📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
BAB 100 – CINTA YANG TERPILIH
Sabtu.
Arka mengirim alamat Kamis malam.
Bukan restoran. Bukan kafe. Bukan tempat yang punya ekspektasi tertentu tentang bagaimana malam itu harus berjalan.
Taman botani di pinggir kota — yang aku tidak tahu ada sampai ia menyebutnya. Yang ternyata sudah ada puluhan tahun tapi tidak pernah masuk ke radar seseorang yang hidupnya selama ini berkisar di antara kantor dan kos dan warung Pak Umar.
Masuk gratis Sabtu pagi. Buka jam delapan. Ada yang jual kopi di dekat pintu masuk kalau mau.
Pesan yang tidak berlebihan.
Aku membalasnya dengan oke dan tidak menambahkan apapun.
Sabtu pagi.
Aku bangun sebelum alarm.
Berbaring sebentar — langit-langit, kipas angin, tanaman kecil di jendela yang siluetnya sudah jadi bagian dari pemandangan pagi yang tidak perlu dipikirkan. Hanya ada.
Ada yang berbeda dari pagi-pagi Sabtu sebelumnya.
Bukan tentang ke mana aku pergi hari ini.
Tentang bagaimana rasanya menuju ke sana.
Tidak ada kalkulasi.
🔒 Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca SEMUA Bab novel: “Aku Menikah dengan Orang Asing Demi Menyelamatkan Ibuku” ini. Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir penulisnya HANYA Rp. 50.000 untuk semua Bab novel ini sebanyak 100 Bab, jadi biayanya murah banget HANYA Rp. 500 per Bab-nya! Caranya tinggal 》》》 klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Tidak ada pertanyaan tentang apa artinya ini atau ke mana arahnya atau apa yang harus diputuskan hari ini.
Hanya — hari Sabtu. Taman botani. Kopi di dekat pintu masuk kalau mau.
Sesuatu yang sederhana yang tidak perlu dibebani oleh semua yang sudah terjadi sebelumnya.
Aku bangun. Mandi. Memilih pakaian dengan cara yang santai — celana yang nyaman, kaos yang sudah dicuci berkali-kali sampai bahannya jatuh dengan benar, sepatu kets yang tidak pernah salah untuk berjalan.
Sarapan. Kopi yang dibuat sendiri.
Menatap tanaman kecil di jendela sebentar.
Tiga helai daun baru yang minggu lalu masih dua.
Aku mengambil tas kain yang sama dengan pameran buku.
Memasukkan buku catatan baru — bukan karena ada rencana untuk menulis, tapi karena sudah jadi kebiasaan membawanya.
Dan satu hal lagi.
Buku catatan lama — yang hampir penuh, yang berisi dari halaman pertama sampai hampir habis.
Bukan untuk dibaca.
Tapi karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan hari ini yang perlu buku itu ada di dekatnya.
Keluar pukul tujuh empat puluh lima.
Bus. Halte yang berbeda dari biasanya — lebih jauh ke barat, jalan yang tidak sering aku lewati.
Kota yang bergerak dengan ritme Sabtu paginya.
Taman botani.
Pintu masuk yang tidak megah tapi tidak juga sederhana — gerbang besi dengan tanaman rambat yang sudah lama tumbuh di sisinya. Papan nama yang catnya sudah agak pudar tapi tulisannya masih jelas.
Warung kopi kecil di sebelah kiri pintu masuk, persis seperti yang Arka tulis.
Arka sudah ada di sana.
Dua cangkir kopi di tangannya — sudah memesan duluan, sudah tahu tanpa perlu bertanya bahwa kopi susu tanpa gula adalah yang akan aku minta.
Aku berjalan ke arahnya.
Ia melihatku datang dan tidak melakukan apapun yang berlebihan — tidak melambaikan tangan dari jauh, tidak berjalan menghampiri. Hanya menunggu dengan cara seseorang yang sudah belajar bahwa menunggu bukan kelemahan.
"Pagi," katanya.
"Pagi." Aku mengambil cangkir yang ia sodorkan. "Kamu tidak terlambat."
"Sudah sepuluh menit."
"Kamu selalu lebih awal."
"Kebiasaan yang tidak berubah." Satu sudut bibirnya. "Tapi alasannya sudah berbeda dari dulu."
Kami masuk ke taman.
