š» Allah turunkan An-Nasr saat Rasulullah menang. Bukan untuk merayakan, tapi untuk mengingatkan bahwa kemenangan adalah awal dari ujian yang lebih besar.
Dalam QS. An-Nasr ayat 1-3, Allah berfirman:
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat."
(QS. An-Nasr: 1-3)
Lihat konteksnya.
Surah ini turun saat Rasulullah ļ·ŗ meraih kemenangan besar—Fathu Makkah.
Makkah yang dulu mengusir beliau...
Kini ditaklukkan tanpa pertumpahan darah.
Musuh yang dulu menyiksa...
Kini meminta ampun.
Kemenangan total.
Tapi yang Allah perintahkan bukan merayakan.
Bukan pamer.
Bukan sombong.
Tapi:
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya."
Tasbih = mensucikan Allah.
Istighfar = memohon ampun.
Artinya?
Saat kamu menang...
Jangan lupa bahwa itu dari Allah.
Jangan sombong.
Tapi semakin rendah hati.
Semakin banyak beristighfar.
š» Kamu menang tapi lupa bersyukur. Padahal kemenangan tanpa syukur hanya akan membuatmu sombong.
Coba renungkan...
Berapa banyak yang sudah kamu raih?
Kesuksesan apa yang sudah kamu capai?
Kemenangan apa yang sudah kamu dapat?
Dan berapa banyak...
Syukur yang kamu ucapkan?
Istighfar yang kamu panjatkan?
Kerendahan hati yang kamu jaga?
Rasulullah ļ·ŗ setelah menerima surah ini...
Semakin banyak beristighfar.
Aisyah r.a. berkata:
"Rasulullah ļ·ŗ setelah turun surah An-Nasr, sering sekali mengucapkan: 'Subhanakallah wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik' (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji-Mu, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya?
Semakin tinggi kesuksesanmu...
Semakin banyak seharusnya istighfarmu.
Karena kesuksesan bisa jadi ujian yang lebih berat dari kegagalan.
š» Jangan ukur keberhasilanmu dari seberapa tinggi posisimu. Tapi dari seberapa rendah hatimu.
Aku paham...
Kadang yang paling sulit bukan meraih kesuksesan.
Tapi tetap rendah hati setelahnya.
Kadang yang paling berat bukan menang.
Tapi tidak sombong setelah menang.
Tapi dengar baik-baik...
Kemenangan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kamu naik.
Tapi dari seberapa rendah hati kamu tetap.
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
"Keagungan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang merebut salah satunya, maka Aku akan menyiksanya."
(HR. Muslim)
Artinya?
Kesombongan adalah wilayah Allah.
Kalau kamu sombong...
Kamu sedang merebut hak Allah.
Jadi jangan pernah sombong.
Meski kamu sudah di puncak.
š» Kembalilah pada istighfar. Karena di situlah tanda orang yang menang dengan benar.
Pernahkah kamu berpikir...
Kenapa Allah perintahkan istighfar saat menang?
Karena saat kamu menang...
Ada bahaya tersembunyi:
- Sombong - merasa hebat karena usahamu
- Lupa - lupa bahwa semua dari Allah
- Lalai - sibuk menikmati sampai lupa beribadah
Dan istighfar adalah obatnya.
Istighfar mengingatkanmu bahwa kamu tetap hamba yang lemah.
Istighfar menjagamu dari kesombongan.
Istighfar membuatmu tetap dekat pada Allah.
Meski kamu di puncak.
š» Jangan sia-siakan kemenanganmu dengan kesombongan. Syukuri dengan kerendahan hati.
Hari ini...
Aku ingin kamu tahu satu hal penting:
Kemenangan yang kamu raih...
Bukan karena kehebatanmu semata.
Tapi karena Allah yang memberi.
Jadi jangan sombong.
Tapi semakin rendah hati.
Jangan lupa.
Tapi semakin banyak bersyukur.
Jangan lalai.
Tapi semakin dekat pada Allah.
š» Kembalilah pada kerendahan hati. Di sanalah kemenangan yang sesungguhnya.
Mungkin hari ini kamu sudah di puncak.
Sudah meraih semua yang kamu inginkan.
Sudah mendapat kemenangan besar.
Tapi dengar...
Jangan lupa untuk:
- Bertasbih - mensucikan Allah, bukan dirimu
- Beristighfar - memohon ampun, karena kesuksesanmu mungkin membuatmu lalai
- Rendah hati - tetap merasa sebagai hamba yang lemah
Karena itulah yang Rasulullah ļ·ŗ lakukan.
Saat beliau meraih kemenangan terbesar.
š» Jangan lelah untuk terus beristighfar. Karena semakin tinggi kamu, semakin butuh istighfar.
Hari ini, Allah tidak memintamu tidak boleh sukses.
Dia tidak memintamu tidak boleh menang.
Dia hanya memintamu... rendah hati.
Rendah hati saat menang.
Bersyukur saat sukses.
Beristighfar saat di puncak.
Karena itulah...
Cara menjaga kemenangan.
Cara mensyukuri kesuksesan.
Cara tetap dekat pada Allah.
Meski kamu di atas.
š» Jangan sia-siakan kesuksesanmu dengan lupa pada Allah. Kembalilah pada-Nya.
Hari ini...
Ambil napas dalam-dalam.
Peluk dirimu yang mungkin sudah sukses.
Bisikkan pelan:
"Ya Allah, Engkau yang beri aku kemenangan ini. Jangan biarkan kesuksesanku membuatku sombong. Jangan biarkan kemenanganku membuatku lupa pada-Mu. Jadikan aku semakin rendah hati. Semakin banyak beristighfar. Dan semakin dekat pada-Mu."
Lalu bangkit.
Mulai dari sekarang.
Berhenti sombong dengan kesuksesanmu.
Mulai rendah hati.
Berhenti lupa pada Allah.
Mulai perbanyak istighfar.
Berhenti merasa hebat.
Mulai sadari bahwa semua dari Allah.
Karena Allah ajarkan...
Bahwa saat kamu menang...
Bukan waktunya untuk sombong.
Tapi waktunya untuk:
Bertasbih - mensucikan Allah.
Beristighfar - memohon ampun.
Rendah hati - tetap merasa sebagai hamba.
Dan percayalah...
Kemenangan yang disyukuri dengan benar...
Akan bertambah.
Kesuksesan yang dijaga dengan istighfar...
Akan berkah.
Kesombongan yang dijauhi dengan tasbih...
Akan membawa ketenangan.
Jadi jangan pernah lupa...
Bahwa setiap kemenangan adalah ujian.
Setiap kesuksesan adalah amanah.
Setiap pencapaian adalah tanggung jawab.
Untuk semakin dekat pada Allah.
Bukan semakin jauh.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan... maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat."
(QS. An-Nasr: 1-3)
š "Saat kamu menang, jangan sombong. Tapi semakin rendah hati. Semakin banyak beristighfar. Karena kemenangan sejati... bukan diukur dari seberapa tinggi kamu naik, tapi dari seberapa dekat kamu pada Allah."
Komentar
Posting Komentar