arka menutup buku catatan.
Bukan karena selesai — tapi karena beberapa hal tidak perlu selesai ditulis untuk bisa dieksekusi.
Ia mengambil ponsel.
Melihat jam.
Sebelas dua puluh malam.
Terlambat untuk menelepon tanpa alasan yang jelas. Terlambat untuk pesan yang panjang.
Tapi ada satu hal yang tidak terlambat untuk dikirim.
Satu kalimat.
Yang bukan deklarasi dan bukan permintaan. Yang hanya membuka ruang untuk percakapan yang belum punya waktu yang tepat tapi perlu dimulai dari suatu tempat.
Ia mengetik.
Membaca ulang.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Kali ini tidak dihapus.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tidak mendesak dan tidak perlu dijawab malam ini. Tapi kalau kamu punya waktu minggu ini — aku ingin bicara. Bukan tentang kasus atau pekerjaan atau apapun yang sudah selesai. Tentang yang belum."
Ia menatap layar.
Jarinya di atas tombol kirim.
Jujur.
Kata-kata dari tulisan yang baru saja ia tutup.
Jujur artinya bergerak meskipun tidak tahu hasilnya.
Jujur artinya tidak menyimpan sampai lupa cara mengeluarkan.
Send.
Layar kembali ke tampilan awal.
Pesan terkirim.
Dua tanda centang — terkirim.
Arka meletakkan ponsel di atas meja.
Menatap langit-langit.
Apartemen yang terlalu besar untuk satu orang yang sudah perlahan-lahan mulai terasa berbeda dari beberapa bulan lalu — bukan karena berubah secara fisik, tapi karena cara seseorang yang ada di dalamnya sudah berubah cara melihatnya.
Dinda yang pernah berbaring di sofa itu dan bilang sofa ini terlalu besar untuk satu orang.
Yang bilang kamu butuh teman, bukan pacar.
Yang menambahkan nama Rina di bawah kalimat tentang seseorang yang bisa membantunya ingat cara mengeluarkan sesuatu.
Mungkin Dinda tahu sesuatu yang waktu itu belum bisa ia lihat sendiri.
Ponselnya bergetar.
Satu notifikasi.
Centang dua yang berubah warna — sudah dibaca.
Lalu tiga titik yang muncul di jendela percakapan.
Arka menatap tiga titik itu.
Bergerak.
Berhenti.
Bergerak lagi.
Seseorang di kamar kos dengan tanaman kecil di jendela dan novel yang belum selesai dan buku catatan di atas meja — sedang mengetik sesuatu.
Tiga titik yang bergerak.
Berhenti.
Bergerak.
Lalu — berhenti.
Dan jawaban yang muncul bukan panjang.
Tidak juga singkat sampai tidak punya makna.
Tepat.
"Aku punya waktu."
Tiga kata.
Yang tidak berlebihan dan tidak menutup pintu.
Yang membiarkan sesuatu untuk tumbuh dengan caranya sendiri.
Seperti tanaman kecil di jendela yang tidak dipaksa tapi diberi ruang.
Dan tumbuh dua helai daun baru.
Arka membaca tiga kata itu.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu meletakkan ponsel.
Dan untuk pertama kalinya dalam malam yang sudah sebelas dua puluh — tersenyum.
Bukan karena semuanya sudah pasti.
Tapi karena ada ruang untuk sesuatu yang belum.
Dan ruang itu sudah cukup untuk memulai.






















Tulis Komentar di Bawah ini!