Taman botani yang tidak pernah aku kunjungi ini ternyata lebih besar dari yang aku bayangkan — jalan setapak yang berkelok di antara pohon-pohon besar, area tanaman berbunga yang diatur berdasarkan jenisnya, kolam-kolam kecil yang airnya bersih karena dirawat.
Dan di pagi Sabtu yang masih sejuk — tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang tapi tidak sampai mengganggu rasa tenang yang ada di sini.
Kami berjalan.
Tidak dengan tujuan spesifik — hanya mengikuti jalan setapak ke mana pun arahnya.
Bicara tentang hal-hal yang tidak perlu agenda.
Arka yang menceritakan bahwa proyek konsultasi pertamanya berjalan lebih baik dari yang ia antisipasi — klien yang ternyata punya cara kerja yang bisa ia hormati, pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa apa yang ia ketahui berguna tanpa harus mengorbankan sesuatu yang tidak perlu dikorbankan.
Aku yang menceritakan tentang briefing proyek ekspansi yang sudah mulai bergerak — angka-angka yang sudah lama tertunda akhirnya punya arah, tim yang bekerja dengan cara yang aku percayai.
Percakapan yang tidak perlu dianalisis.
Hanya dua orang yang berbagi hari Sabtu pagi.
Setengah jam berjalan, kami menemukan bangku kayu di bawah pohon besar — pohon yang sudah lama ada di sini, batangnya sudah sebesar pelukan tangan dua orang.
Duduk.
Cangkir kopi yang sudah mendingin tapi masih diminum.
"Ada yang ingin aku tunjukkan," kataku.
Arka menatapku.
Aku mengeluarkan buku catatan lama dari tas kain.
Ia melihat buku catatan itu — sudah pernah melihatnya sebelumnya, di beberapa momen, tapi tidak pernah tahu isinya.
"Boleh?" tanyaku.
"Ini milikmu."
"Aku ingin kamu membaca beberapa halamannya." Aku membukanya — bukan dari awal, bukan dari akhir. Dari halaman yang ada di tengah-tengah. Halaman yang ditulis setelah ia datang ke depan pintu kamar kosku malam itu dengan wajah yang takut. "Ini ditulis dalam waktu yang sudah kamu tahu konteksnya."
Ia mengambil buku catatan itu.
Membaca.
Aku tidak melihat wajahnya membaca.
Menatap pohon-pohon di depan. Mendengarkan suara taman — burung di suatu tempat, angin yang menggerakkan daun, langkah seseorang di kejauhan.
Beberapa menit.
Ia membacanya pelan — tidak tergesa, tidak melompati.
Lalu meletakkan buku catatan itu di pangkuannya.
"Ini semua ditulis sendiri?" tanyanya. Bukan tentang kontennya — tentang prosesnya.
"Ya."
"Dalam berapa lama?"
"Dari malam pertama di kota ini. Sampai minggu lalu."
Ia menatap buku catatan itu sebentar.
Lalu menatapku.
"Kamu tidak pernah berhenti memproses," katanya. Bukan kritik. Hanya observasi. "Bahkan di tengah semua yang terjadi."
"Itu yang membuatku tidak kehilangan arah." Aku mengambil kembali buku catatan itu. Menutupnya. "Dan yang membuat aku tahu bahwa hari ini aku ada di sini bukan karena situasi atau kebiasaan atau karena tidak ada pilihan lain."
"Tapi karena?" ia menunggu.
Aku memikirkan cara yang tepat untuk mengatakan ini.
Bukan kata-kata yang sudah dilatih. Bukan kalimat yang terdengar bagus tapi kosong di dalamnya.
Hanya yang jujur.
"Karena aku memilih," kataku. "Dengan semua yang sudah aku ketahui. Tentang kamu, tentang aku, tentang semua yang sudah terjadi di antaranya." Aku menatapnya langsung. "Bukan tanpa mata terbuka. Tapi dengan mata terbuka."
Arka diam.
Dengan cara yang sudah aku pelajari artinya — bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena sedang memastikan bahwa yang akan dikatakan tepat.
"Waktu Dinda bilang — temukan seseorang yang mau repot membantumu ingat cara mengeluarkan sesuatu —" Suaranya pelan. "Aku tidak tahu waktu itu bahwa ia sudah punya seseorang dalam pikirannya."
"Mungkin ia tidak tahu juga," kataku. "Mungkin ia hanya melihat sesuatu yang belum bisa kamu lihat sendiri."
"Apa yang ia lihat?"
Aku memikirkan ini.
Dinda yang tidak pernah aku kenal langsung. Yang namanya menjadi bagian dari cerita ini dengan cara yang tidak bisa direncanakan oleh siapapun. Yang menulis catatan dengan pena biru dan menitipkannya kepada teman yang menyimpannya empat tahun.
Yang menyebut namaku di bawah kalimat tentang kakaknya.
"Mungkin ia melihat bahwa kakaknya terlalu pandai menyimpan," kataku akhirnya. "Dan bahwa seseorang yang tahu cara mengeluarkan sesuatu — bukan dengan paksa, tapi dengan cara yang membuat menyimpan tidak lagi terasa lebih aman dari mengeluarkan — adalah seseorang yang ia ingin ada di dekatnya."
Arka menatapku.
Lama.
Dengan cara yang sudah beberapa kali terjadi tapi kali ini berbeda karena konteksnya berbeda — bukan di tengah krisis, bukan di lorong yang mendesak, bukan di meja rapat dengan dokumen di antara kami.
Di bangku kayu di bawah pohon besar di taman botani di Sabtu pagi.
Kopi yang sudah dingin.
Burung yang masih bernyanyi di suatu tempat.
"Rina." Suaranya keluar dengan cara yang sudah aku kenali sebagai cara ia bicara ketika tidak ada lapisan di antaranya. "Aku ingin mencoba. Bukan dengan cara yang seperti dulu. Bukan dari tempat yang sama. Tapi dengan cara yang sudah kita berdua tahu lebih baik dari sebelumnya." Satu jeda. "Kalau kamu mau."
Dua kata terakhir.
Kalau kamu mau.
Bukan aku harap kamu mau atau aku butuh kamu mau atau apapun yang menaruh beban di tempat yang tidak seharusnya.
Hanya — kalau.
Ruang yang sungguh-sungguh terbuka untuk jawaban apapun.
Aku menatap taman di depan.
Pohon-pohon yang sudah lama ada. Jalan setapak yang sudah dilalui banyak orang sebelum kami. Kolam kecil yang airnya bersih.
Ada sesuatu yang pernah kutulis di buku catatan lama yang sekarang ada di dalam tas.
Bukan di halaman yang aku tunjukkan ke Arka tadi.
Di halaman yang jauh lebih awal — di salah satu malam pertama di kota ini, waktu masih banyak yang belum jelas.
Kekuatan tidak datang dari mulut orang lain.
Dan pilihan tidak datang dari kepastian bahwa semuanya akan berjalan sempurna.
Pilihan datang dari — ini yang aku mau, dengan semua yang aku tahu, dari tempat yang aku berdiri sekarang.
"Ya," kataku.
Satu suku kata.
Yang tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Yang datang dari tempat yang sudah jauh berbeda dari perempuan yang dua belas minggu lalu berdiri di depan cermin kecil di balik pintu kamar kos dan bertanya apakah ia terlihat siap.
Arka tidak bereaksi dengan cara yang berlebihan.
Tidak ada yang perlu dirayakan dengan cara yang dramatis.
Hanya — napas yang dilepaskan dengan pelan. Dan sesuatu di caranya duduk yang sedikit berubah — bukan lega seperti seseorang yang sudah lama menahan sesuatu, tapi tenang seperti seseorang yang baru sampai di tempat yang sudah lama ingin dicapai dan menemukan bahwa tempat itu ada.
"Ada yang ingin aku pastikan," kataku sebelum momen ini bergerak ke tempat lain.
"Tanya."
"Ini bukan kembali ke yang dulu." Aku menatapnya langsung. "Yang dulu sudah selesai. Ini sesuatu yang baru. Dari titik yang berbeda, dengan cara yang berbeda."
"Ya." Tanpa ragu.
"Dan kalau ada hari di mana sesuatu dari yang dulu terasa berat — aku akan bilang. Aku tidak akan menyimpannya."
"Aku juga tidak akan." Matanya langsung. "Itu yang aku minta untuk diri sendiri juga. Tidak menyimpan sampai lupa cara mengeluarkan."
Kami menatap satu sama lain.
Di antara kami — semua yang sudah terjadi. Semua yang sudah selesai. Dan sesuatu yang baru yang baru saja dimulai dari bangku kayu di bawah pohon besar ini.
Ia mengulurkan tangannya.
Bukan gestur yang meminta — hanya ada. Terbuka.
Aku menatap tangannya sebentar.
Tangan yang pernah memegang folder tipis dari dalam jaketnya di ruko distrik selatan. Yang pernah meletakkan kartu di atas map cokelat di basement. Yang pernah memegang cangkir teh yang sudah dingin di rumah Dian sambil mendengarkan.
Aku meletakkan tanganku di atasnya.
Bukan dengan cara yang memulai sesuatu yang besar.
Hanya — ada. Di sana. Dengan cara yang terasa tepat dari tempat yang aku berdiri sekarang.
Kami duduk di bangku itu.
Taman botani yang terus berjalan dengan ritmenya — burung yang masih bernyanyi, angin yang bergerak, seseorang yang melintas di jalan setapak di kejauhan.
Tidak ada yang perlu diucapkan untuk beberapa saat.
"Dinda akan senang," kataku akhirnya.
Pelan. Bukan untuk menyedihkan momen ini — tapi karena ia layak ada di sini. Di momen yang tidak pernah bisa ia lihat langsung tapi yang sebagian ada karena ia pernah menulis sesuatu dengan pena biru dan menitipkannya kepada seseorang yang menyimpannya empat tahun.
Arka tidak langsung menjawab.
Menatap pohon di depan.
Cara seseorang yang menerima nama itu di momen yang berbeda dari biasanya — bukan dengan berat yang dulu, tapi dengan sesuatu yang lebih ringan meskipun tidak lebih kecil.
"Ya," katanya akhirnya. Pelan. "Ia akan."
Hening yang bukan kekosongan.
Hening yang penuh dengan hal-hal yang tidak perlu diucapkan karena sudah ada.
Kemudian Arka berkata satu hal lagi.
Tidak ke aku secara langsung — lebih ke udara di antara pohon-pohon itu, ke pagi Sabtu yang tidak terburu-buru, ke sesuatu yang tidak ada secara fisik tapi terasa cukup nyata untuk diajak bicara.
"Aku ingat, Din."
Tiga kata.
Aku tidak melepaskan tanganku.
Membiarkan kalimat itu ada di udara di antara pohon-pohon itu.
Matahari yang sudah naik lebih tinggi.
Cahaya yang berubah dari biru muda ke putih hangat.
Taman yang terus hidup dengan caranya sendiri.
Kami duduk di sana sampai kopi yang sudah lama habis tidak lagi terasa relevan.
Sampai jalan setapak di depan mulai lebih ramai dari pagi.
Sampai ada seseorang di kejauhan yang tertawa tentang sesuatu yang tidak kami dengar.
Dan kami berdua — secara bersamaan, tanpa direncanakan — berdiri.
Bukan karena ada yang menunggu.
Tapi karena kaki yang sudah terlalu lama duduk ingin berjalan.
Dan taman botani ini masih punya banyak jalan setapak yang belum dilewati.
Kami melanjutkan berjalan.
Bersama.
Tidak dengan tahu pasti ke mana.
Tapi dengan tahu siapa yang berjalan.
Dan dari tempat mana masing-masing sudah datang.
Dan bahwa jalan setapak di depan — meskipun tidak selalu lurus, meskipun kadang berkelok ke arah yang tidak diantisipasi — sudah cukup jelas untuk diinjak.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Cara yang paling jujur untuk berjalan.
Di tas kain yang aku bawa —
Buku catatan lama yang hampir penuh.
Dan buku catatan baru yang masih banyak halaman kosongnya.
Keduanya ada.
Keduanya bagian dari hal yang sama.
Dan halaman-halaman kosong itu —
Tidak menunggu untuk diisi dengan sesuatu yang pasti.
Hanya menunggu untuk diisi dengan sesuatu yang nyata.
Apapun yang datang.
Dengan cara yang dipilih.
Oleh perempuan yang datang ke kota ini dengan satu koper.
Dan menemukan bahwa hidup — ternyata — tidak pernah tentang seberapa banyak yang kamu bawa.
Tapi tentang seberapa jujur kamu berjalan.
SELESAI
Untuk semua perempuan yang pernah berdiri di depan cermin dan bertanya apakah mereka sudah cukup siap —
Jawabannya selalu: kamu sudah cukup.
Mulailah.






















Tulis Komentar di Bawah ini!